Rangkul 6 Rumah Ibadah, TP PKK Mataram dan Bunda Kikin Gebrak Program PAAREDI Lintas Agama

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:52 WIB
Kinnastri Mohan Roliskana
Kinnastri Mohan Roliskana

 

 

LombokPost — Tim Penggerak (TP) PKK Kota Mataram merangkul lintas agama dalam Road Show Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital (PAAREDI) Lintas Agama. Sebuah ikhtiar edukasi yang menyasar langsung generasi muda di tengah derasnya arus informasi dan gempuran tantangan digital.

 

Road Show PAAREDI Lintas Agama ini berlangsung secara maraton di enam tempat ibadah berbeda di Kota Mataram. Menyusuri keberagaman rumah ibadah sebagai simbol kebersamaan lintas iman.

 

Hari pertama digelar pada Senin, 20 Juli 2026 di Masjid Baiturrahman, Kecamatan Selaparang. Hari kedua berlangsung Selasa, 21 Juli 2026 di Pura Saraswati, Kecamatan Sekarbela.

 

Berikutnya, hari ketiga dilaksanakan Rabu, 22 Juli 2026 di Masjid Darul Hidayah, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram. Hari keempat digelar Minggu, 2 Agustus 2026 di GPIB Immanuel Mataram, Kecamatan Mataram.

 

 Baca Juga: Ada Insubordinasi? Dewan Herman Minta Kepsek yang Paksakan Ganti Bed Baru Ditertibkan!

Hari kelima berlangsung Sabtu, 8 Agustus 2026 di Vihara Sanata Sharma Maitreya, Kecamatan Cakranegara. Rangkaian Road Show pun resmi dipungkasi pada hari keenam, Jumat 14 Agustus 2026, di Gereja Katolik St. Antonius, Kecamatan Ampenan.

 

Program ini lahir sebagai jawaban atas tantangan zaman yang kian rumit. Di balik gemerlap kemudahan akses informasi dan komunikasi di era digital, mengintai pula ancaman nyata yang siap menjerat generasi muda yakni, penyalahgunaan media sosial, perundungan (bullying), banjir hoaks, kecanduan gawai, hingga bahaya penyalahgunaan narkoba.

 

Road Show ini menyasar langsung ke akar rumput. Melibatkan siswa jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagai peserta.

 

Ketua TP PKK Kota Mataram, Hj. Kinnastri Mohan Roliskana yang akrab disapa Bunda Kikin, menegaskan program PAAREDI hadir bukan sekadar seremoni, melainkan upaya sungguh-sungguh membangun karakter remaja sekaligus menanamkan kearifan dalam bermedia digital.

 

“Program ini bukan untuk membatasi ruang gerak remaja, melainkan untuk membekali kalian agar mampu menggunakan teknologi secara cerdas, bijak, dan bertanggung jawab. Kami ingin kalian menjadi generasi yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, mampu menghargai diri sendiri, menghormati orang lain, serta berani mengambil keputusan yang benar,” ujar Bunda Kikin.

 

Baca Juga: Gubernur Iqbal Bawa Misi Sinkronisasi PON 2028 NTB-NTT

Ia menambahkan, pendidikan karakter tidak bisa dipikul sendirian oleh sekolah atau keluarga. Melainkan menjadi tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat.

 

Karena itu, para tokoh agama dan tokoh masyarakat turut digandeng sebagai garda pendamping anak-anak. Melewati masa tumbuh kembangnya.

 

Meski menghimpun tokoh dari beragam latar belakang keyakinan, Bunda Kikin menegaskan satu benang merah yaitu, seluruh agama pada hakikatnya mengajarkan nilai-nilai sama.

 

“Meski kita berasal dari latar belakang agama yang berbeda, saya percaya bahwa semua agama mengajarkan nilai-nilai yang sama, yaitu kasih sayang, kejujuran, saling menghormati, tanggung jawab, serta menjauhi segala perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Nilai-nilai universal inilah yang menjadi bekal penting bagi kalian dalam menghadapi tantangan zaman,” tegasnya.

