LombokPost– Lahan kosong di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Dinas Pertanian Kota Mataram disulap menjadi kebun cabai produktif. Menariknya, budidaya tersebut dilakukan secara non-budget dengan mengandalkan swadaya dan ketekunan jajaran Dinas Pertanian.
Hasilnya mulai terlihat. Tanaman cabai yang ditanam sejak 20 Mei 2026 kini memasuki masa produksi. Sejumlah buah cabai merah bahkan sudah siap dipanen.
Senyum Wali Kota Mataram Mohan Roliskana pun mengembang. Ia mengapresiasi langkah tersebut saat meninjau langsung kebun cabai dan tomat di lahan BPP, Rabu (2/9). Menurutnya, lahan kosong di lingkungan pemerintahan seharusnya tidak dibiarkan begitu saja.
“Ini pemanfaatan lahan kosong. Kantor BPP Mataram kebetulan punya lahan kosong dan bisa dimanfaatkan dengan baik untuk komoditas cabai,” kata Mohan.
Yang membuatnya semakin mengapresiasi, kebun tersebut dibangun tanpa mengandalkan anggaran khusus. Jajaran Dinas Pertanian mengembangkan lahan secara bertahap dengan memanfaatkan kemampuan swadaya yang tersedia.
“Ini non-budget. Saya lihat karena ketekunan, konsisten, dan hasilnya kelihatan,” ujarnya.
Mohan meminta pola tersebut dipertahankan. Menurutnya, pemanfaatan lahan kosong tidak boleh berhenti hanya karena kegiatan atau musim tertentu telah berakhir.
Baca Juga: SRMP 18 Lobar Berharap Lahan Permanen Segera Direalisasikan
“Saya minta tetap dirawat dan program ini tetap berjalan. Dalam fase apa pun, dalam musim dan kondisi cuaca apa pun, harus tetap bisa produktif lahan kosong ini,” tegasnya.
Bagi Mohan, langkah sederhana tersebut memiliki manfaat lebih besar. Selain menghasilkan pangan, penanaman cabai juga menjadi bagian dari upaya menjaga ketersediaan komoditas sekaligus mendukung pengendalian inflasi.
Ia menilai gerakan semacam itu perlu dikembangkan lebih luas. Lahan yang tersedia di lingkungan perangkat daerah dapat dimanfaatkan sesuai karakter dan potensinya.
“Syukur artinya program-program ini bisa berjalan dengan baik. Salah satunya ini,” katanya.
Ketua TP PKK Kota Mataram Kinnastri Mohan Roliskana yang turut meninjau lokasi juga mengapresiasi dukungan Dinas Pertanian. Menurutnya, hasil pembibitan dan budidaya dapat diperluas untuk mendukung kelompok wanita tani (KWT).
Saat ini, terdapat 76 KWT di Kota Mataram. Dukungan bibit dan pendampingan penyuluh dinilai penting agar gerakan pangan berbasis keluarga terus berkembang.
“Kita sangat bersyukur support-nya dari Dinas Pertanian untuk membantu pembibitan. Ini juga membantu KWT-KWT yang sudah terbentuk di Kota Mataram,” ujarnya.
Menurut Kinnastri, gerakan tersebut menunjukkan ketahanan pangan tidak selalu membutuhkan lahan luas maupun program besar. Dari pekarangan dan lahan kosong, masyarakat bisa mulai memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri.
“Kalau ketahanan pangan keluarga secara mandiri sudah bisa dilaksanakan oleh seluruh masyarakat, saya rasa ketahanan pangan di Kota Mataram juga bisa terwujud dan mandiri secara pangan,” optimisnya.
Baca Juga: Ketua DPRD Mataram Puji Keberanian Pemkot Sediakan TPU Harum 1,5 Hektare
Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram Lalu Johari menjelaskan, budidaya cabai di BPP dilakukan secara bertahap. Pengolahan lahan disesuaikan dengan kemampuan swadaya yang dimiliki.
Tahapannya dimulai dari pengolahan tanah, pembuatan bedengan, pemasangan mulsa hingga penanaman. Setelah satu bagian selesai ditanami, lahan berikutnya kembali disiapkan.
“20 Mei penanaman. Sekarang sudah bisa panen, sudah banyak yang merah,” kata Johari.
Pola bertahap itu juga disiapkan agar panen dapat berlangsung berkelanjutan. Saat ini terdapat tiga tahap penanaman yang dikembangkan di lahan tersebut.
“Ini kita tanam satu, kemudian bisa sebulan lagi yang kedua. Yang di belakang itu yang ketiga. Jadi tiga tahap,” jelasnya.
Johari menegaskan, kegiatan tersebut bukan proyek dengan anggaran khusus. Dinas Pertanian memilih memulai dari lahan yang tersedia dan mengembangkannya secara bertahap.
“Ini swadaya, bukan proyek. Kita mulai tanam, kemudian baru kita garap bagian kedua, mencangkul dan memasang mulsa,” pungkasnya.
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Liputan Berita Lombok Post