Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Para Diaspora NTB saat Puasa Ramadan di Tanah Rantau, Baklava Turki Jadi Pengobat Rindu Cewin Akan Cerorot

Nurul Hidayati • Senin, 23 Februari 2026 | 10:55 WIB

 

TETAP SEMANGAT: Tanwir berfoto di depan Masjid Stichting Generasi Baru yang jaraknya 6,7 km dari tempat tinggalnya.
TETAP SEMANGAT: Tanwir berfoto di depan Masjid Stichting Generasi Baru yang jaraknya 6,7 km dari tempat tinggalnya.

LombokPost - Tiga puluh tiga tahun bermukim di Utrecht, Belanda tak melunturkan kerinduan mendalam Tanwir akan hangatnya suasana Ramadan di tanah kelahirannya, Praya.

Di tengah dinginnya suhu Benua Biru dan tantangan puasa di negara minoritas tersebut, Cewin panggilan akrab pria asal Lombok Tengah ini terus merajut rindu melalui Wijk Lombok, komunitas Muslim Indonesia.

Angin musim dingin berhembus kencang di sudut-sudut Kota Utrecht, Belanda. Suhu merayap di angka 5 hingga 10 derajat Celsius.

Bagi Tanwir, pria asal Praya, Lombok Tengah, cuaca seperti ini adalah tantangan fisik tersendiri saat menjalankan ibadah puasa.

Namun, bukan dingin yang paling menusuk kalbu, melainkan rasa rindu yang membuncah pada kampung halaman.

Tiga puluh tiga tahun bermukim di Utrecht, Belanda, Tanwir alias Cewin tak pernah benar-benar bisa melepas memori masa kecilnya di Praya.

Di tengah suhu dingin Benua Biru, ia merajut rindu pada suara Tahrim dan hangatnya Kelak Lebui, sembari berjuang membangun mercusuar iman di bekas tempat bermain anak.

"Setiap kali Ramadan tiba, jiwa saya seolah pulang ke Lombok," ujar pria yang akrab disapa Cewin.

Cewin adalah potret diaspora Sasak yang gigih.

Sejak hijrah dari pesisir Pantai Kuta pada 1993, ia telah menyaksikan perubahan zaman di Belanda.

Di negara dengan populasi 18,4 juta jiwa ini, umat Islam adalah minoritas sekitar 5 hingga 6 persen.

Maka, jangan harap menemukan kemeriahan ala Indonesia.

Di sini, Ramadan berjalan sunyi, hampir tak ada bedanya dengan hari-hari biasa.

Ironi Manis di Wijk Lombok

Ada sebuah keunikan di Utrecht. Jika rasa rindu pada suasana Islami memuncak, Cewin biasanya memacu sepeda buntutnya  menuju sebuah kawasan bernama Wijk Lombok (Distrik Lombok).

Ya, sebuah nama yang identik dengan tanah kelahirannya. Di sana, tepatnya di Damstraat dan Kanaalstraat, suasana Ramadan sedikit terasa lebih "berdenyut".

Di kawasan itu berdiri Ulu Camii Moskee, masjid megah milik komunitas Turki. Di sepanjang jalannya, toko-toko milik warga Turki dan Maroko berjajar menawarkan takjil khas mereka.

"Kalau di Lombok kita cari cerorot atau lupis, di sini kami akrab dengan baklava Turki yang manis atau chebakia khas Maroko yang legit ," cerita Cewin.

Namun, Wijk Lombok tetaplah bukan Praya. Tak ada suara "Sahur... Sahur!" yang bersahutan, pun tak ada lantunan Salawat Tahrim yang menggetarkan sebelum Subuh.

Untuk tahu waktu salat, Cewin harus setia memelototi kalender masjid atau aplikasi Muslim Pro di ponselnya. Azan hanya boleh berkumandang untuk duhur dan asar.

Ujian Iman di Balik 19 Jam

Ramadan tahun ini jatuh pada musim dingin. Durasi puasa tergolong "bersahabat", sekitar 12 jam, dengan subuh pukul 06.06 dan magrib pukul 17.48.

Namun, ingatan Cewin terlempar pada tahun 2016. Saat itu, Ramadan jatuh tepat di puncak musim panas.

"Itu puasa terpanjang. Kami harus menahan lapar dan dahaga selama 19 jam! Dari jam 3 pagi sampai jam 10 malam," kenangnya.

Meski berat, Cewin merasa ada kenikmatan spiritual yang berbeda.

Menjadi muslim di negeri minoritas menuntut keteguhan hati yang lebih.

"Pelajaran paling berharga adalah takwa. Iman kita diuji di tengah godaan yang nyata. Kami yakin, pahala di sini mungkin 'plus-plus' karena tantangannya lebih berat dibanding di negara mayoritas," tambahnya dengan nada mantap.

Masjid SGB: Rumah Kedua yang Menghangatkan

Meski hanya berjarak 2 km dari Masjid Ulu Camii, Cewin lebih memilih menempuh jarak 6,7 km menuju Kota Houten.

Di sana ada Masjid SGB (Stichting Generasi Baru), rumah ibadah milik komunitas Indonesia.

Bagi Cewin yang mungkin satu dari hanya dua orang Sasak di Utrecht Masjid SGB adalah penawar dahaga sosial.

Di sana, ia bisa bertemu "keluarga" sebangsa, mengikuti buka bersama di akhir pekan, hingga itikaf di sepuluh hari terakhir.

"Rasa rindu Indonesia sedikit terobati di sana. Kami menjalankan tradisi seperti di tanah air," ungkapnya.

Namun, ada satu hal yang tak bisa digantikan oleh kecanggihan logistik Eropa yaitu kuliner autentik Sasak.

Cewin mengaku sangat merindukan Olah-Olah Tain Lale dan Kandok Kelak Lebui.

"Bahan lain mudah dicari, tapi kalau Lebui dan Tain Lale, di Belanda tidak ada yang jual. Itu yang paling bikin 'tersiksa' kalau ingat kampung," selorohnya diiringi tawa kecil.

Misi di Bekas Gedung Bermain

Di balik kisah nostalgianya, Cewin membawa misi mulia.

Saat ini, komunitas Muslim Indonesia di Utrecht sedang berjuang merenovasi bangunan yang mereka beli tahun lalu untuk dijadikan masjid dan pusat dakwah.

Menariknya, bangunan itu dulunya adalah indoor playground atau tempat bermain anak-anak.

Kini, bangunan itu akan diubah menjadi tempat bersujud, tempat anak anak belajar mengaji, pengajian ibu ibu dan bapak bapak dan membimbing mualaf asli Belanda.

"Punya masjid di Lombok itu sudah biasa, tapi punya masjid di Eropa itu luar biasa. Kami masih membutuhkan dukungan dana dari para semeton (saudara) di tanah air untuk menyelesaikan renovasi ini," pesannya penuh harap.

Bagi Cewin, Ramadan di Belanda bukan sekadar menahan haus dan lapar, melainkan tentang menjaga identitas dan menyebarkan syiar di Benua Biru.

Jika ada satu momen yang ingin ia "impor" dari Lombok ke Utrecht, itu adalah tradisi ngabuburit ke rumah kerabat lalu pulang menenteng kelapa muda.

Sebuah kemewahan sederhana yang kini hanya bisa ia nikmati dalam doa dan kenangan di tengah dinginnya langit Utrecht. (Nurul Hidayati, Mataram/r3)

Editor : Kimda Farida
#ramadan #belanda #islam #Kuta #Lombok