 

Para tokoh agama dan tokoh masyarakat, lanjutnya, diharapkan menjelma menjadi “obor penerang”. Sekaligus benteng kokoh bagi generasi muda Kota Mataram, agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, berakhlak mulia, dan menjunjung tinggi keberagaman.

 Baca Juga: Top 3 Wonderkid Incaran AC Milan, yang Pertama Paling Susah, yang Terakhir Berpeluang Swap Deal

Bunda Kikin meyakini benih toleransi dan sikap saling menghargai harus ditanam sejak usia dini. Agar kelak tumbuh menjadi generasi berkarakter kuat, terbuka terhadap perbedaan, dan piawai merajut hubungan sosial yang harmonis.

 

“Saya berharap anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak, taat beragama, hindari bullying, dan mampu menghargai perbedaan, dan juga menjadi bagian dari terciptanya kehidupan yang harmonis di Kota Mataram,” ujarnya.

 

Keberagaman agama dan keyakinan di Kota Mataram, menurutnya, adalah kekayaan. Sekaligus kekuatan yang harus terus dirawat dan dijaga bersama.

 

Melalui PAAREDI Lintas Agama, anak-anak diajak menyelami pemahaman perbedaan bukanlah tembok pemisah. Melainkan jembatan untuk saling menghormati dan merajut persaudaraan.

 

“Pesan saya kepada anak-anak, teruslah belajar, tumbuh dengan penuh kebaikan, hormati teman-teman yang berbeda keyakinan, dan jadilah generasi yang mampu membawa kedamaian di lingkungan masing-masing,” pesannya.

 

Dalam kesempatan itu, Bunda Kikin turut mengingatkan para pelajar bahwa tantangan yang dihadapi generasi masa kini jauh lebih pelik dibandingkan generasi sebelumnya. Perkembangan teknologi dan media sosial memang membentangkan segudang kemudahan, namun di sisi lain juga menyimpan jebakan-jebakan yang menuntut kejelian dalam menyikapinya.

 

 Baca Juga: Cegah Henti Jantung Fatal! Intip Aksi Tim PSC 119 MEMS Bekali Jurus BHD ke Mahasiswa Baru

Salah satu jebakan yang disoroti adalah fenomena fear of missing out (FOMO). Dorongan tak terbendung untuk selalu mengikuti tren agar tak dicap ketinggalan zaman.

 

Kondisi ini, menurutnya, kerap membuat anak-anak dan remaja gampang terseret arus digital tanpa sempat menimbang dampak positif maupun negatifnya.

 

“Dulu tantangan kami tidak seperti sekarang. Saat ini kalian hidup di era digital yang serba cepat, di mana tren berubah setiap saat dan media sosial sangat memengaruhi cara berpikir maupun berperilaku,” ucapnya.

 

 Ia pun mengingatkan agar jangan sampai keinginan untuk mengikuti tren membuat kehilangan jati diri. Mereka diminta jadi pengguna media sosial yang bijak, mampu menyaring informasi, serta tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang belum tentu benar ataupun bermanfaat.

 

“Jadilah remaja yang tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif. Beranilah berkata tidak terhadap narkoba, tidak terhadap perundungan, tidak terhadap kekerasan, dan tidak terhadap penyalahgunaan media digital,” serunya.

 

 Baca Juga: Korban Gempa NTT Terus Bertambah, 68 Orang Meninggal, 213 Luka-Luka

Ia mendorong pribadi yang membawa energi positif. “Menjadi inspirasi bagi teman-teman, serta mampu menggunakan teknologi untuk belajar, berkarya, dan menebarkan kebaikan,” pesannya.

 

TP PKK Kota Mataram menegaskan komitmennya bahwa PAAREDI Lintas Agama bukan program sekali jalan. Melainkan gerakan berkesinambungan yang akan terus digaungkan sebagai ikhtiar bersama menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan kondusif bagi tumbuh kembang anak dan remaja.

 

“Menuju terwujudnya generasi Kota Mataram yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing,” pungkasnya. 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Rilis
kinnastri mohan roliskana paaredi lintas agama mataram pola asuh remaja TP PKK