Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dalam Keheningan, 88 Remaja Mataram Mulai Jujur dan Berani Curhat via SIBESTI CAKRA

Lalu Mohammad Zaenudin • Selasa, 23 Juni 2026 | 14:10 WIB
SOLUSI AMAN: Suwandira, A.Md.,Per saat menyosialisasikan aplikasi SIBESTI CAKRA pada remaja sebagai ruang curhat digital yang aman. 
SOLUSI AMAN: Suwandira, A.Md.,Per saat menyosialisasikan aplikasi SIBESTI CAKRA pada remaja sebagai ruang curhat digital yang aman. 

 

Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang dipendam seorang remaja. Mereka bisa tampak baik-baik saja, namun bisa saja tersimpan konflik, perundungan, kekerasan seksual, hingga persoalan yang membahayakan masa depan mereka.

---

MELALUI SIBESTI CAKRA, Puskesmas CakranegaraSIBESTI CAKRA, mulai melihat gambaran yang selama ini tersembunyi. Hingga pertengahan Mei 2026, aplikasi tersebut telah menjaring sekitar 88 remaja yang mengikuti proses skrining dan konsultasi awal.


Hasilnya membuka banyak fakta. “Ada yang bermasalah dalam rumah tangga, ada yang bermasalah di sekolah, ada juga di lingkungan pondok pesantren,” kata Suwandira, Jumat (19/6). 


Seluruh data tersebut tersimpan dalam sistem yang dirancang untuk menjaga kerahasiaan pengguna. Bagi remaja, kerahasiaan menjadi kunci utama.


Tanpa jaminan keamanan, mereka cenderung enggan mengungkapkan persoalan yang sedang dihadapi. Karena itu SIBESTI dirancang sebagai ruang curhat yang aman dan nyaman.


“Intinya SIBESTI ini menyiapkan ruang curhat yang aman dan nyaman bagi remaja,” ujarnya.

Untuk memudahkan tindak lanjut, sistem membagi hasil skrining ke dalam tiga kategori. Kategori hijau menunjukkan kondisi relatif aman dan tidak membutuhkan konseling lanjutan.


Kategori kuning menunjukkan adanya persoalan yang memerlukan perhatian khusus. Sedangkan kategori merah menjadi sinyal bahwa pengguna membutuhkan penanganan lebih cepat.

Baca Juga: Dari Resolusi PBB sampai Persilangan Identitas, Selalu Ada Pemain Ghana di Premier League


“Kalau merah berarti perlu tindak lanjut segera. Kami akan menghubungi kembali dan mengatur waktu untuk bertemu,” terangnya.


Pada kategori kuning maupun merah, remaja dapat langsung terhubung dengan petugas melalui nomor layanan yang tersedia di aplikasi. Jika diperlukan, mereka akan diundang datang ke Puskesmas Cakranegara untuk menjalani konseling secara langsung.


Puskesmas bahkan telah menyiapkan ruang konsultasi khusus agar proses pendampingan berlangsung lebih nyaman dan menjaga privasi pengguna. “Kami siapkan ruang konseling khusus. Kalau mereka malu, bisa dilakukan secara lebih privat,” ujarnya.


Salah satu alasan penting lahirnya SIBESTI adalah pengalaman menemukan remaja yang justru mendapat solusi keliru saat mencoba mencari bantuan. Menurut Suwandira, tidak sedikit remaja yang lebih dulu curhat kepada teman atau lingkungan terdekat sebelum mencari bantuan profesional.


Masalahnya, tidak semua lingkungan mampu memberikan arahan yang benar. Ia mencontohkan kasus seorang remaja perempuan yang mengalami konflik berat di rumah.


Merasa tidak mendapat ruang untuk menyampaikan perasaannya kepada keluarga, remaja tersebut memilih pergi bersama pacarnya ke luar Kota Mataram. Di tempat itulah ia kemudian mengalami kekerasan seksual.


“Karena konflik di rumah dan tidak nyaman, akhirnya dia lari bersama pacarnya,” tuturnya.


Kasus seperti itu menjadi pengingat persoalan remaja sering kali saling berkaitan. Konflik keluarga dapat berujung pada pelarian perilaku berisiko, yang membuka pintu bagi masalah lain yang lebih berat.


Ketika menemukan kasus serius, Puskesmas Cakranegara tidak bekerja sendiri. Mereka membangun jejaring lintas sektor untuk memastikan remaja mendapatkan bantuan sesuai kebutuhan.


“Jika ditemukan indikasi gangguan kesehatan mental, petugas akan berkolaborasi dengan dokter di puskesmas,” terangnya. 

Baca Juga: Brigade Masjid BKPRMI NTB Latih Remaja Masjid Hadapi Bencana


Bila memerlukan penanganan spesialis, pasien akan dirujuk ke rumah sakit. Untuk kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, puskesmas berkoordinasi dengan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Mataram serta DP3A Kota Mataram.


Sementara untuk persoalan penyalahgunaan narkotika, jejaring dengan BNN juga telah disiapkan. “Kalau memang membutuhkan rujukan atau penanganan lanjutan, kami bantu sesuai kebutuhannya,” terangnya.


Puskesmas juga bekerja sama dengan Kantor Urusan Agama Kecamatan Sandubaya dalam upaya pencegahan pernikahan anak. Langkah itu dilakukan karena masih ditemukan kasus kehamilan dan persalinan pada usia remaja.


“Masih ada yang melahirkan pada usia 14 sampai 15 tahun,” ujarnya.


Data yang terkumpul dari SIBESTI mulai memperlihatkan pola persoalan yang dominan. Menurut Suwandira, masalah yang paling sering muncul berkaitan dengan pendidikan dan kehidupan sekolah.


Setelah itu menyusul persoalan pola makan, aktivitas sehari-hari, dan kesehatan mental. Menariknya, sistem juga mampu memetakan kondisi berdasarkan wilayah sehingga petugas dapat melihat kecenderungan masalah pada masing-masing kelurahan.


“Bagi kami di Puskesmas Cakranegara, data tersebut sangat berharga,” ujarnya. 


Selama ini banyak persoalan remaja hanya terlihat ketika sudah berkembang menjadi masalah besar. Kini, tanda-tanda awal dapat dideteksi lebih cepat.


Suwandira percaya teknologi tidak akan pernah menggantikan sentuhan manusia dalam proses pendampingan. Namun teknologi dapat menjadi jembatan pertama yang membuat remaja berani membuka diri.


“Yang terpenting sebenarnya bagaimana mereka mau bercerita lebih dulu. Kalau mereka sudah berani bercerita, kami bisa membantu mencarikan jalan keluarnya,” pungkasnya. (*/r9)

Baca Juga: Brigade Masjid BKPRMI NTB Latih Remaja Masjid Hadapi Bencana

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#aplikasi sibesti cakra #suwandira #ruang curhat digital #puskemas cakranegara #Inovasi