Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dikepung Sekolah Besar, SDN 12 Mataram Bertahan dengan Enam Murid Baru dan Swadaya Seragam

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 16 Juli 2026 | 07:05 WIB

 

TETAP SEMANGAT: Siswa SDN 12 Mataram saat mengikuti MPLS dengan kegiatan pengenalan perpustakaan sekolah, Senin (13/7).
TETAP SEMANGAT: Siswa SDN 12 Mataram saat mengikuti MPLS dengan kegiatan pengenalan perpustakaan sekolah, Senin (13/7).

 

Di ruang kelas yang bersih, hanya sedikit suara anak-anak yang akan mengisinya tahun ajaran baru ini. Namun semangat para guru di sekolah itu tidak ikut berkurang.

---

“YANG penting kita sudah berusaha.”
Kalimat itu diucapkan Ni Nengah Artini Mahendri dengan nada tenang. Tak ada keluhan berlebihan.


Tak ada nada menyalahkan. Padahal, tahun ajaran baru kali ini sekolah yang dipimpinnya hanya memperoleh enam murid baru.
Empat di antaranya berasal dari lingkungan Seraye. Dua lainnya datang dari lingkungan berbeda.


“Kalau di Taman (Baru) memang susah. Orang tuanya lebih banyak memilih MI atau SD 41,” tuturnya.


SDN 12 Mataram memang berada pada posisi yang tidak mudah. Sekolah itu seolah terhimpit di antara sejumlah sekolah lain yang berdiri hanya beberapa ratus meter dari lokasinya.


Di kanan ada sekolah. Di kiri ada sekolah. Di belakang pun ada sekolah.


“Saya ini memang berada di tengah-tengah. Makanya dulu saya pikir sekolah kami akan di-merge,” katanya.

Baca Juga: MUI Jatim Terbitkan Fatwa Penggunaan Vape, Haram bagi Anak hingga Ibu Hamil


Namun hal itu tidak terjadi. Ada alasan yang membuat sekolah tersebut tetap dipertahankan.


Pada 2023, SDN 12 berhasil meraih akreditasi A. Nilai rapor pendidikannya juga tergolong baik.


Prestasi itu menjadi bukti kualitas sekolah tidak selalu ditentukan oleh banyaknya jumlah murid. “Performa sekolah kami bagus. Mungkin itu salah satu alasan sekolah ini tetap dipertahankan,” ujarnya.


Persoalan sebenarnya, menurut Artini, bukan terletak pada kualitas sekolah. Melainkan pada irisan wilayah penerimaan murid.


Anak-anak yang seharusnya berpotensi masuk ke sekolahnya justru lebih banyak terserap ke sekolah lain maupun madrasah di sekitar. Ia pun menyoroti pelaksanaan kuota penerimaan murid yang dinilai perlu dievaluasi.


“Kalau kuotanya sudah ditetapkan 28 ya 28 (siswa). Jangan setelah penuh kemudian dibuka lagi. Akhirnya sekolah seperti kami kehilangan calon murid,” katanya.


Meski demikian, perempuan itu tidak ingin larut dalam kekecewaan. Di hadapan guru-gurunya, ia justru terus menanamkan semangat.


Baginya, mengajar enam murid maupun tiga puluh murid memiliki tanggung jawab yang sama. “Saya selalu bilang ke teman-teman, sedikit siswa atau banyak siswa, tugas kita tetap sama,” ucapnya.


Bahkan, ia melihat ada sisi positif dari jumlah murid yang lebih sedikit. Guru bisa lebih fokus mendampingi setiap anak.


Proses belajar menjadi lebih personal. Perhatian kepada peserta didik pun dapat diberikan lebih maksimal.

Baca Juga: Isu Kipas Angin Rp 1,8 Triliun untuk KDMP Dipertanyakan DPR, Menkop Ngaku Tidak Tahu


Di balik optimisme itu, tantangan lain tetap membayangi. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) ikut menyesuaikan jumlah murid.


Artinya, ruang gerak sekolah juga menjadi lebih terbatas. Program ekstrakurikuler sulit dikembangkan.


Honor operator sekolah harus tetap dipikirkan. Begitu pula biaya kebersihan lingkungan sekolah.


Belum lagi kebutuhan administrasi setelah perubahan nomenklatur dari SDN 12 menjadi SDN 29 Mataram. Semuanya membutuhkan biaya. 


Namun sebelum masa penerimaan murid berakhir, Artini bersama para guru memilih bergerak. Mereka mendatangi kepala lingkungan. Berjalan dari rumah ke rumah. Menjelaskan sekolah memberikan kesempatan memperoleh Program Indonesia Pintar (PIP). Bahkan seragam sekolah disiapkan secara swadaya.


Guru-guru patungan agar anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap bisa bersekolah. “Kami sampai urunan untuk membantu seragam. Yang penting anak-anak mau sekolah di sini,” tuturnya.


Usaha itu memang belum menghasilkan banyak. Jumlah murid baru tetap enam orang.
Tetapi bagi Artini, angka itu bukan alasan menyerah. Sebab baginya, sekolah bukan sekadar mengejar banyaknya peserta didik.
Melainkan menjaga agar setiap anak yang datang tetap memperoleh pendidikan terbaik.

 “Enam anak pun akan kami layani dengan sepenuh hati. Yang penting kami tidak berhenti berusaha,” tutupnya. 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Kota Mataram inkonsistensi kuota spmb guru patungan seragam sekolah SDN 12 Mataram