LombokPost — Keterbatasan lahan dan tingginya harga properti di Kota Mataram mendorong pergeseran pola permukiman warga.
Data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Mataram mencatat tren migrasi risen neto sebesar -3,98 per 100 penduduk.
Kondisi tersebut memperlihatkan tren warga pusat kota yang memilih bergeser ke wilayah penyangga, terutama Kabupaten Lombok Barat.
"Pola migrasi seperti ini sangat umum terjadi di kawasan pusat pemerintahan dan ekonomi," kata Kepala BPS Kota Mataram Mohammad Reza Nugraha.
Sebagian besar warga yang berpindah dari Kota Mataram tetap beraktivitas di wilayah NTB. Akses transportasi yang mudah membuat warga yang berdomisili di Lombok Barat tetap menjalankan rutinitas harian di Mataram.
"Banyak warga Lombok Barat yang setiap hari bolak-balik kerja atau sekolah ke Kota Mataram. Jadi meski mereka tinggalnya di Lombok Barat, pusat kegiatannya tetap ada di Mataram," terang Reza.
Fenomena serupa juga terjadi di ibu kota provinsi lain, seperti Kupang (-8,21), Denpasar (-4,50), dan Surabaya (-4,00). Kendati migrasi neto bernilai negatif, pertumbuhan populasi Mataram tetap positif berkat laju kelahiran alami.
“Ini bukti kalau Kota Mataram dan Lombok Barat sudah menyatu. Lombok Barat jadi tempat tinggalnya, Mataram jadi pusat kegiatannya," pungkasnya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan