LombokPosr - Denng Caknan kembali jadi sorotan. Kali ini bukan karena lagu barunya, tapi pengakuan blak-blakan soal aturan tak tertulis di dunia musik Jawa.
Dalam podcast “Duduk Bareng Anji”, Denny membeberkan cara para musisi Jawa menjaga etika saat meng-cover lagu. Tak hanya soal izin, ternyata juga ada sistem bayar yang sudah jadi rahasia umum!
Musisi Jawa seperti Denny Caknan mengakui bahwa ada sistem beli putus dalam pengelolaan lagu, terutama jika ingin dipakai sebagai konten YouTube cover.
Dengan membayar Rp 2 juta hingga Rp 5 juta, seorang penyanyi bebas membawakan lagu tanpa harus setor royalti lagi.
Sistem beli putus lagu ini menjadi norma tidak tertulis yang berlaku luas di kalangan musisi Jawa.
Harga lisensi cover lagu tersebut bervariasi tergantung pada popularitas lagu dan nama penciptanya.
Lagu yang belum terlalu tenar mungkin hanya dihargai Rp 1 jutaan, namun untuk lagu-lagu top seperti karya Denny Caknan, bisa jauh lebih tinggi. Dan meski tak diatur formal, aturan ini dihormati secara luas.
“Saya biasanya kasih waktu satu bulan dulu sebelum orang lain boleh cover lagu baru saya,” ujar Denny dalam podcast bersama Anji.
Strategi itu dimaksudkan agar video klip asli bisa lebih dulu mendapat perhatian, dan memberi ruang bagi karya orisinal berkembang.
Tak hanya itu, Denny Caknan juga mengungkap etika yang kuat antar musisi Jawa. Mereka enggan merilis lagu baru jika ada rekan lain yang lagunya sedang viral.
Budaya “teposliro” (tenggang rasa) ini menjaga agar karya setiap musisi mendapatkan momen terbaik tanpa saling tubruk.
“Kita ini saling paham. Misalnya Mas Daru atau Guyon Waton lagi naik, yang lain nunggu dulu,” tambahnya. Etika ini menjadi aturan tak tertulis musik Jawa yang semakin menguat di era digital.
Denny juga menyebut musisi Jawa lebih terbuka dan cair dibanding industri musik ibu kota.
Sengketa hak cipta jarang terjadi karena komunikasi antar pelaku berjalan dengan baik. Hal ini berkebalikan dengan kasus nasional seperti polemik Agnes Monica dan Ari Bias.
Selain pendapatan dari manggung yang kabarnya bisa tembus Rp 100 juta per acara, Denny juga menikmati hasil dari royalti lagu dan cover lagu di YouTube.
Beberapa media menyebutkan, penghasilannya dari platform digital bisa menyentuh miliaran rupiah per bulan, berkat tingginya permintaan atas lagunya untuk di-cover.
Kesimpulannya, dunia musik Jawa bukan hanya soal nada dan lirik. Ada sistem, etika, dan budaya tak tertulis yang justru membuat para musisinya tetap guyub dan profesional.
Denny Caknan membuktikan, di balik ketenaran, ada strategi dan solidaritas yang kuat antar musisi lokal. (***)
Editor : Alfian Yusni