LombokPost – Bunda PAUD Kota Mataram Hj. Kinnastri Mohan Roliskana turun langsung memantau pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di sejumlah sekolah dasar, Selasa (15/7). Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan program Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan benar-benar diterapkan di seluruh satuan pendidikan dasar.
“Kami lebih fokus pada transisi dari PAUD atau TK ke SD yang menyenangkan,” kata Bunda Kikin, Rabu (15/7).
Pemantauan tidak hanya difokuskan pada sekolah-sekolah di pusat kota, tetapi juga menyasar sekolah di kawasan pinggiran. Langkah itu dilakukan agar pelaksanaan program berlangsung merata.
Kikin juga ingin memastikan seluruh anak memperoleh pengalaman awal bersekolah yang nyaman dan ramah. “Bagaimana anak-anak merasa nyaman dan percaya diri saat memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” imbuhnya.
Ia menegaskan, hari-hari pertama anak di sekolah dasar seharusnya tidak langsung diisi dengan tuntutan membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Kesiapan emosional dan kemampuan beradaptasi jauh lebih penting agar anak memiliki semangat belajar dan tumbuh secara alami.
Kikin mengungkapkan, tidak sedikit anak yang enggan bersekolah. Mereka masih membandingkan suasana SD dengan taman kanak-kanak.
Bahkan, ada yang mempertanyakan mengapa sekolah barunya tidak memiliki fasilitas bermain seperti perosotan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan yang menyenangkan pada masa transisi.
“Kalau mereka sudah merasa nyaman, rasa percaya diri akan tumbuh dengan sendirinya,” imbuhnya.
Baca Juga: Dikepung Sekolah Besar, SDN 12 Mataram Bertahan dengan Enam Murid Baru dan Swadaya Seragam
Untuk mendukung proses adaptasi tersebut, TP PKK Kota Mataram menggandeng komunitas Alo Bermain. Menghadirkan berbagai permainan tradisional Lombok di lingkungan sekolah.
Permainan itu menjadi media pembelajaran. Menanamkan nilai gotong royong, kesabaran, kebersamaan, hingga budaya mengantre.
Selain permainan tradisional, metode storytelling diterapkan untuk melatih konsentrasi anak. Sekaligus membiasakan mereka mengikuti proses belajar di kelas.
Pengenalan adab, sopan santun, dan disiplin sederhana pun diberikan. Agar sekolah dipandang sebagai lingkungan yang aman dan menyenangkan.
Menurut Kikin, keberhasilan program transisi tidak hanya bergantung pada guru. “Ini membutuhkan sinergi seluruh pihak, termasuk orang tua,” tekannya.
Dengan pendekatan yang ramah anak serta memanfaatkan kearifan lokal, proses adaptasi di awal jenjang sekolah dasar diharapkan mampu membentuk karakter. “Semangat belajar peserta didik sejak dini,” tegasnya.
Sementara itu, seperti pantauan di SDN 7 Mataram juga berlangsung kondusif dan menyenangkan. Kepala SDN 17 Mataram Nuraisah mengatakan, selama tiga hari pelaksanaan MPLS seluruh rangkaian kegiatan difokuskan membantu peserta didik baru beradaptasi.
“Anak-anak diajak mengenal lingkungan sekolah, guru, maupun teman-teman sekelasnya tanpa tekanan,” terangnya.
Menurut Nuraisah, hari pertama diisi dengan berbagai aktivitas yang membangun rasa nyaman. Selain diajak berkeliling mengenal lingkungan sekolah, siswa mengikuti berbagai permainan edukatif, pengenalan tata tertib, hingga pembelajaran sederhana mengenai pentingnya saling menghargai dan mencegah perundungan (bullying).
Orang tua yang mengantar anak pada hari pertama pun turut dilibatkan. Agar proses transisi dari rumah ke sekolah berlangsung lebih mulus.
Baca Juga: MUI Jatim Terbitkan Fatwa Penggunaan Vape, Haram bagi Anak hingga Ibu Hamil
“Kami ingin anak-anak merasa bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan,” ujarnya.
Memasuki hari keempat MPLS hari ini, para siswa dinilai sudah mulai mampu beradaptasi dengan lingkungan baru. Karena itu, mulai hari ini para orang tua tidak lagi diperkenankan mengantar dan menemani di lingkungan sekolah.
Kebijakan tersebut diambil melatih kemandirian anak. Sekaligus membangun kedekatan mereka dengan para guru.
Anak-anak dinilai mulai akrab dengan teman-temannya dan mengenal bapak ibu guru. Saatnya mereka belajar mandiri.
Sehingga orang tua tidak perlu lagi menemani di lingkungan sekolah. “Kami ingin anak-anak merasa bahwa selama berada di sekolah, bapak dan ibu guru adalah orang tua mereka yang akan membimbing, menjaga, dan mendampingi selama proses belajar,” tutupnya.
Sumber : Liputan Berita Lombok Post