LombokPost– Wali Kota Mataram Mohan Roliskana mengibaratkan perjalanan pembangunan Kota Mataram seperti lomba estafet. Setiap generasi memiliki tanggung jawab menerima tongkat pembangunan, berlari sekuat kemampuan, kemudian menyerahkannya kepada generasi berikutnya dalam kondisi yang lebih baik.
“Dalam estafet kita belajar bahwa tidak semua orang harus menyelesaikan perjalanan, tetapi setiap orang harus memastikan bahwa perjalanan itu harus terus berjalan,” kata Mohan dalam pidatonya pada Rapat Paripurna DPRD Kota Mataram dalam rangka HUT ke-33 Kota Mataram, Sabtu (29/8).
Menurutnya, pembangunan kota tidak mungkin diselesaikan hanya dalam satu periode pemerintahan, satu wali kota, satu kelompok, maupun satu generasi. Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya diukur dari apa yang telah dibangun, tetapi juga dari apa yang telah dipersiapkan untuk diteruskan.
“Kota tidak dibangun dalam satu periode pemerintahan, tidak diselesaikan oleh satu wali kota saja, tidak dikerjakan oleh satu kelompok saja, dan tidak mungkin selesai hanya dalam satu generasi,” ujarnya.
Baca Juga: Baiq Mirdiati Dorong Sekolah Pinggiran Naik Kelas
Mohan mengatakan, keterbatasan wilayah dan sumber daya Kota Mataram bukan alasan untuk berhenti bergerak. Justru dengan keterbatasan tersebut, pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat harus memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan sebesar-besarnya oleh masyarakat.
Ia menyebut sejumlah indikator pembangunan yang menunjukkan hasil positif. Pada 2025, perekonomian Kota Mataram tumbuh 5,43 persen dengan inflasi 3,21 persen. Prevalensi stunting disebut berhasil ditekan menjadi 5,53 persen, sedangkan angka kemiskinan berada di angka 7,15 persen.
Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Mataram mencapai 82,37 dan masuk kategori sangat tinggi.
“Semua capaian tersebut patut kita syukuri. Tetapi yang perlu kita ingat, di balik angka pertumbuhan ekonomi ada pelaku usaha yang sedang berjuang mempertahankan usahanya,” katanya.
Begitu pula dengan angka stunting dan pembangunan manusia. Menurut Mohan, di balik angka tersebut terdapat anak-anak yang harus dipastikan tumbuh sehat, anak-anak yang sedang belajar, pemuda yang membutuhkan ruang berkembang, serta keluarga yang sedang membangun masa depan.
Baca Juga: 12 Ribu Rekening Pelajar Dibuka, OJK NTB Dorong Kebiasaan Menabung Sejak Bangku Sekolah
Selain indikator pembangunan, Mataram juga mencatat sejumlah penghargaan. Mohan menyebut Kota Mataram ditetapkan KPK RI sebagai percontohan Kota Antikorupsi 2025 dengan skor 91,85 kategori istimewa.
Mataram juga meraih predikat kota sangat inovatif dalam Innovative Government Award (IGA) 2025 serta masuk dalam 10 kota paling maju di Indonesia berdasarkan Indeks Daya Saing Daerah 2025 dengan nilai 4,26.
Di bidang pengelolaan keuangan, Pemkot Mataram kembali memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran 2025. Predikat tersebut menjadi WTP ke-12 secara berturut-turut.
Namun, Mohan menegaskan pembangunan Mataram bukan semata-mata hasil kerja pemerintah. Tongkat estafet pembangunan, katanya, berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada para sesepuh dan pendahulu, tokoh agama dan masyarakat, DPRD, ASN, guru, tenaga kesehatan, pelaku UMKM, komunitas, anak muda, pekerja, pedagang, petani, nelayan, pengemudi, hingga seluruh masyarakat yang berkontribusi dalam pembangunan kota.
Baca Juga: Bukan Cuma Megah Infrastruktur! Ini Catatan Penting Baiq Mirdiati di Momentum HUT ke-33
“Mataram tidak tumbuh karena satu tangan. Mataram tumbuh karena banyak tangan yang saling menguatkan dan saling meneruskan,” tegasnya.
Karena itu, tema HUT ke-33 Kota Mataram, “Merawat Kota, Menyemai Harapan”, dinilai Mohan memiliki makna penting. Merawat kota, kata dia, bukan berarti membuat semuanya sempurna, melainkan menjaga yang sudah baik, memperbaiki kekurangan, mendengarkan kebutuhan masyarakat, dan memastikan tidak ada warga yang tertinggal.
“Merawat berarti menjaga apa yang sudah baik, memperbaiki apa yang masih kurang, mendengarkan apa yang perlu didengar, dan memastikan tidak ada warga yang merasa tertinggal dalam perjalanan pembangunan,” ujarnya.
Mohan menegaskan, harapan masyarakat tidak tumbuh hanya dari janji besar. Harapan tumbuh ketika warga merasa Kota Mataram merupakan rumah yang ikut menjadi bagian dari masa depan mereka.
“Dalam estafet pembangunan mungkin kita tidak semua akan mencapai garis akhir yang sama, tetapi kita memiliki tanggung jawab yang sama, memastikan tongkat itu terus bergerak dari generasi ke generasi dan dari satu tangan ke tangan berikutnya,” tandasnya.
Baca Juga: Demi Kebutuhan Anak, Kuli Bangunan di Mataram Nekat Curi HP
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Liputan Berita Lombok Post