Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

EduBraille, Koper Kecil yang Buka Akses Belajar bagi Tunanetra

Lombok Post Online • Rabu, 29 Oktober 2025 | 13:32 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost - Ketika banyak anak bisa dengan mudah membuka buku, tak semua memiliki kemewahan yang sama.

Menyadari kesenjangan itu, enam siswi SMA Negeri 5 Surabaya menciptakan EduBraille, alat belajar portabel yang membuka jendela pendidikan bagi teman-teman tunanetra.

KEPEDULIAN enam siswi SMA Negeri 5 Surabaya terhadap akses pendidikan bagi penyandang tunanetra melahirkan inovasi bernama EduBraille.

Alat belajar huruf braille portabel itu dirancang untuk mempermudah anak-anak tunanetra belajar membaca, terutama mereka yang tinggal di luar kota besar.

Inovasi garapan Vania Azzahra Hanafi, Aluna Audreynia Zara, Aurellizema Az-Zahra Ghaeizaniz, Andhieni Zahra Calista, Febry Lathifa Putri Nasrulloh, dan Rayhana Anindya Putri Hidayat itu baru dirancang Juni lalu.

Tapi dalam empat bulan, EduBraille telah berhasil menyabet tiga penghargaan internasional. Yakni medali emas di International Science and Invention Fair (ISIF) 2025, medali emas dan CIIS Special Award di Malaysia Technology Expo (MTE) 2025, serta medali perak di Indonesia Inventors Day (IID) 2025.

Vania, ketua kelompok EduBraille, mengungkapkan bahwa dari data WHO, angka keterbatasan pengelihatan saat ini terus meningkat.

”Tapi teman-teman tunanetra masih banyak yang sulit mengakses pendidikan braille,” ujarnya pada Minggu (26/10).

Padahal pendidikan formal sangat bergantung pada kemampuan membaca.

Tanpa braille, pendidikan formal juga semakin sulit diakses. Dari sana lah inovasi tersebut lahir.

EduBraille berbentuk koper kecil berisi papan, panel braille, joystick, dan empat tombol. Tulisan di papan bisa dibunyikan lewat suara.

Baca Juga: Peringatan Sumpah Pemuda, Puan Maharani Ajak Generasi Muda Jaga Akal Sehat di Dunia Digital

”Kami sengaja bikin dalam bentuk portable box agar bisa dibawa ke mana-mana,” sambung perempuan yang masih duduk di bangku kelas XI itu.

Selain bentuknya yang compact, alat tersebut didesain dengan dua mode: mode belajar dan mode Braille Fact.

Dalam mode belajar, pengguna diperkenalkan pada bentuk huruf braille dari A–Z.

Setelah hafal, pengguna bisa naik ke level dua untuk belajar kata pendek. Baik dalam bahasa Indonesia atau pun bahasa Inggris.

BANTU TUNANETRA: Dari kiri, Aluna Audreynia Zara, Vania Azzahra Hanafi, Aurellizema Az Zahra Ghaeizaniz, Andhieni Zahra Calista, Febry Lathifa Putri Nasrulloh, dan Rayhana Anindya Putri Hidayat bantu.
BANTU TUNANETRA: Dari kiri, Aluna Audreynia Zara, Vania Azzahra Hanafi, Aurellizema Az Zahra Ghaeizaniz, Andhieni Zahra Calista, Febry Lathifa Putri Nasrulloh, dan Rayhana Anindya Putri Hidayat bantu.

Sementara untuk mode Braille Fact berisi latihan membaca sambil mempelajari informasi-informasi umum dari bidang biologi, astronomi, hingga sejarah.

Vania menambahkan, saat ini EduBraille masih berupa prototipe yang memakai lima panel braille karena keterbatasan bahan.

”Ada yang sesuai keinginan kami, tapi mahal karena harus impor,” katanya. Mereka akhirnya bekerja sama dengan produsen lokal yang bisa membuat panel dengan sistem selenoid agar biaya lebih murah, meski ukurannya sedikit lebih besar. (dya/ama/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#tunanetra #pendidikan #braille #muda #saham