SPALD-T Mataram Sebuah Langkah Besar! Menuju Kota yang Lebih Sehat, Higienis, dan Berkelanjutan

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 09:04 WIB
Tim dari Kementerian PUPR, ADB, hingga Satker Cipta Karya Provinsi NTB saat mengecek proyek SPLAD-T dan bertemu pedagang yang terdampak di jalan Pabean, Ampenan, Kamis (27/8).
Tim dari Kementerian PUPR, ADB, hingga Satker Cipta Karya Provinsi NTB saat mengecek proyek SPLAD-T dan bertemu pedagang yang terdampak di jalan Pabean, Ampenan, Kamis (27/8).

LombokPost – Pembangunan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) di Kota Mataram memasuki fase penting. Infrastruktur sanitasi perkotaan ini dirancang melayani sekitar 13.500 sambungan rumah (SR).

“Ini menjadi langkah besar pemerintah, membangun sistem pengelolaan air limbah lebih sehat, higienis, dan berkelanjutan,” kata PPK Sanitasi 2 Satker Pelaksanaan Cipta Karya Provinsi NTB Edy Sutrisno pada Lombok Post, Jumat (28/8).

Dari total sasaran tersebut, sebanyak 4.000 sambungan rumah pada tahap pertama. Semuanya akan diberikan secara gratis melalui pendanaan proyek. 

Sementara 9.500 sambungan lainnya akan dikembangkan Pemerintah Kota Mataram secara bertahap hingga seluruh target tercapai. Edy mengatakan, pembangunan SPALD-T bukan sekadar pekerjaan pemasangan jaringan perpipaan. 

Edy Sutrisno (kiri) saat mendampingi perwakilan dari Kementerian PUPR dan ADB berbincang dengan pedagang yang terdampak proyek SPALD-T Mataram di jalan Industri Ampenan, Kamis (27/8).
Edy Sutrisno (kiri) saat mendampingi perwakilan dari Kementerian PUPR dan ADB berbincang dengan pedagang yang terdampak proyek SPALD-T Mataram di jalan Industri Ampenan, Kamis (27/8).

 

Program ini diarahkan untuk memastikan air limbah rumah tangga dapat dikelola secara aman. Sebelum dikembalikan ke lingkungan.

SPALD-T ditekankan bukan hanya pembangunan jaringan pipa, tetapi membangun sistem pengelolaan air limbah yang lebih aman dan berkelanjutan. “Air limbah dari rumah warga nantinya akan dialirkan ke fasilitas pengolahan sebelum dibuang secara aman ke lingkungan,” ujarnya.

Pembangunan jaringan perpipaan mulai dikerjakan pada 2026. Wilayah awal mencakup Kecamatan Ampenan dan Sekarbela. 

Di Ampenan, jaringan menyasar sembilan kelurahan. Sedangkan di Sekarbela mencakup Kelurahan Tanjung Karang Permai dan Tanjung Karang sebagai lokasi pembangunan sarana IPAL.

Edy mengakui, salah satu tantangan dalam pelaksanaan proyek adalah memastikan masyarakat bersedia tersambung ke jaringan. Terutama bagi rumah yang posisi septic tank-nya berada di bagian belakang sehingga membutuhkan pembongkaran pada bagian tertentu rumah.

Namun, kondisi tersebut menurutnya telah diantisipasi dalam proyek. “Kalau ada rumah yang harus dibongkar untuk pemasangan jaringan, biaya pembongkaran, pemasangan pipa, sampai rekondisinya sudah ditanggung dalam proyek. Jadi masyarakat tidak dibebani biaya untuk pekerjaan tersebut,” tegasnya.

Baca Juga: Veda Ega Pratama Harus Lewat Q1 di Moto3 Aragon, Tertinggal 1,2 Detik dari David Almansa

Menurutnya, pendekatan kepada masyarakat juga terus dilakukan. Hingga saat ini, sosialisasi SPALD-T telah dilakukan lebih dari 138 titik. Sasaran sekitar 3.912 jiwa, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat hingga masyarakat umum.

Selain sosialisasi langsung, kampanye juga dilakukan melalui media sosial, podcast, pameran bersama organisasi perangkat daerah. “Kami juga bagikan leaflet, serta pemasangan banner di sejumlah lokasi strategis,” terangnya. 

Di sisi lain, Deputy Team Leader SPALD-T Mataram Amien Fatturochman menekankan keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh selesainya konstruksi. Partisipasi masyarakat menjadi bagian penting agar sistem yang dibangun benar-benar berfungsi dalam jangka panjang.

“Karena pada akhirnya masyarakat bukan hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pengguna layanan sanitasi ini,” terangnya. 

Ia mengatakan, berbagai masukan masyarakat terus menjadi perhatian dalam pelaksanaan proyek. Di antaranya mengenai rekondisi bangunan setelah pekerjaan, pengaturan lalu lintas selama konstruksi, hingga harapan agar tarif layanan nantinya tidak memberatkan masyarakat.

“Kami memahami pekerjaan konstruksi pasti menimbulkan dampak di lapangan. Karena itu, komunikasi dengan masyarakat harus terus dilakukan agar setiap pekerjaan, termasuk rekondisi rumah maupun pengaturan lalu lintas, dapat dilaksanakan dengan baik,” ujarnya.

Untuk dampak terhadap pelaku usaha, pemerintah dan pelaksana proyek juga telah menyiapkan skema kompensasi bagi pihak yang terdampak secara nyata. Besaran kompensasi ditetapkan berdasarkan penilaian Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP).

Sementara untuk persoalan lalu lintas, pengaturan dilakukan berdasarkan rekomendasi teknis instansi terkait. Simulasi juga telah dilakukan untuk mengevaluasi metode pengaturan arus kendaraan di lokasi pekerjaan.

Saat ini, tenaga flagman disiapkan di sejumlah titik. Membantu pengaturan lalu lintas, dengan pendampingan Ditlantas Polda NTB dan monitoring Polresta Mataram.

Amien menambahkan, pendekatan sosial juga diperkuat melalui pelaksanaan Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI). Langkah tersebut ditujukan agar pembangunan SPALD-T tetap memperhatikan kebutuhan seluruh kelompok masyarakat.

Baca Juga: Dua Wajah Berbeda AC Milan, Agresifnya Ardon Jashari, atau Flamboyannya Luka Modric

“SPALD-T ini merupakan investasi jangka panjang untuk Kota Mataram,” pungkasnya.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
SPALDT SPALD-T Kota Mataram PUPR ADB Sambungan Rumah Gratis SPALD-T Ampenan Kompensasi KJPP Proyek SPALD-T Mataram