Sebagaimana dilaporkan oleh Spaceflight Now, Selasa (18/11), NASA menegaskan bahwa Sentinel-6B akan melanjutkan peran satelit kembarannya, Sentinel-6 Michael Freilich, yang diluncurkan dari lokasi yang sama hampir lima tahun lalu. Kedua satelit ini dibiayai bersama oleh Amerika Serikat (AS) dan Eropa dengan total nilai proyek mencapai USD 1 miliar (sekitar Rp 16,73 triliun).
Sentinel-6B, yang dibangun oleh Airbus Defence and Space di Jerman, dijadwalkan dilepaskan dari tahap kedua roket sekitar 57 menit setelah peluncuran. Satelit ini akan mengorbit pada ketinggian 830 mil (1.336 km) dengan kemiringan 66 derajat. Satelit ini menggunakan radar penetrasi awan untuk mengukur ketinggian permukaan laut dengan tingkat ketelitian hingga 1 inci.
Baca Juga: Blue Origin Sukses Luncurkan Satelit Kembar NASA untuk Meneliti Mars
Direktur Ilmu Bumi NASA, Karen St. Germain, menjelaskan pentingnya informasi yang akan dikumpulkan satelit tersebut.
“Informasi dari satelit itu memungkinkan kami memantau arus laut, tinggi gelombang, dan memberikan dasar bagi prediksi banjir untuk infrastruktur pesisir, real estate, serta fasilitas energi di sepanjang garis pantai,” jelas St. Germain.
Dengan masa operasi utama antara 5 hingga 6 tahun, Sentinel-6B akan memperkuat sistem pemantauan laut global yang krusial bagi negara-negara pesisir. Data-data yang dihasilkan akan menjadi dasar perencanaan mitigasi, kesiapsiagaan bencana, serta perlindungan ekonomi wilayah pesisir di berbagai belahan dunia.
Editor : Redaksi Lombok Post