LombokPost–Pemerintah Kota (Pemkot Mataram) kini menghadapi protes keras dari Perum BULOG NTB terkait penggunaan lahan di dekat gudang penyimpanan beras di Sandubaya sebagai Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS Sandubaya Mataram).
Pasalnya, keberadaan tumpukan sampah harian yang kini mencapai 250 ton tersebut dinilai mengancam kualitas beras dan meningkatkan biaya operasional BULOG.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram, Lalu Alwan Basri, angkat bicara dan mengakui adanya surat keberatan tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa penggunaan lokasi TPS Sandubaya Mataram merupakan langkah darurat yang terpaksa dilakukan Pemkot Mataram akibat kerap kali ditutupnya Tempat Pembuangan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok.
Alwan menjelaskan, penutupan TPAR Kebon Kongok membuat Pemkot Mataram kehilangan lokasi pembuangan utama, padahal volume sampah Mataram harian kini mencapai sekitar 250 ton—meningkat signifikan dari volume sebelumnya yang berkisar 150 hingga 160 ton per hari.
“Sehingga satu-satunya jalan adalah itu yang kita punya lahan. Kita sementara ada di situ,” kata Alwan, kemarin (13/11).
Di sisi lain, Pimpinan Wilayah Perum BULOG NTB, Mara Kamin Siregar, mengungkapkan bahwa keberadaan TPS Sandubaya Mataram berdampak langsung pada beras yang tersimpan di gudang.
Menurut Siregar, bau busuk sampah dan serangan hama menjadi lebih cepat, sehingga meningkatkan cost perawatan. Perawatan beras yang sebelumnya dilakukan sekali dalam empat bulan kini harus dilakukan dua bulan sekali.
“Baunya dan hama yang paling cepat. Jadi akan mempengaruhi cost. Perawatan kita tetap lakukan dan cost akan lebih tinggi,” katanya.
Siregar menambahkan, kondisi penumpukan sampah sudah sangat parah dan melebihi batas pandang.
“Sudah lebih tinggi dari pagar,” tandasnya, seraya berharap Pemkot Mataram segera memindahkan lokasi TPS untuk menemukan solusi terbaik.
Alwan menambahkan, TPS Sandubaya Mataram hanyalah solusi sementara dan berharap ketika TPST Kebon Talo sudah terbangun, pembuangan sampah di lokasi tersebut akan berkurang drastis.