Ketua Umum PBNU nonaktif, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, dikabarkan siap melakukan islah atau rekonsiliasi dengan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar demi mencegah perpecahan di tubuh ormas Islam terbesar di Indonesia itu.
Sekjen PBNU Amin Said Husni mengatakan rekonsiliasi menjadi jalan konstitusional terbaik agar NU tetap solid.
“Gus Yahya bakal islah atau rekonsiliasi. Karena ini satu-satunya jalan untuk menghindari perpecahan,” ujarnya.
Menurut Amin, konflik harus segera dituntaskan agar tidak menimbulkan kegaduhan berkepanjangan, baik di internal NU maupun di tengah umat.
“Jika NU pecah, yang rugi bukan hanya pihak yang berselisih, tapi NU secara keseluruhan dan bangsa ini,” tegasnya.
Pemecatan dan Sikap Rais Aam
Sebelumnya, PBNU resmi memberhentikan Gus Yahya dari jabatan Ketua Umum pada 26 November 2025. Keputusan itu ditetapkan dalam Rapat Harian Syuriyah PBNU pada 20 November 2025.
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menegaskan keputusan pemberhentian tersebut sah secara kelembagaan. Ia menyebut 36 PWNU telah memberikan dukungan penuh untuk menindaklanjuti keputusan itu.
Menuju Muktamar Baru
Baik pihak Gus Yahya maupun KH Miftachul Akhyar disebut telah sepakat menyiapkan Muktamar NU guna memilih kepengurusan baru. Langkah ini diyakini menjadi titik temu untuk mengembalikan stabilitas organisasi dan meredam gejolak yang berpotensi memecah belah warga NU. (*)
Editor : Marthadi