Setelah sukses membesarkan Joki, aplikasi jasa kurir dan titip barang lokal yang lahir dari patah hati sebagai driver ojol, Moch Ariefin Nurdiansyah kini merambah bisnis kuliner dengan membuka coffee shop sekaligus hangout place bernama Kopi Joki (Kojo).
Menariknya, Kojo bukan hanya sekadar tempat makan 24 jam, tetapi menjelma menjadi ‘rumah’ bagi seniman dan musisi muda Mataram.
SANCHIA VANEKA, Mataram
Kojo, yang dibuka sejak 25 Januari 2025, merupakan wujud mimpi lama Ariefin yang tertunda sejak 2021 karena pandemi. Ide dasarnya sangat pragmatis dan berangkat dari kebutuhan para pejuang jalanan, yakni driver Joki sendiri.
“Joki itu kan kurir. Jadi pemikiran saya saat itu, kita punya kurir banyak nih. Mereka pengen ngopi, pengen ngerokok, pengen makan itu biar mereka mau kemana, ya sudah, di tempat kita sendiri,” kenang Ariefin, entrepreneur asal Bandung yang sudah menetap di Lombok sejak 2013.
Alasan kedua, datang dari pengalamannya sebagai founder yang sering bertemu dengan banyak orang.
“Saya juga kan sering ketemu orang, sering meeting gitu. Saya mikir, wah kalau saya meeting di tempat-tempat orang, kok nggak nyaman. Lebih baik punya tempat sendiri,” tambahnya.
Kojo menolak disebut kafe, resto, atau angkringan karena konsepnya yang terlalu luas. Menyediakan makanan berat dan beroperasi 24 jam, Ariefin memilih membiarkan masyarakat sendiri yang menamai tempat tersebut.
Namun, di balik konsep food and beverage (F&B) itu, Kojo menyimpan passion terbesar Ariefin yakni musik.
“Saya itu doyan musik, passion saya musik. Jadi saya memang punya mimpi, kalau saya buka usaha seperti ini, saya pengen bikin tempat musik yang bagus, yang proper, yang akhirnya bisa ngumpulin para seniman-seniman Mataram," ujarnya bersemangat.
Mimpi itu kini terwujud. Setiap hari, Kojo menampilkan pertunjukan musik dengan talent-talent muda Mataram. Puncaknya, Kojo sukses menggelar ajang ‘Kojo Idol’ pada Agustus lalu, sebuah lomba menyanyi kecil-kecilan namun berdampak besar.
“Luar biasa atensinya bagus banget. 80 persen orang Mataram, selebihnya ada orang Bima, Lotim, Sumbawa,” katanya.
Baca Juga: Kasus Penganiayaan WNA di Selong Belanak, Kedua Belah Pihak Sepakat Berdamai
Tak main-main, juara pertama Kojo Idol tidak hanya mendapat hadiah uang, tetapi juga mendapatkan kontrak produksi lagu dan video clip. Manajer Kojo, Awan, yang kebetulan adalah musisi Lombok sekaligus pemenang Java Jazz Festival 2018, didapuk menjadi pencipta lagu tersebut.
“Kita bantu untuk sounding lagunya keluar. Kita pengen nih dari Kojo juga ngasih lihat nih bakat-bakat terbaru di Mataram. Karena ternyata musisi Lombok ini enggak kalah keren kok dari kota-kota besar,” paparnya dengan bangga.
Kini, Kojo telah menjadi home base atau wadah bagi banyak musisi dan artis lokal. Setiap malam, mereka berkumpul, bertukar ide, dan membuat karya.
Di usia yang baru menginjak bulan kesembilan, Kojo telah menunjukkan perkembangan yang positif. Walaupun profit belum terlalu besar, Kojo telah berhasil membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas dengan total 32 karyawan yang terbagi dalam tiga shift operasional 24 jam. Keputusan beroperasi 24 jam bukan tanpa alasan.
Baca Juga: Jurang Jaler Makan Korban Lagi, Ibu-Anak Tewas Ditabrak Truk, Sopir Masih di Bawah Umur
“Saya tuh pengen, jangan sampai teman-teman muda kita mereka nongkrong di tempat yang enggak jelas. Ketimbang mereka nongkrong di pinggir jalan di Udayana, lebih baik nongkrong sini kalian,” jelasnya.
Ariefin, yang dulunya sempat berkecimpung di dunia musik sebagai pemain drum dan bahkan sempat masuk label di Bandung, kini memilih menjadi penikmat dan komentator. Namun, kecintaannya pada musik menjadi senjata Kojo.
Ke depan, Kojo berencana menjadikan Kojo Idol sebagai event rutin per enam bulan. Ariefin juga berharap Kojo bisa membuka cabang di banyak daerah dengan konsep yang sama. Intinya, Kojo harus terus menjadi rumah dan wadah bagi generasi muda Mataram. (*)
Editor : Marthadi