Dipuji Lembaga Dunia WSO! Kader Kesehatan di Mataram Jadi Kunci Utama Selamatkan Pasien Stroke

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 19:23 WIB
Ketua TP PKK Kota Mataram Kinnastri Mohan Roliskana menerima penghargaan ANGELS Regions untuk program kader siaga stroke Kota Mataram.
Ketua TP PKK Kota Mataram Kinnastri Mohan Roliskana menerima penghargaan ANGELS Regions untuk program kader siaga stroke Kota Mataram.

 

 

 

LombokPost - Penanganan stroke di Kota Mataram mulai dibangun sebagai sebuah rantai layanan yang tidak berhenti di ruang IGD rumah sakit. Sebelum pasien tiba di RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, kemampuan keluarga dan masyarakat mengenali gejala stroke serta kesiapan layanan ambulans menjadi bagian penting. 

Dua unsur tersebut ikut menjadi pertimbangan dalam penetapan Mataram sebagai Kota Siaga Stroke kedua di Indonesia. “Rumah sakitnya siap menangani pasien stroke, ambulansnya juga siap mengenali stroke dan membawa ke rumah sakit yang tepat, dan juga awareness masyarakat mengenai stroke itu sudah meningkat,” kata Team Leader ANGELS untuk Indonesia Rika Aprijanti Hutagalung, Senin (31/8).

Rika menjelaskan, konsep Angels Region memang tidak hanya melihat kemampuan rumah sakit. Sistem penanganan stroke harus terhubung mulai dari masyarakat, layanan kegawatdaruratan hingga fasilitas kesehatan yang memiliki kesiapan menangani pasien stroke.

Dalam konteks Mataram, keterlibatan kader menjadi salah satu bagian dari upaya meningkatkan kemampuan masyarakat mengenali gejala stroke. 

 

Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram dr. Hj. Ni Ketut Eka Nurhayati, Sp.OG., Subsp. F.E.R., M.Kes., M.Sc., mengatakan kader Kota Mataram telah mendapat perhatian dari World Stroke Organization (WSO) sebagai bagian dari capaian yang mengantarkan daerah tersebut memperoleh predikat Kota Siaga Stroke. “Kader Kota Mataram juga sudah di-notice sama WSO,” ujar Eka.

Di sisi kegawatdaruratan, layanan ambulans juga menjadi mata rantai penting. Angels Consultant untuk wilayah Mataram Jiddin Abdullah, menjelaskan bahwa ketika masyarakat mengenali gejala stroke, pasien harus segera mendapatkan bantuan dan dibawa menuju rumah sakit yang tepat.

 

Baca Juga: Kasus Dugaan Korupsi Mobil Bor, Penyelidik Periksa Pejabat Dinas PUPR Bima

“Masyarakat yang mengenali symptom stroke langsung telepon ambulans dan diantarkan ke rumah sakit stroke ready hospital terdekat,” kata Jiddin.

Pola tersebut menjadi penting karena penanganan stroke sangat bergantung pada kecepatan. Semakin cepat gejala dikenali dan pasien dibawa ke fasilitas yang siap menangani stroke, semakin besar peluang pasien memperoleh terapi sesuai indikasi pada waktu yang tepat.

Karena itu, kesiapan ambulans tidak sekadar menyangkut keberadaan kendaraan. Menurutnya, ambulans juga harus mampu mengenali kondisi stroke dan menentukan rumah sakit tujuan yang sesuai.

Dengan pola tersebut, masyarakat ditempatkan sebagai titik awal dalam rantai penyelamatan pasien. Keluarga atau orang di sekitar pasien menjadi pihak yang pertama kali berhadapan dengan gejala, sebelum informasi diteruskan kepada layanan kegawatdaruratan.

Sistem inilah yang kemudian menghubungkan masyarakat dengan rumah sakit stroke ready. Jiddin mengatakan pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun penanganan stroke secara menyeluruh, bukan hanya memperkuat layanan ketika pasien sudah berada di rumah sakit.

Sementara itu, dr. Eka menegaskan predikat yang telah diraih Mataram harus diikuti dengan keberlanjutan pelayanan. Menurutnya, seluruh unsur yang telah menjadi bagian dari sistem tersebut harus terus dipertahankan dan ditingkatkan.

“Harapannya kita tetap bisa mempertahankan supaya pelayanan terhadap masyarakat bisa tetap berlanjut bahkan bisa ditingkatkan lagi,” tandas Eka.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
Kader Deteksi Stroke Mataram Eka Nurhayati RSUD Ruslan Mataram Sistem Rujukan Ambulans Stroke WSO