LombokPost – Wacana Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram menggratiskan pengadaan bet atau atribut nama sekolah bagi siswa mendapat dukungan. Anggota Komisi IV DPRD Kota Mataram Herman menilai itu solusi agar perubahan nomenklatur sekolah tidak menimbulkan beban biaya tambahan bagi orang tua siswa.
“Dari awal itu yang memang kami dorong,” kata politisi Gerindra ini, Minggu (4/10).
Ia bahkan mengapresiasi wacana penggratisan bet sekolah tersebut. Terlebih, persoalan pengadaan atribut baru sebelumnya sempat dikeluhkan sejumlah orang tua siswa setelah adanya perubahan nama sekolah.
Menurutnya, perubahan nomenklatur merupakan kebijakan pemerintah. Karena itu, konsekuensi yang muncul dari perubahan tersebut semestinya tidak seluruhnya dibebankan kepada wali murid.
“Wacananya memang mantap. Namun lebih mantap lagi tidak hanya berwacana, tapi direalisasikan agar tidak menjadi beban wali murid,” tegasnya.
Herman mengingatkan, keluhan mengenai kemungkinan pengadaan bet baru sebelumnya memang sempat muncul dari sejumlah orang tua siswa. Mereka mendapat informasi perubahan nama sekolah berpotensi membuat atribut yang mencantumkan nama sekolah lama harus diganti.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Herman. “Sebagai wakil rakyat yang duduk di Komisi IV, saya sangat mendukung wacana Dinas Pendidikan ini,” tegasnya.
Herman juga menilai penggratisan bet akan menjadi bentuk keberpihakan pemerintah. Apalagi, perubahan nama sekolah bukan muncul atas kehendak siswa maupun wali murid, melainkan bagian dari kebijakan penataan nomenklatur sekolah.
“Saya sangat mengapresiasi apabila wacana tersebut terwujud,” tegasnya.
Baca Juga: DPC Gerindra Mataram dan TIDAR NTB Galakkan Gerakan Indonesia ASRI di Pantai Boom
Sebelumnya, Kepala Disdik Kota Mataram Yusuf membenarkan adanya opsi penggratisan bet atau atribut lokasi sekolah tersebut. Disdik masih akan mengumpulkan para kepala sekolah membahas mekanisme pengadaannya.
Yusuf menyebut opsi tersebut muncul agar perubahan nomenklatur tidak membebani orang tua. “Kami akan kumpulkan kepala sekolah, apakah gratis atau seperti apa. Yang jelas ada potensi ke arah sana (gratis), agar tidak membebani orang tua,” kata Yusuf.
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Liputan Berita Lombok Post