LombokPost - Isu pengangguran masih menjadi tantangan serius di Nusa Tenggara Barat (NTB) seiring dengan peningkatan jumlah angkatan kerja.
Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, tingkat pengangguran menunjukkan tren yang berbeda di setiap wilayah, dengan beberapa daerah mencatatkan persentase paling tinggi.
Secara keseluruhan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi NTB per Agustus 2024 menunjukkan tren penurunan yang positif menjadi 2,73 persen, menempatkan NTB di posisi yang cukup baik secara nasional.
Namun, jika dilihat per kabupaten/kota, terdapat ketimpangan yang mencolok.
Kota Mataram dan Lombok Timur: Wilayah dengan TPT Tertinggi
Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS NTB tahun 2024, ibu kota provinsi, Kota Mataram, tercatat memiliki persentase Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi di NTB.
Kota Mataram mencatat TPT sebesar 4,85 persen pada tahun 2024. Angka ini bahkan dilaporkan mengalami kenaikan tipis dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebagai pusat urbanisasi dan magnet bagi pencari kerja dari daerah sekitar, Kota Mataram menghadapi tantangan besar dalam menyerap tingginya pasokan tenaga kerja.
Meskipun persentase TPT Kota Mataram menjadi yang tertinggi, secara jumlah absolut, data BPS juga menyoroti Kabupaten Lombok Timur.
Lombok Timur dilaporkan memiliki jumlah pengangguran terbuka yang signifikan, mencapai sekitar 17.430 jiwa per tahun 2024, menjadikannya salah satu kabupaten dengan jumlah pengangguran tertinggi di NTB.
Hal ini mencerminkan tantangan besar terkait terbatasnya lapangan kerja di wilayah tersebut.
Tantangan di Ibu Kota: Urbanisasi dan Kesenjangan Kompetensi
Kenaikan TPT di Kota Mataram tidak terlepas dari dua faktor utama, sebagaimana diungkap oleh BPS:
1. Arus Urbanisasi: Mataram menarik banyak pencari kerja dari kabupaten/kota di Pulau Lombok dan sekitarnya. Arus migrasi ini menambah jumlah angkatan kerja yang belum terserap oleh pasar kerja formal.
2. Kesenjangan Kompetensi:*Sebagian besar pengangguran tercatat berasal dari lulusan pendidikan menengah ke bawah (SMA/SMK), yang mengindikasikan adanya ketidaksesuaian antara kompetensi tenaga kerja yang tersedia dengan kebutuhan industri saat ini.
Kepala BPS NTB mencatat bahwa pada Agustus 2024, TPT lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih merupakan yang tertinggi dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya secara umum di NTB.
Upaya Penurunan Angka Pengangguran
Meskipun tantangan pengangguran masih tinggi di beberapa daerah kunci, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi NTB terus berupaya menekan angka tersebut.
Program-program inovatif, seperti peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal dan inisiatif link and match dengan kebutuhan dunia usaha, terus digencarkan untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan mengurangi pengangguran di daerah seperti Lombok Timur dan Kota Mataram.
Langkah-langkah ini bertujuan agar angka pengangguran di NTB, yang secara keseluruhan sudah menunjukkan tren positif, dapat diikuti oleh seluruh kabupaten/kota secara merata.***
Editor : Fratama P.