Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dua Tahun Keluar Masuk Komunitas Tertutup, Peneliti UIN Mataram Bongkar Fakta Mengejutkan LGBT Kota

Lalu Mohammad Zaenudin • Selasa, 23 Juni 2026 | 14:52 WIB
ILUSTRASI: Fenomena LGBT menjadi perhatian luas di Kota Mataram belakangan ini. Stigma aktivitas ini menjadi bentuk penyimpangan seksual membuat aktivitas ini mendapat penolakan hampir di seluruh lapisan masyarakat. Sementara itu, diam-diam aktivitas ini ternyata terus bergerak secara bawah tanah di sekitar warga dengan senyap.
ILUSTRASI: Fenomena LGBT menjadi perhatian luas di Kota Mataram belakangan ini. Stigma aktivitas ini menjadi bentuk penyimpangan seksual membuat aktivitas ini mendapat penolakan hampir di seluruh lapisan masyarakat. Sementara itu, diam-diam aktivitas ini ternyata terus bergerak secara bawah tanah di sekitar warga dengan senyap.

LombokPost - Selama dua tahun terakhir, Rosalina Utamy keluar-masuk komunitas yang selama ini jarang tersentuh penelitian terbuka di Kota Mataram. Dengan latar belakang kesehatan masyarakat, dosen dan peneliti UIN Mataram itu tidak hanya mewawancarai sejumlah individu dengan orientasi seksual berbeda, tetapi juga mengamati kehidupan mereka sehari-hari, mengikuti pola interaksi sosial mereka, hingga menelusuri faktor-faktor yang menurut hasil penelitiannya berkontribusi terhadap munculnya fenomena LGBT.

Hasil pengamatannya memunculkan satu kesimpulan sederhana: fenomena itu ada dan hidup di tengah masyarakat, meski tidak selalu tampak di ruang publik.

“Kasus LGBT ini sebenarnya sudah ada. Hanya saja mereka tidak muncul secara formal. Komunitas mereka lebih banyak bergerak secara informal,” kata Rosalina Utamy saat diwawancarai dalam sebuah siniar yang membahas hasil risetnya.

Penelitian tersebut berangkat dari kegelisahan akademiknya sebagai peneliti kesehatan masyarakat. Ia melihat tingginya angka kasus HIV/AIDS di Nusa Tenggara Barat yang menurut data Dinas Kesehatan NTB secara kumulatif mencapai 2.492 kasus sejak 2001 hingga 2025.

“Sementara di Kota Mataram, jumlah kasus HIV/AIDS tercatat 929 kasus pada periode yang sama,” terangnya. 

Menurut Rosalina, sebagian besar kasus tersebut berasal dari kelompok laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL). Temuan itulah yang kemudian mendorongnya melakukan penelitian lebih dalam mengenai fenomena LGBT.

“Ini menjadi masalah yang perlu kita kaji bersama. Apalagi kita hidup di Lombok yang dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid dengan kehidupan sosial dan keagamaan yang sangat kuat,” ujarnya.

 

Masuk ke Komunitas yang Tertutup

 

Baca Juga: Ruben Amorim Ingin Adrien Rabiot Jadi Jenderal Lini Tengah AC Milan

 

Meneliti komunitas LGBT bukan perkara mudah. Rosalina mengaku harus menggunakan pendekatan khusus untuk mendapatkan akses ke para informan.

Menurutnya, komunitas tersebut cenderung tertutup terhadap orang baru. Karena itu ia menggandeng komunitas pendamping yang selama ini bergerak dalam edukasi HIV/AIDS untuk membangun kepercayaan dengan para informan.

“Komunitas ini cukup sensitif. Mereka tidak akan langsung menerima orang baru masuk ke lingkungannya,” katanya.

Pendekatan itu membuat tim peneliti dapat melihat langsung kehidupan para informan. Mulai dari aktivitas pekerjaan, lingkungan pergaulan, hingga pola interaksi sosial mereka.

Yang menarik, sebagian besar informan yang ditemui justru berasal dari kalangan berpendidikan dan memiliki pekerjaan profesional. “LGBT tidak melihat seseorang berasal dari keluarga kaya atau miskin, berpendidikan tinggi atau rendah. Semua memiliki potensi mengalami kondisi tersebut berdasarkan berbagai faktor yang memengaruhinya,” jelasnya.

 

Faktor Keluarga hingga Pengalaman Masa Lalu

 

Dalam penelitiannya, Rosalina membagi faktor yang menurut temuan risetnya memengaruhi munculnya orientasi seksual berbeda. Pembagian dilakukan dalam dua kelompok besar, yakni faktor internal dan faktor eksternal.

Baca Juga: Sentuhan Gamifikasi Aplikasi SIBESTI CAKRA: Cara Cerdas Puskesmas Cakranegara Bongkar Rahasia Remaja

Faktor internal berkaitan dengan pengalaman personal individu yang merasa memiliki ketertarikan berbeda sejak masa remaja. Sementara faktor eksternal mencakup lingkungan keluarga, pendidikan seksual, lingkungan sosial, hingga pengalaman traumatis yang pernah dialami.

