Senja yang Tak Sepi di Panti Jompo Mandalika (2-bersambung)
Di Panti Sosial Lanjut Usia Mandalika, Mataram, ada sosok lain yang tak kalah menarik. Ia adalah Papuk Mahnep, seorang lansia yang menyambut hari-harinya dengan penuh keceriaan.
SANCHIA VANEKA, Mataram
Dengan daster ungu yang melekat di tubuhnya, ia melangkah santai keluar dari kamar, lalu mendekati Papuk Sapinah yang duduk di gazebo.
Dengan percaya diri, ia memperkenalkan diri dengan nama yang panjang, Mahnep Siti Fatimah Ida Laila.
Namun, ketika disanjung karena namanya yang bagus dan panjang, ia justru terkekeh. Rupanya, itu hanya julukan yang dibuatnya sendiri.
“Mahnep aja sih,” katanya sambil terkekeh renyah, memperlihatkan beberapa giginya yang sudah ompong.
Di usianya yang sudah menginjak 70 tahun, Papuk Mahnep sudah hampir tiga tahun tinggal di panti jompo ini. Dirinya mengaku betah dan merasa jauh lebih sehat. Salah satu buktinya, berat badannya sekarang sudah mencapai 75 kilogram. Menurutnya, pola hidup teratur di panti sangat cocok untuknya.
“Makan rutin tiga kali sehari, minum air dua botol tanggung setiap hari," ungkapnya.
Baca Juga: Dinsos NTB Tinjau Kondisi Lansia di Sekaroh, Siapkan Langkah Pemenuhan Bantuan Sosial
Selain makan teratur, ia juga tak perlu repot memasak atau mencuci. Hidupnya terasa lebih ringan, meski sesekali pahanya terasa pegal. Untuk meredakannya, ia punya cara sederhana. Ia akan melipat baju-bajunya yang sudah kering. Kegiatan ini, katanya, bisa membuat tubuhnya lebih rileks dan otot-ototnya tak lagi kaku.
“Kalau cuci ada yang nyuciin, nanti kalau sudah kering saya yang lipat disini,” ucapnya.
Namun, yang paling unik dari Papuk Mahnep adalah semangat mudanya yang tak pernah pudar. Setiap hari, ia akan bersolek. Bedak dan gincu merah menjadi seragam wajibnya. Bisa dibilang, empat hingga lima kali dalam sehari ia akan memoleskan bedak ke kulit wajahnya yang kian keriput, dan lipstik bahkan sampai mandi pun ia bisa tiga kali sehari. Setelah Subuh, Zuhur, dan Asar.
“Demen aku, enak rasanya. Cintaku lenganku becik (Saya suka, itu kecintaan saya sejak masih kecil),” katanya dalam bahasa Sasak, menjelaskan bahwa merias diri sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya sejak muda.
Ia bahkan memamerkan rambutnya yang dipenuhi uban. Meski sudah menua, rambutnya masih lembut dan harum, berkat kerajinannya menggunakan sampo.
Baca Juga: Empati Banjir, Gubernur NTB Lantik Pj Sekda Faozal di Lapangan Panti Jompo
“Enggak pegal kalau mandi. Hanya kadang terasa nyut-nyutan,” terangnya.
Dengan jiwa yang masih terasa muda, Papuk Mahnep mengaku pesonanya masih menarik perhatian. Banyak kakek-kakek dan laki-laki paruh baya di panti yang menaksirnya. Namun, ia hanya menyukai satu pria.
“Yang lain suka kentut sembarangan suaranya pret pret pret. Cuma Husein yang saya pacarin,” katanya dengan sambil tertawa terbahak-bahak.
Ternyata, semangat muda dan pesonanya itu bukan hal baru. Konon katanya, di masa mudanya Papuk Mahnep memang 'kembang desa', banyak disukai para lelaki. Dulu, ia sering menjadi pusat perhatian ketika ada pertunjukan kecimol (grup musik tradisional Lombok). Ia akan berjoget, sementara orang-orang menggendongnya dan ia menjadi tontonan.
“Saya yang ditonton orang,” kenangnya sambil tersenyum bangga. (bersambung)
Editor : Siti Aeny Maryam