LombokPost – Taman Mayura sukses memiliki wajah baru sebagai ruang wisata kebugaran. Kawasan bersejarah itu kini dikemas menjadi salah satu pusat pengembangan wellness tourism.
“Di sini kita padukan yoga, destinasi, produk herbal lokal, hingga aktivitas komunitas,” tutur Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram Cahya Samudra ditemui di lokasi, Rabu (12/8).
Kesuksesan Mayura sebagai wellness tourism terlihat dari bagaimana event ketiga Yoga semakin banyak diikuti peserta. Menggandeng Dharma Wanita Persatuan Dinas Pariwisata Kota Mataram sebagai panitia, pelaksanaan wellness tourism kali ini menyedot ratusan peserta.
Jumlah ini jauh lebih besar dari pelaksaan dua event sebelumnya. “Wellness tourism di Mayura kali ini juga spesial dalam rangka memperingati HUT Kota Mataram ke 33,” terangnya.
Dari 98 peserta pada kegiatan pertama, kemudian sekitar 160 peserta pada pelaksanaan kedua. Kini jumlahnya telah menembus lebih dari 200 peserta.
Cahya mengatakan peningkatan peserta tersebut menjadi sinyal positif. Konsep wisata kebugaran mulai mendapatkan tempat di tengah masyarakat.
Menurutnya, wellness tourism sebenarnya merupakan konsep sederhana. Aktivitas olahraga seperti yoga hanyalah salah satu bagian di dalamnya.
Yang membuatnya menjadi pengalaman wisata adalah ketika olahraga tersebut dipadukan dengan suasana destinasi. Kemudian interaksi antarpeserta, serta berbagai produk lokal yang mendukung gaya hidup sehat.
Cahya menjelaskan, berkumpulnya banyak orang dalam suasana yang menyenangkan di sebuah destinasi sudah menjadi bagian dari pengalaman wellness tourism. Konsep tersebut kemudian diperkuat dengan pengenalan produk UMKM yang berkaitan dengan kebugaran.
Baca Juga: Jejak Cita Rasa Majapahit dalam Sebotol Jamu Karya Poltekpar Lombok
“Salah satunya minuman herbal,” terangnya.
Di Taman Mayura, peserta dapat menikmati minuman seperti kunyit asam setelah berolahraga. Menurut Cahya, setiap daerah memiliki kekayaan minuman tradisional yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata.
“Jadi habis olahraga, kemudian nikmati destinasi, kemudian nikmati minuman dengan kearifan lokal,” katanya.
Konsep itu bahkan bisa diperluas dengan aroma terapi hingga home spa. Seluruh rangkaian tersebut diarahkan memberikan pengalaman yang membuat wisatawan merasa lebih segar dan rileks.
“Olahraganya, kemudian minuman-minuman herbalnya, kemudian aroma terapinya, semua itu bagian dari wellness tourism,” jelasnya.
Pengembangan wellness tourism di Mayura bukan berdiri sendiri. Cahya mengatakan Dinas Pariwisata Kota Mataram tengah membangun branding tematik pada sejumlah destinasi agar setiap kawasan memiliki karakter dan pengalaman wisata yang berbeda.
Di kawasan Loang Baloq, misalnya, pengembangan diarahkan pada pemanfaatan sarana dan prasarana yang telah tersedia, termasuk mini colosseum untuk kegiatan Peresean. Sementara kawasan Kota Tua Ampenan dikembangkan dengan tema sejarah dan warisan masa lampau melalui program heritage walk.
Mayura mendapatkan tema wellness tourism. “Walaupun di tempat manapun bisa dilaksanakan, tetapi kami ingin mem-branding,” ujarnya.
Konsep berbeda disiapkan di Giong Siu. Kawasan ruang terbuka hijau tersebut diarahkan menjadi camping ground karena masih memiliki suasana alam yang relatif asri dan jauh dari keramaian.
Sementara Teras Udayana dikembangkan dengan nuansa yang lebih kekinian melalui car free day, live music, dan pemanfaatan amphitheater untuk pentas budaya. “Kita di sana sudah ada program kekinian yang terus berjalan,” ucapnya.
Baca Juga: PLN UIP Nusra Ajak Warga NTB Raup Cuan dari Sampah Plastik
Yang menarik, pengembangan wellness tourism di Mayura juga dirancang agar tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah. Cahya mengatakan pemerintah membutuhkan dukungan berbagai stakeholder.
Dalam kegiatan kali ini, dukungan datang dari sejumlah sponsor melalui produk yang diberikan sebagai doorprize. “Tidak dalam bentuk fresh money, tetapi silakan dengan produk-produk mereka, yaitu dijadikan doorprize, hadiah kepada para peserta yoga,” katanya.
Bagi peserta, konsep yang ditawarkan di Taman Mayura memberikan pengalaman berbeda. Citra, salah seorang peserta, mengaku senang dan antusias mengikuti kegiatan tersebut.
“Olahraga terasa lebih menyenangkan dan bermakna ketika dilakukan di ruang terbuka dengan suasana destinasi wisata,” katanya.
Kegiatan juga tidak terasa seperti rutinitas olahraga semata. Peserta bisa bertemu, bersosialisasi dan menikmati suasana bersama.
Ia menilai kehadiran produk herbal lokal juga menjadi nilai tambah. “Setelah berolahraga, kita bisa mengenal sekaligus menikmati produk yang berasal dari daerah sendiri,” ucapnya.
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Liputan Berita Lombok Post