LombokPost – Bencana abrasi di pesisir Kota Mataram kian mengkhawatirkan. Sekitar 15 rumah warga di Lingkungan Kampung Bugis, Kelurahan Bintaro, Ampenan, yang berdiri persis di garis pantai, kini berada dalam kondisi rusak parah.
Rumah-rumah tersebut mengalami kerusakan beragam, mulai dari tembok belakang yang jebol hingga dapur yang hancur tersapu ombak, membuat warga was-was menjelang puncak musim cuaca ekstrem akhir tahun.
Lurah Bintaro Rudy Herlambang membenarkan kondisi pelik ini. Kerusakan terparah menimpa rumah-rumah di sisi barat jalan yang, menurut Balai Wilayah Sungai (BWS), sudah masuk ke dalam garis pantai.
“Kalau kita bilang rusak ya rusak. Hancur dihantam ombak. Ada yang belakangnya, ada yang temboknya,” kata Rudy.
Masalah utama yang menghambat penanganan jangka panjang adalah status lahan tempat belasan rumah tersebut berdiri, yakni di atas Tanah GG (Governor Ground).
Status hukum ini membuat Pemerintah Daerah (Pemda) tidak dapat melakukan intervensi perbaikan secara permanen, meskipun kerusakan parah ini sudah terjadi bertahun-tahun sejak 2022 dan 2023.
”Dasar hukumnya dulu kita cari. Boleh nggak? Saat ini, siapa yang berani mengintervensi,” tegas Rudy.
Baca Juga: Abrasi Pantai Mataram Kian Kritis, Dana Darurat BTT Rp 5 Miliar
Satu-satunya langkah yang bisa dilakukan Kelurahan saat ini hanyalah memberikan bantuan darurat, seperti pemenuhan permintaan geobag dari warga untuk mitigasi sementara.
Upaya mitigasi sementara dari pemerintah telah dilakukan. BWS dan PU telah memasang batu boulder sepanjang 50 meter pada Februari lalu, dan diperkuat lagi 37 meter pada September.
”Alhamdulillah, batu boulder itu mengurangi hantaman gelombang yang begitu besar,” jelas Rudy.
Namun, celah yang belum tertangani membuat warga pesisir Bintaro kini justru berharap untuk direlokasi. Mereka tidak lagi meminta perbaikan, melainkan menginginkan hunian yang aman. Lurah Rudy Herlambang berharap rencana pembangunan dua tower Rusunawa baru di Bintaro dapat segera terealisasi.
“Mereka malah berharap, ‘Pak, kapan ada Rusun? Kami ingin ke sana’. Supaya mereka tenang,” tandasnya.
Menghadapi prediksi BMKG terkait puncak cuaca ekstrem pada Desember hingga Februari, imbauan kepada warga untuk selalu waspada menjadi langkah akhir yang bisa diberikan.