LombokPost - Peningkatan kasus penyakit tidak menular (PTM) kini menjadi perhatian serius, bahkan trennya mulai bergeser dari orang tua ke kelompok usia produktif dan remaja. Perubahan gaya hidup dan pola konsumsi menjadi faktor utama yang memicu penyakit-penyakit degeneratif seperti hipertensi dan diabetes, yang seringkali disebut sebagai 'pembunuh diam-diam' atau silent killer.
“Dulu itu (penyakit PTM) orang tua, sekarang ini sudah beralih kepada usia produktif. Justru orang dewasa maupun mulai dari anak-anak remaja sudah mulai tren itu,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram Emirald Isfihan.
Ia menjelaskan, banyak orang tidak menyadari dirinya mengidap hipertensi atau kolesterol karena jarang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin.
Emirald menekankan, PTM merupakan penyakit yang sangat berkaitan dengan pola dan gaya hidup modern. Salah satu penyebabnya adalah pola konsumsi makanan yang tidak sehat, seperti penggunaan bahan-bahan tidak organik dan pengawet.
“Makanya kita mengedepankan yang namanya Germas, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Salah satunya adalah bagaimana pola gizi itu harus seimbang," ujarnya.
Baca Juga: Dikes Mataram Berikan Trauma Healing dan Layanan Kesehatan Pascabencana Banjir
Ia juga menyoroti kebiasaan masyarakat saat ini yang kurang aktif secara fisik. Pekerjaan di kantor dan kegiatan santai seperti rebahan sambil scroll media sosial membuat banyak orang kekurangan aktivitas fisik.
“Sehingga ini memang harus ditingkatkan gaya hidup kita, pola hidup kita sehat itu mulai dari berolahraga, tidak mesti olahraga yang memang berat, tapi olahraga yang rutin keseharian kita saja," tambahnya.
Menurut Emirald, olahraga yang paling ringan dan mudah dilakukan adalah jalan sehat atau jogging. Secara teori, untuk menjaga kesehatan, seseorang harus berolahraga setidaknya 150 menit per minggu. Jika dilakukan 30 menit sehari, itu membutuhkan lima hari dalam seminggu.
Selain pola makan dan aktivitas fisik, istirahat yang cukup juga menjadi kunci. Emirald menegaskan pentingnya tidur malam 6-8 jam sehari.
“Ada penelitian yang mengatakan kalau Anda pilihannya adalah kurang tidur atau rajin olahraga, mana yang beresiko? Orang kurang tidur. Walaupun dia rajin olahraga tapi dia kurang tidur itu sangat beresiko," jelasnya.
Baca Juga: Pertama di NTB, RS Kota Mataram Luncurkan Program Wisata Medis dalam Medical Tourism Board
Menyikapi tren ini, Pemkot Mataram juga mulai melakukan intervensi di sekolah-sekolah dengan program kantin sehat. Tujuannya bukan hanya memastikan makanan aman dari bahan berbahaya seperti boraks, tetapi juga mengendalikan kandungan gizi seperti gula dan lemak yang tinggi.
“Itu yang harus kita waspadai sebagai orang tua,” pungkasnya.
Seperti yang dikatakan, dr Yusra Pintaningrum bahwa penyakit tidak menular seperti jantung salah satunya di Kota Mataram menunjukkan peningkatan yang signifikan. Trennya kini banyak menyerang usia produktif, yakni antara 30 hingga 40 tahun.
"Tren penyakit jantung koroner sudah mulai banyak di usia muda," kata dr. Yusra.
Mengenai jumlah pasti pasien jantung, dr. Yusra tidak mengingatnya secara detail. Namun, berdasarkan data yang telah dihimpun, tren yang jelas terlihat adalah peningkatan kasus pada kelompok usia 30 hingga 40 tahun. Mayoritas pasien pada kelompok usia ini memiliki riwayat merokok.
Fenomena ini menjadi perhatian serius mengingat implikasinya terhadap kualitas hidup dan produktivitas generasi muda.
Lebih lanjut, dr. Yusra menjelaskan, rokok menjadi penyebab utama tingginya kasus jantung koroner di kalangan usia muda. “Rokok itu nomor satu penyebabnya," ujarnya.
Selain itu, hipertensi atau tekanan darah tinggi juga menjadi faktor risiko yang signifikan. Ia bahkan menyebut hipertensi sebagai silent killer karena seringkali tidak menunjukkan gejala namun berpotensi mematikan. “Itu yang paling banyak sekarang, itu tantangan kita,” tandasnya. (chi)
Editor : Jelo Sangaji