Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dari Lombok ke Seoul, Wayang Sasak Buktikan Diri Jadi Duta Perdamaian Global

Lombok Post Online • Selasa, 7 Oktober 2025 | 14:47 WIB

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
.

LombokPost — Jauh dari hiruk-pikuk Lombok, seni tradisi Wayang Sasak berhasil menciptakan gelombang emosi dan pengakuan di panggung internasional.

Melalui pertunjukan sederhana bertajuk "Benih Perdamaian Dari Timur," Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) sukses mengguncang dua forum bergengsi di Korea Selatan.

Lakuan ini membuktikan seni tradisi memiliki daya magis menjembatani perbedaan dan menumbuhkan harapan.

SPWS tak membawa pesan mendalam tentang perdamaian dunia yang membuat penonton terkesima! Mereka justru menggunakan kisah epik dan inovasi visual untuk menyentuh hati audiens global.

Di tengah situasi global yang masih memanas, SPWS memilih menyuarakan harapan melalui lakon yang mengisahkan perjalanan Umar Maye, utusan Raja Jayeng Rane, yang membawa Kembang Dangar dari Lombok untuk mencari obat mujarab bagi perdamaian dunia.

Perjalanan epiknya berujung pada pertemuannya dengan Raja Dangun di Korea. Raja Dangun menyambutnya dengan bunga Mugunghwa, bunga kebangsaan Korea. Dua bunga Dangar dari timur dan Mugunghwa dari barat diramu menjadi bibit perdamaian yang siap disebar.

Pertunjukan ini dipentaskan di dua forum: Forum Internasional Festival Chongyang di Kota Namwon (22 September 2025) dan Forum Penghargaan Internasional Jeonju untuk Promosi Kekayaan Budaya Takbenda (JIAPICH) di Jeonju (24 September 2025).

Magis Wayang Sasak Sentuh Akademisi dan Bayi

Dampak emosional pertunjukan ini meluas, menjangkau akademisi ternama hingga anak-anak. Profesor Ghil'ad Zuckermann, Ketua Dewan Juri JIAPICH 2025 dari Oxford, memberikan pujian tertinggi.

“Pertunjukan Sekolah Wayang Sasak di Namwon dan Jeonju, Korea Selatan, sangat mendalam sekaligus menghibur. Ini adalah mekanisme yang luar biasa untuk mendorong perdamaian dan harmoni di dunia kita yang terpecah belah,” tuturnya.

Resonansi budaya Wayang Sasak bahkan menyentuh naluri terdalam manusia. Dan Kwon, warga negara Jerman keturunan Korea, berbagi kisah mengharukan tentang anaknya yang baru berumur 10 bulan.

“Saat acara berlangsung anak saya tertidur, tapi begitu mendengar musik Wayang Sasak, dia terbangun dan menonton pertunjukan hingga berakhir,” kata Dan Kwon.

Seorang aktivis, Shinwa Hong dari Pusat Penelitian Kekayaan Budaya Takbenda Korea (CICS), yang mengundang SPWS, turut tersentuh.

"Pertunjukan itu bisa dinikmati semua kalangan, tak hanya bagi saya yang dewasa, saya melihat anak-anak juga menikmati pertunjukan dengan pesan sederhana yang sangat mendalam,” ujarnya.

Sutradara sekaligus Pendiri SPWS, Fitri Rachmawati, mengungkapkan rahasia di balik sukses ini adalah gabungan antara tradisi dan inovasi.

Pertunjukan dimulai dengan Wayang Sasak klasik (bayangan hitam putih), kemudian layar diwarnai oleh Kembang Dangar dan Mugunghwa, dan puncaknya adalah inovasi Wayang Botol karakter Wa dan Tol yang muncul sebagai boneka tiga dimensi berinteraksi langsung dengan penonton.

Wa dan Tol berperan sebagai penyebar benih perdamaian, mengajak audiens anak-anak untuk terlibat dan disahkan sebagai 'pasukan perdamaian'.

KENALKAN BUDAYA: Seorang penonton yang sedang memegang wayang sasak dalam acara festival internasional di Korea, beberapa waktu lalu
KENALKAN BUDAYA: Seorang penonton yang sedang memegang wayang sasak dalam acara festival internasional di Korea, beberapa waktu lalu

"Wayang Sasak ternyata diterima publik internasional dan bisa turut serta bersuara atas persoalan-persoalan global," kata Fitri.

Kehadiran SPWS ke Korea tidak sia-sia. Selain sukses menggelar pertunjukan yang menyentuh, SPWS juga terpilih sebagai salah satu dari tiga lembaga yang memperoleh penghargaan JIAPICH 2025.

Kepala Sekolah Pedalangan Wayang Sasak Safwan, tak mampu menyembunyikan rasa syukur. “Alhamdulillah, ternyata Wayang Sasak bisa diterima oleh penonton internasional,” katanya. Namun, ia memiliki harapan besar untuk generasi muda Lombok. “Semoga anak-anak muda di Lombok tidak malu mengenali dan mendalami budayanya sendiri,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pedalangan Wayang Sasak Abdul Latief Apriaman, mendedikasikan penghargaan tersebut bagi para pendahulu yang menjaga kelestarian Wayang Sasak. “Hakikat Wayang Sasak bukan sekedar tontonan, tapi bermuatan tuntunan," tegasnya. Pengakuan internasional ini menjadi pengingat bagi Lombok bahwa harta budaya mereka adalah aset dunia. (SANCHIA VANEKA, Mataram/r9)

Editor : Marthadi
#internasional #perdamaian #wayang #Korea Selatan #Sasak