LombokPost — Kebijakan efisiensi anggaran belanja di instansi pemerintah dan lembaga swasta memberikan pukulan telak bagi industri perhotelan di Kota Mataram. Minimnya penyelenggaraan kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) membuat tingkat hunian (okupansi) hotel merosot tajam.
Sekretaris Asosiasi Hotel Mataram (AHM), Rega Fajar Firdaus, membenarkan lesunya bisnis perhotelan tahun ini. Menurutnya, periode Agustus hingga pertengahan Desember yang biasanya menjadi masa "panen raya" justru terasa sepi akibat minimnya agenda pertemuan dinas.
“Kita akui efisiensi belanja daerah ini berdampak. Kegiatan meeting tidak seramai dulu. Padahal, periode bulan Agustus sampai 15 Desember ini seharusnya menjadi masa ‘panen raya’. Saat ini kita masih menunggu anggaran perubahan,” ungkap Rega.
Baca Juga: Hotel Melati Berguguran, Dispar Mataram Pacu 'Inovasi Tanpa APBD' Demi Kerek Lama Tinggal Wisatawan
Dampak lesunya MICE ini dirasakan di seluruh tingkatan perhotelan:
Hotel Bintang: Mengalami penurunan persentase okupansi yang sangat signifikan hingga mendekati 50 persen.
Hotel Melati: Kondisinya jauh lebih memprihatinkan, di mana tak sedikit pengusaha yang terpaksa gulung tikar dan menutup operasionalnya.
Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Mataram, Leni Oktavia, menambahkan bahwa terlepas dari tekanan ekonomi tersebut, Kota Mataram sebenarnya masih memiliki keunggulan komparatif dibanding kawasan tetangga seperti Senggigi atau Lombok Tengah. Aksesibilitas perkotaan dan kemudahan wisata kuliner khas tetap menjadi daya tarik utama bagi para tamu untuk menginap. Parapelaku usaha kini bergantung pada harapan akan adanya lonjakan reservasi jelang gelaran MotoGP Mandalika mendatang.
Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan