LombokPost-Pada musim panas 1969, sebuah peristiwa ikonik yang dipenuhi dengan musik, perdamaian dan cinta merevolusi panggung konser dunia.
Woodstock, sebuah festival musik yang diadakan di desa kecil Bethel, New York, bukan sekedar konser.
Itu adalah manifesto generasi kontra-kultur yang tengah berkembang. Dimulai pada 15 Agustus dan berlangsung selama tiga hari yang epik.
Baca Juga: Kolaborasi Bareng Feel Koplo Kotak Remix Lagu Beraksi Jadi Khas Koplo
Woodstock tidak hanya menjadi penanda dalam sejarah musik, tetapi juga menjadi simbol semangat dan kebebasan.
dengan harapan awal untuk menarik sekitar 50 ribu pengunjung, Woodstock 69 malah manjadi magnet bagi lebih dari 400 ribu orang yang datang dari berbagai penjuru.
Dengan tema ''An Aquarian Experience: 3 Days of Peace and Music", peristiwa epik tersebut kemudian dikenal sebagai Woodstock dan menjadi identik dengan gerakan tandingan budaya pada tahun 1960-an.
Woodstock sukses, tetapi konser besar-besaran itu tidak berjalan tanpa hambatan: perubahan tempat di menit-menit terakhir, cuaca buruk, dan banyaknya penonton menyebabkan sakit kepala yang parah.
Meski begitu, meski—atau karena—banyaknya seks, narkoba, rock ‘n’ roll, dan hujan, Woodstock tetap menjadi perayaan yang damai dan mendapat tempat suci dalam sejarah budaya pop.
Dilansir dari history.com, festival Musik Woodstock merupakan gagasan empat pria, semuanya berusia 27 tahun ke bawah, yang sedang mencari peluang investasi: John Roberts, Joel Rosenman, Michael Lang dan Artie Kornfeld.
Baca Juga: Tiba-Tiba Jumat Lagi Single Kedua Dari Nadhif Basalamah Yang Liriknya Ditulis Penuh Perasaan
Keempatnya, dengan kombinasi keterampilan manajerial, semangat, inovatif dan kecintaan pada musi, bersama-sama menciptakan Woodstock Festival yang menjadi ikon gerakan kontra budaya pada era 1960-an.
Pertemuan keempat pria ini menciptakan sinergi yang mengubah wacana festival musik pada masanya. Menjadikan Woodstock tidak hanya sebagai peristiwa hiburan, tetapi juga sebagai simbol gerakan sosial dan budaya yang lebih besar.
John Robets bersama Joel Rosenman adalah pemilik asli lahan di Woodstock yang mencetuskan ide awal festival. Mereka awalnya mencoba mendirikan studio rekaman. tetapi ketika proyek itu tidak berhasil, mereka mencari cara untuk memanfaatkan lahan mereka.
Mereka berdua memimpin perencanaan dan organisasi festival. Dengan menyadari potensi pasar dari generasi mudah yang tengah berkembang, mereka fokus untuk menghadirkan pengalaman musik yang luar biasa dan melibatkan banyak orang.
Pasangan bisnis ini, meskipun memiliki latar belakang bisnis yang berbeda, berhasil menyatukan ide mereka untuk menciptakan festival musik terbesar pada masanya.
Keberanian mereka untuk mencoba hal baru dan mengambil risiko menghasilkan peristiwa sejarah yang tak terlupakan.
Baca Juga: Rock Ballads : Saat Keindahan Menjadi Persaingan (bagian 2 habis)
Michael Lang bergabung dalam tim sebagai presiden festival. Lang berkontribusi besar dalam membawa artis-artis terkenal dan merancang program acara yang mendefinisikan semangat Woodstock.
Lang telah menyelenggarakan Festival Musik Miami yang sukses pada tahun 1968.
Perannya dalam menarik perhatian musisi dan memastikan penyelenggaraan festival sukses sangat penting.
Dengan pengalaman di industri musik, Lang membantu menyatukan berbagai elemen dalam dunia musik pada saat itu. Perannya dalam merancang program acara dan mengelola hubungan dengan artis menciptakan line-up yang ikonik. Memastikan Woodstock menjadi sorotan dunia.
Baca Juga: Rock Ballads : Memesona Dalam Keheningan (bagian 1)
Nama terakhir, Artie Kornfeld, adalah seorang produser rekaman yang juga ikut bergabung dalam proyek Woodstock. Kornfeld adalah wakil presiden termuda di Capitol Records.
Kornfeld membawa pengalaman musiknya untuk mendukung perencanaan festival.
Ia berperan dalam menghubungkan penyelenggara dengan sejumlah besar artis yang kemudian menjadi penampil di Woodstock.
Kontribusinya dalam menghubungkan penyelenggara dengan artis-artis teranama membuktikan pentingnya kolaborasi dan jaringan menciptakan peristiwa sekalas Woodstock.
Keempat orang tersebut membentuk Woodstock Ventures, Inc. Dan memutuskan untuk menjadi tuan rumah festival musik. (bersambung)
Editor : Alfian Yusni