LombokPost - Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) modern Sandubaya Kota Mataram mendapat apresiasi tinggi dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).
Kunjungan ini membuahkan hasil positif, di mana Menteri LHK mendorong agar status TPST yang saat ini berupa Unit Pelaksana Teknis (UPT) dapat ditingkatkan menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
Peningkatan status TPST Sandubaya jadi BLUD ini diharapkan membuka peluang pengelolaan keuangan yang lebih mandiri dan berpotensi menghasilkan keuntungan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram Lalu Alwan Basri menyambut baik usulan dari Menteri LHK tersebut.
Menurutnya, perubahan status dari UPT ke BLUD merupakan langkah maju bagi pengelolaan sampah di Kota Mataram.
“Harapannya Pak Menteri nanti tidak saja menjadi UPT, tapi ditingkatkan statusnya menjadi BLUD TPST,” kata Alwan Basri, kemarin (13/10).
Baca Juga: Alat Berat Rusak Buat Sampah di TPST Sandubaya Sulit Terangkut, Pembenahan Jalan Masuk Perlu Dilakukan
Namun, Pemkot Mataram menegaskan bahwa peningkatan status ini harus dibarengi dengan pembangunan infrastruktur penunjang persampahan lainnya.
“Kita tingkatkan jadi BLUD asal nanti kita dapatkan juga dengan TPST yang baru juga untuk yang di Kebon Talo. Itu harapan kita," terangnya.
Peningkatan status TPST Sandubaya jadi BLUD dianggap penting karena akan membuka peluang bagi TPST untuk mengelola keuangannya secara mandiri.
Meskipun demikian, Sekda Alwan Basri menegaskan bahwa fokus utama tetap pada peningkatan pelayanan persampahan kepada masyarakat.
Ia menambahkan, Pemkot Mataram akan melakukan kajian mendalam untuk memastikan TPST Sandubaya benar-benar bisa menjadi sumber keuntungan.
"Tidak saja pelayanannya tapi juga menguntungkan dari segi profitnya," imbuhnya.
Baca Juga: Dinding TPST Modern Sandubaya Roboh Diterjang Banjir, Paving Block Hasil Olahan Ikut Hanyut
Alwan Basri menyampaikan terima kasih atas apresiasi Menteri LHK.
Apresiasi tersebut diberikan lantaran TPST Sandubaya dinilai telah menjalankan proses pengolahan sampah dengan baik, mulai dari pemilahan hingga menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi.
"Produk akhirnya itu pertama adalah magot, kemudian juga batako plastik, kemudian juga ada kompos. Ini juga diapresiasi oleh Pak Menteri," tandasnya.
Editor : Kimda Farida