MATARAM - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mataram memastikan operasional layanan bus gratis atau yang dikenal sebagai Bus Trans Mataram tetap beroperasi tanpa dipungut biaya bagi masyarakat.
Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram dalam menjaga kualitas pelayanan publik, sehingga program ini dipastikan aman dari kebijakan efisiensi anggaran daerah.
“Hingga saat ini, kami belum melakukan penarikan tarif sejak dicanangkan pada akhir November 2025,” kata Kepala Dishub Kota Mataram Zulkarwin.
Zulkarwin mengatakan, hingga saat ini armada bus gratis tersebut masih melayani pelajar dan masyarakat umum dalam status uji coba.
Pemkot berkomitmen penuh untuk tidak membebani warga dengan tarif perjalanan guna mendukung mobilitas harian mereka.
Baca Juga: Sering Keluhkan Lampu Mati? Dishub Mataram Akhirnya Fokus Garap Tiga Ruas Jalan Utama Ini
Zulkarwin menjelaskan, program ini merupakan bentuk nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, keberlanjutan operasional Bus Trans Mataram mendapatkan dukungan penuh dari Wali Kota Mataram dan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram.
Layanan publik ini dinilai memiliki dampak yang sangat vital, sehingga tidak boleh dikorbankan demi efisiensi anggaran.
“Ini kan bentuk pelayanan publik. Jadi Pak Wali melalui Pak Sekda juga mempertahankan pelayanan publik ini sehingga tidak kena efisiensi,” terangnya.
Saat ini, Dishub mengoperasikan dua unit armada bus dengan kapasitas masing-masing 17 tempat duduk.
Selain mempermudah mobilitas, kehadiran bus ini dirancang untuk menekan angka kemacetan yang mulai marak di sejumlah titik strategis Kota Mataram, terutama pada jam-jam sibuk akibat dominasi kendaraan pribadi.
Layanan Bus Trans Mataram beroperasi selama enam hari dalam seminggu, mulai Senin hingga Sabtu.
Pada hari Senin sampai Kamis, bus beroperasi dalam dua sif, yakni pukul 06.30–10.30 Wita dan pukul 13.00–15.00 Wita.
Sementara untuk hari Jumat dan Sabtu, layanan hanya tersedia satu sif mulai pukul 06.30 hingga 12.00 Wita.
Adapun rute yang dilewati meliputi Sangkareang, Jalan Gajah Mada, Kampus Muhammadiyah, Pasar Pagesangan, Kekalik, Lombok Epicentrum Mall, Kampus AMM, Kampus UIN, Islamic Center, Teras Udayana, hingga eks Bandara Selaparang.
Rute ini sengaja dipilih karena menghubungkan pusat pendidikan, perbelanjaan, dan perkantoran.
Untuk mempermudah penumpang, Dishub telah menyediakan sistem pemantauan posisi bus melalui pemindaian barcode di beberapa lokasi strategis.
Baca Juga: Jangan Risau! Mesin KIR Dishub Mataram Sudah Dikalibrasi, Hasil Uji Dijamin Akurat
“Masyarakat dapat mengetahui perkiraan waktu tiba bus tanpa harus menunggu lama," tambahnya.
Berdasarkan hasil evaluasi, animo masyarakat Mataram terbilang sangat tinggi. Bus selalu dipadati oleh rombongan pelajar hingga ibu-ibu yang hendak ke pasar atau pengajian.
Mengenai biaya operasional, Zulkarwin memprediksi kebutuhan anggaran bahan bakar minyak (BBM) berkisar Rp 150 juta per tahun untuk satu bua, sementara sistem penggajian sopir dikelola melalui Tenaga Penunjang Kegiatan (TPK). (chi)
Editor : Kimda Farida