LombokPost - Pengoperasian mesin insinerator hibah di Kota Mataram menghadapi kendala serius, yaitu kebutuhan daya listrik yang sangat besar. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi, mengungkapkan bahwa mesin tersebut membutuhkan daya hingga 33 ribu KW, sementara pasokan yang tersedia saat ini hanya 2 ribu KW.
"Kami masih butuh daya yang banyak biar bisa dioperasikan," kata Nizar.
Ia menambahkan, penambahan daya juga diperlukan untuk dua unit insinerator lain yang akan ditempatkan di TPS Sandubaya.
"Total kebutuhan daya untuk ketiga alat itu sekitar 7.000 watt," ujarnya.
Selain insinerator hibah dari Pemprov, Pemkot Mataram juga akan memindahkan insinerator dari RS Moh Ruslan.
Mesin ini, yang menggunakan bahan bakar solar, memiliki kapasitas 10 ton per hari dan saat ini sedang menunggu teknisi untuk proses pemindahan.
Menurut Nizar, efektivitas insinerator ini sangat menjanjikan. Dalam uji coba, lima ton sampah yang dibakar hanya menghasilkan kurang dari setengah karung abu. Abu hasil pembakaran ini pun dapat dimanfaatkan kembali.
"Tidak ada dampak limbah karena itu hanya debu hasil pembakaran. Abu itu bisa dibuat menjadi vest batako agar tidak terbuang," jelasnya.
Dari sisi efisiensi anggaran, penggunaan insinerator ini juga sangat menguntungkan. Nizar memperkirakan penghematan bahan bakar minyak (BBM) saja bisa mencapai Rp 79 juta per tahun per mesin.
Jika ditambah penghematan dari biaya perawatan dan pemeliharaan, total penghematan bisa mencapai Rp 100 hingga Rp 150 juta.
Editor : Siti Aeny Maryam