Museum NTB Menenun Kembali Jiwa Sade yang Sempat Terbakar

Chia • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 10:50 WIB
Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam
Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam

 

Dari puing-puing abu yang menyisakan pedih, Desa Adat Sade merajut kembali ingatan kolektifnya melalui sebuah museum—merawat tradisi Sasak agar tak lekang disapu zaman dan amukan api.

---------------------

Lidah api mungkin mampu melahap atap-atap ilalang kering dan kayu-kayu tua penopang bale tani di Desa Adat Sade, Rembitan. Namun, api yang membumihanguskan perkampungan tradisional Sasak itu tak sedikit pun sanggup memadamkan memori, kebudayaan, dan daya hidup masyarakatnya.

Saat ini, dari balik sisa-sisa trauma dan puing kebangkitan, sebuah museum sedang dipersiapkan untuk mengabadikan perjalanan emosional tersebut.

Museum Negeri NTB tengah bergerak cepat mematangkan konsep tata ruang dan tata pamer bagi pembentukan Museum Desa Adat Sade. Bukan sekadar gedung pemajang benda kuno, museum ini dirancang menjadi wahana mesin waktu naratif yang mengisahkan pasang surut kehidupan masyarakat Sade secara utuh.

“Story line yang diinginkan itu menggambarkan kehidupan masyarakat Sade secara utuh. Dari masa lalu sebelum musibah, detik-detik peristiwa kebakaran, hingga proses mereka bangkit kembali merajut asa,” kata Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam. 

Baca Juga: Museum NTB Amankan Jejak Sejarah yang Tersisa Dari Kebakaran Desa Adat Sade

Nuralam menegaskan, arsitektur fisik Museum Sade mengacu penuh pada buah pemikiran dan kesepakatan tim ahli arsitektur Universitas Mataram (Unram). Desain autentik yang disodorkan para akademisi tersebut menjadi pijakan utama bagi tim kurator museum dalam menyusun alur cerita atau story line pameran.Menghidupkan roh kebudayaan di dalam ruang museum membutuhkan kejelian bercerita. 

Pamong Budaya Madya Museum NTB Bunyamin, mengungkapkan tajuk besar yang diusung dalam tata pamer ini adalah Jejak Kehidupan Warisan dan Identitas Sade.

“Konsep tata pamer Museum Sade tidak hanya mendokumentasikan benda-benda budaya mati, tetapi juga menggambarkan adat istiadat, tradisi, kebiasaan, hingga dinamika perjalanan hidup masyarakatnya,”jelasnya.

Untuk memandu pengunjung menyusuri lorong waktu Sade, narasi besar museum dipecah dan dirangkai ke dalam lima babak alur cerita yang saling bertautan erat. Pengalaman visual dan emosional tersebut diawali pada babak pertama, Jejak Leluhur Sade, yang menggalang asal-usul, sejarah panjang, serta silsilah perjalanan spiritual maupun fisik para pendahulu masyarakat Sade. 

Langkah pengunjung kemudian berlanjut menuju babak kedua, Ruang dan Budaya Sasak, sebuah ruang yang menghadirkan denyut tradisi, ritual adat, upacara keagamaan, hingga dinamika kehidupan sosial warga yang masih terjaga keautentikannya.

Menyeberang ke babak ketiga, pengunjung disuguhkan Warisan dalam Kehidupan yang secara memikat memamerkan pelbagai artefak harian mulai dari peralatan rumah tangga, alat pertanian tradisional, instrumen kesenian, naskah kuno, hingga senjata pusaka yang pernah menemani denyut keseharian warga. 

Suasana kemudian berubah dramatis saat memasuki babak keempat, Ketika Api Mengubah Sade. Zona emosional ini secara membekas merekam tragedi kebakaran, dampak trauma yang membayangi warga, serta respons awal masyarakat dan pemerintah dalam menangani musibah tersebut.

Alur cerita itu akhirnya mencapai puncaknya pada babak kelima, Sade Bangkit Kembali. Mengusung narasi kebangkitan dan ketangguhan (resiliensi), zona penutup ini menampilkan potret nyata gotong royong serta kuatnya solidaritas semua pihak dalam mendirikan kembali rumah-rumah adat yang sempat luluh lantak. 

“Saya melihat alur ini sanggup menggambarkan Sade secara utuh. Bagaimana wajah Sade sebelum kebakaran, saat cobaan itu datang, hingga akhirnya mereka berdiri tegak kembali,” tambahnya.

Baca Juga: Biometrik Hambat Tunanetra Tunggal Daftar Perlinsos

Agar gagasan besar ini tidak menguap menjadi wacana semata, Museum NTB resmi membidani lahirnya Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Pembentukan Museum Sade yang diketuai oleh Lalu Wire. Satgas ini bertugas memangkas birokrasi, mempercepat koordinasi lintas sektor, serta mengawal setiap tahapan teknis hingga pintu museum resmi dibuka untuk publik.

Saat ini, konsep tata pamer terus dimatangkan melalui serial diskusi internal dan koordinasi dengan para pemangku adat. Sade tak sekadar sedang membangun gedung, melainkan sedang menenun kembali ingatan dan identitasnya. Agar generasi mendatang tahu, dari abu seperti apa budaya mereka pernah bangkit.

 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan
sade kebakaran desa adat Mataram Museum NTB desa adat sade