Bekas Galian SPALDT Dikeluhkan Warga Setempat

Chia • Dipublikasikan Jumat, 23 Oktober 2026 | 18:40 WIB
Warga berjalan di atas permukaan jalur Lingkungan Asahan, Tanjung Karang Permai yang bekas galian proyek SPALDT.
Warga berjalan di atas permukaan jalur Lingkungan Asahan, Tanjung Karang Permai yang bekas galian proyek SPALDT.

 

LombokPost - Pengerjaan megaproyek Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALDT) di Kota Mataram kembali menuai sorotan. Warga Jalan Barito Raya, Kelurahan Tanjung Karang Permai, Kecamatan Sekarbela, mempertanyakan komitmen pihak pelaksana proyek terkait pemulihan kondisi infrastruktur jalan yang telah dibongkar.

“Sudah dua minggu jalan dibongkar dan ditanam pipa Mankanya kita tidak tahu, apakah akan dikembalikan seperti semula atau seperti apa,” kata Aris, warga Barito Raya. 

Baca Juga: Afifian Khalid Desak Pemberian Kompensasi SPALDT Dihitung Secara Proporsional

Pantauan di lokasi, kondisi jalan lingkungan perumahan yang sebelumnya mulus berlapis aspal sekarang tampak berubah drastis. Badan jalan terlihat tertutup tumpukan tanah serta material galian perpipaan yang memanjang. Meninggalkan permukaan yang tidak rata dan berdebu saat cuaca panas.

Hal serupa juga dikatakan Ketua RT 09 Lingkungan Asahan Muhammad Said, mengungkapkan dalam rapat sosialisasi sebelumnya, pihak pelaksana sempat menjanjikan jalur lingkungan yang dibongkar untuk penanaman pipa akan langsung diaspal kembali. Namun, dalam praktiknya, bekas galian tersebut justru ditutup menggunakan paving block. 

“Rencananya memang seperti itu. Perusahaan ini kan kita enggak tahu kemajuan perusahaannya, apakah jadi diaspal atau tidak,” katanya. 

Ia menjelaskan, pengerjaan pemasangan pipa di wilayahnya sudah mulai berjalan sejak akhir Agustus hingga Oktober. Meskipun warga setempat sempat bingung dengan perubahan metode rekondisi jalan tersebut, pihak lingkungan pada prinsipnya tetap menerima program pemerintah pusat. Dengan catatan ada tanggung jawab penuh dari pihak kontraktor.

“Ya, kami terima saja karena ini dari pemerintah, bukan swasta. Yang penting pihak proyek bertanggung jawab mengembalikan kondisi fasilitas umum agar tidak merugikan warga ke depannya,” jelasnya. 

Pekerja proyek SPALDT Mataram Lili, menjelaskan saat ini progres pemasangan jaringan pipa di wilayah Tanjung Karang dan sekitarnya sudah mencapai panjang sekitar 7.500 meter atau masuk dalam zona 9.

"Kalau di sini (Tanjung Karang), jaringan pipa yang dikerjakan sudah sekitar 7.500 meter dan masuk dalam zona 9," ungkap Lili saat ditemui di lokasi proyek.

Baca Juga: Sosialisasi Proyek SPALDT Mataram Tuai Kritik Tajam, Banyak Warga Bingung

Lili merinci, proyek pembangunan sistem pengelolaan air limbah ini merupakan program nasional yang dikerjakan serentak di tiga daerah besar di Indonesia, yakni Semarang, Pontianak, dan Mataram. Khusus untuk Kota Mataram, jaringan pipa utama akan dihubungkan secara bertahap hingga langsung tersambung ke rumah-rumah warga.

Kendati demikian, ia mengakui proses penyambungan ke tiap-tiap rumah warga memerlukan waktu yang cukup panjang. Target keseluruhan proyek hingga tuntas merata diperkirakan baru akan rampung pada rentang waktu 2028 hingga 2029.

“Pengerjaan itu sekitar 1260 hari,” katanya. 

Editor : Pujo Nugroho
Sumber : Liputan
proyek spaldt SPALDT Pemkot Mataram Tanjung Karang Mataram