“Ada yang berkaitan perubahan orientasi seksual mereka dengan pengalaman kekerasan atau pelecehan seksual pada masa lalu,” ungkapnya. 

Ada pula informan yang mengaku tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis. Sehingga mencari rasa aman dan penerimaan di luar lingkungan keluarga.

“Relasi keluarga yang tidak baik, kurangnya perhatian orang tua, hingga pengalaman traumatis menjadi bagian dari cerita yang kami temukan di lapangan,” bebernya.

Selain itu, Rosalina juga menyoroti masih minimnya pendidikan seksual sejak usia dini. Menurutnya, banyak keluarga menganggap pendidikan seksual sebagai topik tabu, padahal pemahaman mengenai tubuh, kesehatan reproduksi, dan batas-batas interaksi sangat penting diberikan sejak anak-anak.

 

Komunitas dan Ruang Penerimaan

 

Selama penelitian berlangsung, Rosalina melihat individu-individu yang tergabung dalam komunitas LGBT umumnya menjalani kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan masyarakat lainnya. Mereka bekerja, bersosialisasi, dan membangun jaringan pertemanan sebagaimana masyarakat pada umumnya.

Namun, mereka juga membentuk komunitas yang menjadi ruang aman untuk saling menerima dan berinteraksi. “Di komunitas itu mereka merasa diterima. Mereka merasa aman dan nyaman karena bisa menjadi diri mereka sendiri,” ujarnya.

Baca Juga: Membangun NTB melalui Industri Kultural

Penelitiannya juga menemukan penggunaan aplikasi digital yang memudahkan anggota komunitas untuk saling berkomunikasi dan terhubung satu sama lain. Temuan itu, menurut Rosalina, tidak semestinya hanya dilihat sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan menjadi peringatan bagi keluarga, sekolah, dan pemerintah agar memperkuat strategi pencegahan serta edukasi kepada generasi muda.

“Ini bukan untuk ditakuti. Ini menjadi warning bagi kita bahwa pencegahan harus dilakukan secara tepat agar generasi berikutnya tidak menghadapi risiko-risiko yang sama,” katanya.

 

Tantangan bagi Kota Mataram

 

Perdebatan mengenai LGBT kembali menguat di Kota Mataram dalam beberapa waktu terakhir. DPRD Kota Mataram bahkan mulai mendorong pembahasan regulasi yang berkaitan dengan pencegahan perilaku penyimpangan seksual.

Di tengah perdebatan tersebut, hasil penelitian Rosalina memberikan gambaran fenomena ini tidak sesederhana yang sering terlihat di ruang publik. Ada faktor keluarga, pendidikan, lingkungan sosial, kesehatan mental, hingga pengalaman hidup yang saling berkelindan di balik setiap kasus.

Bagi Rosalina, penyelesaiannya tidak cukup hanya melalui stigma atau penolakan sosial semata. Dibutuhkan edukasi, pendampingan keluarga, penguatan kesehatan mental, serta keterlibatan berbagai pihak. 

Mencegah munculnya berbagai dampak sosial dan kesehatan yang lebih luas. “Yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga generasi muda melalui pendekatan yang tepat, edukatif, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Pemkot Mataram mengambil langkah persuasif namun tegas dalam menyikapi keberadaan kelompok ini yang dinilai meresahkan masyarakat. Selain memperketat pengawasan di ruang publik, Pemkot akan menyiapkan psikolog dan mengedepankan pendekatan kemanusiaan tanpa tindakan represif menangani fenomena tersebut.

Baca Juga: Membanggakan, Tiga Dokter RS Mandalika Sabet Juara Neuro Battle 2026

“Penanganan nanti ada dari segi psikologis, di situ ada aspek kesehatan,” kata Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang.

Ia menegaskan, Pemkot tidak akan memberikan ruang bagi perilaku yang dinilai menyimpang tersebut. Meski demikian, penanganan yang dilakukan bakal menyentuh aspek kesehatan dan pemulihan psikologis.

Ia menjelaskan, tim terpadu yang dibentuk akan memaksimalkan potensi yang ada. Termasuk melibatkan TNI, Polri, dan pemangku kepentingan terkait melalui Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD).

Ruang-ruang publik yang disinyalir menjadi tempat berkumpulnya komunitas tersebut akan menjadi sasaran pengawasan intensif. Selain pengawasan di fasilitas umum, deteksi dini juga akan memperluas jangkauan ke sektor pendidikan.

Pemkot berencana menggandeng seluruh tenaga pendidik, khususnya Guru Bimbingan Konseling (BK/BP) di sekolah-sekolah untuk melakukan identifikasi awal. “Kami akan minta seluruh kepala sekolah dan tim di sekolah bekerja. Caranya, kita akan identifikasi terlebih dahulu dan lihat lingkup aktivitasnya,” tambahnya. 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #riset lgbt #kasus hiv lsl #peneliti uin mataram