
LombokPost - Dinas Sosial (Dinsos) Kota Mataram terus mematangkan langkah penataan bagi Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang kerap beroperasi di sejumlah persimpangan lampu merah.
Keberadaan badut jalanan, pengamen, hingga pelaku seni cosplay seperti manusia silver yang kerap meminta uang kepada para pengguna jalan kini bakal dialihkan. Ke lokasi yang lebih teratur dan representatif yakni di Jalan Niaga, kawasan Kota Tua Ampenan.
“Kita ingin penanganan ini lebih humanis. Saat satgas turun penertiban, mereka memang mulai menghindar. Karena itu, kami merancang solusi permanen. Kita akan pusatkan mereka di Jalan Niaga Ampenan, mulai dari kawasan Huis, Taman Jangkar, sampai Pasar Asisi,” Kepala Dinas Sosial Kota Mataram Muzakkir Walad.
Langkah baru ini digagas untuk memberikan solusi permanen yang lebih humanis. Harapannya, para pelaku aksi jalanan tersebut tidak lagi beroperasi di badan jalan raya yang berisiko mengganggu kelancaran lalu lintas serta kenyamanan warga Kota Mataram.
Baca Juga: Api Mengamuk Selasa Siang, Dinsos Mataram Salurkan Bantuan Makanan Siap Saji untuk Korban
mengungkapkan, penanganan PPKS saat ini tidak hanya bertumpu pada operasi penertiban dan penangkapan semata. Pihaknya berkolaborasi dengan jajaran kecamatan untuk menyediakan wadah khusus agar para pengamen dan kreator kostum tetap bisa beraktivitas tanpa merugikan publik.
Muzakkir menjelaskan, konsep penataan di Jalan Niaga tersebut mengadopsi model penataan seni jalanan dan cosplay yang diterapkan di Jalan Asia Afrika serta Jalan Braga, Kota Bandung.
Para pelaku wisata hiburan jalanan ini nantinya tidak lagi berjalan menyisir kendaraan atau mengetuk kaca mobil, melainkan bersiap secara statis di sepanjang trotoar setiap malam.
“Nanti mereka tidak keliling memakan badan jalan atau memaksa meminta uang. Mereka cukup diam di trotoar. Pengunjung kawasan Kota Tua Ampenan yang lewat bisa berfoto bersama mereka secara sukarela. Ini kita terapkan tiap malam, bukan hanya saat event tertentu,” jelasnya.
Untuk menjaga kualitas dan kenyamanan masyarakat, Dinsos telah melakukan proses seleksi ketat terhadap para PPKS tersebut. Saat ini, sebanyak 10 hingga 12 orang telah terdata dan lolos seleksi awal.
Kelompok ini terdiri dari pengamen yang benar-benar memiliki kompetensi bermusik serta para pelaku cosplay kostum unik, seperti karakter Naruto hingga figur terbalik atau 'terbang'.
Baca Juga: Dinsos Mataram Siagakan Tangki Air Bersih dan Logistik Antisipasi Kemarau
“Untuk pengamen, kita pilih yang kompeten, yang bisa bernyanyi dan memetik gitar dengan baik, bukan yang sekadar membunyikan alat musik dan mengganggu. Properti pendukung seperti panggung atau dudukan besi khusus untuk kostum unik pun sudah kami siapkan," tambahnya.
Meski mengedepankan pendekatan humanis, Muzakkir menegaskan pihak Dinsos tetap bertindak tegas terhadap PPKS liar yang tidak mau diatur atau melarikan diri ke permukiman warga saat ditertibkan.
Untuk kasus PPKS pendatang asal luar daerah yang membandel, Dinsos tidak segan untuk langsung memulangkan mereka ke daerah asal.
“Bagi yang membandel dan tetap mengganggu ketertiban di jalanan, tentu kita amankan dan langsung dipulangkan ke daerah asalnya. Penataan di Jalan Niaga ini adalah ruang yang kita berikan agar Ampenan semakin hidup sekaligus ketertiban lalu lintas Kota Mataram tetap terjaga,” pungkasnya.
Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan