Gadis Lombok Baiq Mahatma Zahra Renaisantya Misbah resmi menyabet gelar None Jakarta Barat 2026 usai menaklukkan persaingan sengit berbekal keunggulan intelektual dan aksi sosial. Kemenangan ini membawanya melenggang sebagai duta pariwisata ibu kota sekaligus melangkah menuju ajang Abang None tingkat Provinsi DKI Jakarta.
-------------------
Di panggung utama malam puncak penobatan Abang None Jakarta Barat 2026, nama Baiq Mahatma Zahra Renaisantya Misbah dipanggil sebagai pemenang utama None Jakarta Barat 2026. Bersama Muhammad Hamiz Ghani Ayusha yang dinobatkan sebagai Abang, gadis asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu tersenyum anggun saat memikul selempang kehormatan tersebut.
Baca Juga: Gubernur NTB: APBD NTB Jadi Instrumen Pembangunan yang Berdampak Nyata bagi Masyarakat
Bagi publik yang mengenalnya, keberhasilan sosok yang akrab disapa Baiq Rena ini bukanlah kejutan yang jatuh dari langit. Ia merupakan anak pertama dari Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal. Meski menyandang status sebagai putri pejabat tinggi daerah, Rena memilih meniti jalurnya sendiri secara mandiri di medan kompetisi ibu kota yang terkenal sangat kompetitif.
Wilayah Jakarta Barat secara historis diakui sebagai salah satu arena seleksi paling berat. Kerap menjadi penyumbang jawara di tingkat provinsi, peta persaingan di Jakbar menuntut standar kualifikasi yang luar biasa. Rena sebenarnya memegang golden ticket yang memberinya ruang memilih jalur seleksi di wilayah lain. Namun, demi menguji kompetensi serta ketahanan mental secara objektif, ia secara sadar menjatuhkan pilihan pada wilayah Jakarta Barat.
Proses seleksi berlangsung ketat dari ratusan pendaftar. Langkah Rena mengalir mantap menembus babak 15 besar, mengerucut ke 8 besar, hingga akhirnya mengunci posisi puncak. Penampilan impresif dan konsistensinya memikat perhatian juri yang dipimpin Wali Kota Administrasi Jakarta Barat, Uin Mutmainnah.
Uin Mutmainnah menegaskan, ajang Abnon bukanlah panggung peragaan busana atau sekadar kompetisi fisik belaka. Standardisasi penilaian didasarkan pada formula 3B, yakni Brain, Beauty, dan Behaviour secara utuh.
“Para finalis tidak hanya memiliki penampilan yang baik beauty, tetapi juga wawasan atau brain, integritas, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kepedulian sosial behaviour yang menjadi bekal penting sebagai duta pariwisata dan budaya,” tegasnya, Jumat (17/7).
Dari sisi brain, bekal akademis Rena tergolong sangat solid. Ia merupakan alumnus psikologi klinis dari Bilkent University, Turki, serta aktif menguasai empat bahasa asing secara fasih. Kedalaman wawasan dan ketajaman komunikasinya langsung menonjol sejak masa karantina.
Baca Juga: Gubernur NTB: Bangun Sistem, Bukan Ketergantungan pada Pemimpin
Namun, aspek Behaviour dan adab kepedulian sosiallah yang benar-benar menjadi nilai pembeda mendasar. Rena memiliki rekam jejak yang panjang dalam kegiatan kemanusiaan. Ia terjun langsung memanfaatkan keahlian psikologinya untuk memberikan layanan trauma healing bagi anak-anak korban bencana alam dan penyintas Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), di samping rutin menyantuni anak-anak yatim sosial.
Perpaduan antara kualifikasi global dan kerja sosial yang tulus menjadikan sosoknya dinilai mewakili standar ideal None modern. Jakarta yang sedang bertransformasi menuju kota global memerlukan representasi anak muda yang adaptif terhadap kemajuan zaman tanpa kehilangan identitas kebudayaan.
Tugas besar saat ini telah menanti Rena dan Ghani. Sebagai duta resmi daerah, mereka mengemban misi memperkenalkan potensi pariwisata unggulan Jakarta Barat mulai dari revitalisasi kawasan sejarah Kota Tua hingga dinamika budaya dan kuliner Pecinan Glodo ke tingkat internasional.
Langkah gadis Lombok ini dipastikan belum selesai. Kemenangan ini merupakan tiket resmi baginya untuk bertarung pada Pemilihan Abang None tingkat Provinsi DKI Jakarta pada September 2026 mendatang, membawa deretan harapan dan doa dari tanah kelahirannya di Nusa Tenggara Barat.
Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan