LombokPost--Suasana hening yang khidmat menyelimuti Taman Makam Pahlawan (TMP) Majeluk, Kota Mataram.
Taman Makam Pahlawan Majeluk menyimpan banyak kisah.
Mereka adalah pejuang yang gugur, membentang dari tahun-tahun sebelum kemerdekaan hingga pemakaman yang masih berlanjut dalam beberapa tahun terakhir.
SANCHIA VANEKA, Mataram
Tepat sebelum masuk kedalam makam, peziarah harus melakukan hormat. Sebagai tanda bukti penghormatan ke pada para veteran.
Untuk memastikan nama-nama pahlawan ini tidak lekang oleh waktu dan mudah diakses oleh masyarakat, pengurus TMP Majeluk berinisiatif menciptakan sebuah monumen unik yang diberi nama Tembok Abadi.
Tembok Abadi ini bukan sekadar dinding, melainkan lembar sejarah yang terukir permanen.
Di sana, tercatat semua nama pahlawan yang dimakamkan, lengkap dengan tahun lahir hingga tahun wafat mereka.
Informasi ini terpajang dalam lempengan-lempengan kecil yang menegaskan sebuah filosofi kuat.
“Ini untuk mempermudah informasi. Jadi tahu nama-namanya, tahun lahir hingga wafat,” kata Rozi, menjelaskan bahwa inisiatif ini sangat membantu masyarakat dan keluarga yang mencari jejak leluhur mereka.
Filosofi 'abadi' merujuk pada ketetapan. Rozi menjelaskan,
“Nama-nama di sana itu kan nggak akan berubah sudah. Dan makam-makam itu juga nggak akan dirubah.”
Bahkan, area TMP ini telah direncanakan untuk mengalami pelebaran lahan, memperkuat konsep bahwa tempat peristirahatan terakhir para pahlawan ini adalah situs sejarah yang akan dijaga keasliannya.
“Ini di belakang masih ada tanah punya Pemda, jadi bisa dilebarkan. Karena nanti butuh makam yang baru kan ya,” jelasnya.
Sejarah yang tersimpan di Majeluk memiliki rentang waktu yang panjang.
Makam tertua di kompleks ini berasal dari pahlawan yang meninggal pada tahun 1962, berlanjut ke tahun 1967, 1977, hingga 1983.
Baca Juga: Raffi Undang Nesta, Panucci, dan Cambiasso Ikut Padel Wars, Ariel dan Desta Ikut Berpartisipasi
Namun, dedikasi terhadap pejuang bangsa tidak terhenti di masa lalu.
Rozi mencatat, hanya dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ia bertugas, sudah ada enam kali prosesi pemakaman pahlawan baru dilakukan.
“Iya, dari tahun 2021 saya di sini sudah enam kali saya dimakamkan,” ungkapnya.
Hal ini membuktikan bahwa perjuangan dan pengorbanan masa lalu tetap dihargai dan diabadikan hingga hari ini oleh negara dan keluarga.
Tak jarang juga, para veteran dan pejuang yang masih memiliki keluarga datang untuk berziarah.
“Ya ada aja, yang datang pagi sore,” ucapnya.
Tak jauh dari Tembok Abadi, berdiri tegak sebuah monumen berupa patung pejuang.
Baca Juga: Makam Pahlawan Majeluk Menyimpan Banyak Kisah
Patung ini, menurut cerita yang didengar Rozi, merupakan representasi dari seorang pejuang asal Lombok bernama Asegap.
Konon, makam Asegap berada tepat di bawah monumen gagah tersebut, menjadikannya simbol pengorbanan lokal yang dihormati.
“Kalau ga salah itu dari Dasan Agung dia,” ceritanya.
Lebih dari sekadar tempat peristirahatan, TMP Majeluk juga berfungsi sebagai sarana edukasi yang penting.
Secara rutin, tempat ini terbuka sebagai lokasi belajar bagi peserta didik, mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) hingga sekolah lainnya.
Baca Juga: Imbas Pemotongan TKD 370 Miliar, Pembangunan Kantor Wali Kota Mataram Terancam Mundur
Kunjungan ini bertujuan mempelajari dan meresapi semangat perjuangan para pahlawan secara langsung.
“Kita juga terima kunjungan peserta didik,” jelasnya.
Di sekeliling patung dan Tembok Abadi, hamparan rumput dan tanaman hias yang tertata apik memberikan suasana khidmat.
Baca Juga: Gantikan Ivan Juric, Atalanta Tunjuk Raffaele Palladino sebagai Manajer Baru
Tiap makam, dengan batu nisan sederhana dan penanda khusus seperti helm berwarna hijau, menjadi simbol penghormatan abadi.
Meskipun terbuka untuk umum, Rozi menekankan bahwa setiap kunjungan ke TMP Majeluk harus mengikuti prosedur yang berlaku.
“Misalnya kalau ada keluarga yang mau ke sini, tetap dia izin. Tetap kita disuruh tulis buku tamu, pencatatan,” katanya, mengingatkan bahwa tempat ini adalah saksi bisu perjuangan, yang harus dijaga dengan penuh adab dan kehormatan.
Editor : Kimda Farida