General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) Rizki Aftarianto menyebut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 menargetkan porsi pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) mendekati 70 persen.
Besarnya potensi energi hijau ini, kata dia, hanya akan optimal jika seluruh provinsi terhubung melalui jaringan kelistrikan yang kuat.
“Di Bali kami siapkan 892 MW pembangkit EBT, di NTB 494 MW, dan di NTT 562 MW. Potensi ini akan maksimal bila kita bangun jembatan konektivitas energi yang menghubungkan seluruh sumber EBT,” ujar Rizki.
Ia memastikan PLN siap mendukung berbagai studi kelayakan untuk percepatan energi bersih, termasuk menopang sektor pariwisata lewat pengembangan green lifestyle.
MoU regional yang ditandatangani tiga gubernur itu menetapkan tiga fokus utama dalam klaster integration: pariwisata, energi, dan konektivitas.
Sementara tiga fokus dalam klaster cooperation meliputi ekonomi, logistik, serta kelembagaan dan inovasi.
Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal menegaskan bahwa Bali, NTB, dan NTT sepakat membangun ekonomi hijau dan biru untuk menjaga keberlanjutan lingkungan sebagai wilayah kepulauan yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
“Jika climate change tak terkendali, kita yang terdampak pertama. Karena itu kerja sama ini harus dijalankan konkret mulai 2026,” kata Iqbal.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menambahkan, NTT memiliki posisi strategis sebagai beranda selatan NKRI yang berbatasan dengan Australia dan Timor Leste. Penguatan listrik bersih menjadi kebutuhan mendesak untuk mendorong ekonomi daerah yang terus tumbuh.
“Kondisi makro NTT tahun 2025 tetap positif dengan pertumbuhan ekonomi 4,88 persen dan tingkat kemiskinan yang terus menurun ke 18,6 persen,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Bali I Wayan Koster menegaskan MoU BNN diarahkan untuk memperkuat integrasi kawasan ekonomi, meningkatkan konektivitas darat–laut–udara, serta membangun pariwisata berkelanjutan yang inklusif.
“Maksud kesepakatan ini untuk mendukung target pembangunan Kawasan Ekonomi Bali–Nusa Tenggara sebagai Super Hub Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bertaraf internasional,” kata Koster.
Kerja sama ini disebut menjadi fondasi baru bagi transformasi energi dan ekonomi hijau di tiga provinsi sekaligus memperkuat posisi Bali–NTB–NTT sebagai wilayah dengan visi pembangunan berkelanjutan yang sama. (*)
Editor : Marthadi