Lombok Reptile tidak hanya memperkenalkan reptil, tapi cara penanganannya yang tepat.
Ketua Lombok Reptile Syafrudin mengatakan, pihaknya sengaja memilih CFD sebagai lokasi edukasi soal reptil.
Hal itu lantaran ada ribuan warga dari berbagai kalangan hadir di kegiatan tersebut.
Sehingga edukasi yang diberikan komunitas Lombok Reptile bisa menyentuh secara luas.
“Lombok Reptile hadir memberikan edukasi dan memperkenalkan cara penanganan yang benar terhadap hewan-hewan reptil kepada masyarakat,” ujarnya.
Edukasi yang dilakukan Lombok Reptile menggunakan metode soft approach.
Yakni pendekatan ramah, tenang, dan menyenangkan yang berhasil menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus mengurangi stigma negatif terhadap reptil.
Dampaknya terasa positif, terutama bagi anak-anak dan keluarga.
Mereka dapat belajar secara langsung mengenai keberagaman satwa di sekitar kita.
“Kami ingin warga, khususnya anak-anak belajar bahwa reptil bukanlah hewan yang menakutkan. Dengan pengetahuan yang benar, mereka bisa memahami peran reptil dalam ekosistem dan tumbuh menjadi generasi yang lebih peduli,” jelasnya.
Namun kata Syafrudin, suasana positif ini sempat tercoreng dengan adanya pertunjukan monyet yang dipaksa melakukan atraksi demi mendapatkan uang dari pengunjung.
Saat ditemui, pelaku pertunjukan menyebut bahwa dia hanya bekerja dan monyet yang digunakan merupakan hewan sewaan.
“Meski demikian, praktik ini tetap dinilai tidak pantas dan dapat merusak citra CFD sebagai kegiatan yang bernuansa sehat dan kekeluargaan,” tegasnya.
Lebih lanjut dikatakannya, hal ini menjadi pengingat penting bahwa kesadaran masyarakat juga memegang peran besar.
Selama masih ada yang memberikan donasi untuk pertunjukan yang mengeksploitasi hewan, praktik tersebut akan terus berlangsung.
Karena itu, sudah saatnya masyarakat bersama-sama menolak dan tidak mendukung pertunjukan yang merugikan kesejahteraan hewan.
Kesadaran terhadap kebajikan hewan perlu diterapkan, demi menjaga CFD tetap menjadi ruang publik yang positif, ramah keluarga, dan edukatif.
Lombok Reptile sendiri merupakan organisasi yang baru berdiri awal tahun 2025.
Namun sudah punya lebih dari 35 anggota aktif hingga saat ini.
Editor : Kimda Farida