LombokPost – Dinas Kesehatan Kota Mataram memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan Capacity Building bagi Aktivis Kesehatan. Diinisiasi oleh Forum Komunikasi Aktivis Kesehatan (FKAK) Nusa Tenggara Barat.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat tersebut menjadi wadah strategis. “Kegiatan itu untuk membangun kapasitas, kepemimpinan, serta semangat pengabdian generasi muda di bidang kesehatan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr. H. Emirald Isfihan, MARS., MH., CMC., FISQua, kemarin (6/8).
Kegiatan ini diikuti oleh puluhan anggota FKAK NTB. Berasal dari berbagai latar belakang disiplin ilmu kesehatan, mulai dari mahasiswa kedokteran, keperawatan, kebidanan, kesehatan masyarakat, farmasi, kesehatan lingkungan, gizi, analis kesehatan.
“Ada juga dari tenaga kesehatan dari berbagai profesi lainnya,” terangnya.
Keberagaman tersebut menjadi kekuatan tersendiri. Membangun kolaborasi lintas profesi guna menjawab berbagai tantangan pembangunan kesehatan di NTB.
Baca Juga: BBPOM Mataram Terbitkan Lima Izin Edar Produk Kopi NTB
Dalam kesempatan itu, dr. Emirlad hadir sebagai narasumber dengan membawakan materi bertajuk "Aktivisme dan Kepemimpinan Kesehatan". Dalam paparannya, ia menekankan seorang aktivis kesehatan tidak hanya dituntut memiliki kepedulian terhadap isu-isu kesehatan, tetapi juga harus mampu menjadi agen perubahan (agent of change).
“Memiliki integritas, kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan yang kuat, serta mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan kesehatan saat ini semakin kompleks. Mulai dari penyakit menular dan tidak menular, kesehatan ibu dan anak, stunting, kesehatan lingkungan, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam pelayanan kesehatan.
“Kita memerlukan generasi muda yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan, melakukan advokasi, menggerakkan masyarakat, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan,” ucapnya.
Ia juga mengajak peserta membangun karakter kepemimpinan yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada penyelesaian masalah. Menurutnya, seorang aktivis kesehatan harus memiliki keberanian bersikap kritis terhadap berbagai persoalan kesehatan.
Baca Juga: Beras Premium Bulog Masuk Ritel Modern
Namun, sikap kritis ditekankan harus dilandasi data, ilmu pengetahuan, etika, serta semangat memberikan solusi. Bukan sekadar menyampaikan kritik.
"Menjadi aktivis kesehatan berarti memiliki kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan nyata," ujarnya.
Ia menambahkan peningkatan derajat kesehatan masyarakat bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah atau tenaga kesehatan. Butuh keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa dan komunitas kepemudaan.
Kehadiran organisasi seperti FKAK NTB diharapkan mampu menjadi mitra strategis pemerintah. Memperkuat edukasi kesehatan, promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakat, hingga advokasi kebijakan kesehatan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Dikes, lanjutnya, sangat mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Hal itu sejalan dengan upaya membangun sumber daya manusia kesehatan yang berkualitas, memiliki jiwa kepemimpinan, dan mampu menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat.
Baca Juga: Hasbullah Muis Tak Ingin Terburu-buru, Saeun Sebut Masih Jauh Terkait Bakal Calon Wabup Lombok Barat
“Semakin banyak generasi muda yang peduli terhadap isu kesehatan, semakin besar pula peluang terciptanya inovasi dan kolaborasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan derajat kesehatan masyarakat,” ucapnya.
Sebagai informasi, Forum Komunikasi Aktivis Kesehatan (FKAK) NTB merupakan wadah kolaborasi. Menghimpun puluhan mahasiswa dan tenaga kesehatan dari berbagai disiplin ilmu.
Forum ini terdiri atas mahasiswa kedokteran, keperawatan, kebidanan, kesehatan masyarakat, farmasi, kesehatan lingkungan, gizi, teknologi laboratorium medis, serta profesi kesehatan lainnya. Memiliki kepedulian terhadap pembangunan kesehatan di NTB.
FKAK dibentuk sebagai ruang komunikasi, pengembangan kapasitas, penguatan jejaring, serta pengabdian kepada masyarakat. Melalui berbagai kegiatan edukasi, advokasi, dan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan.
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Rilis