LombokPost - Musisi Ari Lasso kembali menjadi sorotan setelah membongkar kisah pilu yang mencerminkan bobroknya sistem royalti musisi Indonesia.
Dalam obrolan bersama Soleh Solihun di kanal YouTube, Ari mengungkap bahwa almarhumah Damayanti Noor, istri Chrisye, pernah terpaksa menjual koleksi piringan hitam milik sang legenda sebelum wafat.
Ari Lasso mengaku membeli vinyl koleksi Chrisye itu tanpa menawar. Menurutnya, tindakan Damayanti Noor adalah bentuk keputusasaan karena sistem royalti musisi Indonesia yang tidak mampu menjamin kesejahteraan keluarga musisi besar sekalipun.
Di antara koleksi yang dibeli Ari adalah album legendaris Badai Pasti Berlalu (1977) dan Jurang Pemisah (1977), lengkap dengan sertifikat keaslian.
“Kisah ini bikin saya sedih. Bayangkan, istri seorang legenda seperti Chrisye sampai menjual koleksi berharga karena royalti tidak cukup,” kata Ari Lasso.
Kisah ini menurutnya menjadi tamparan keras bahwa royalti musisi Indonesia masih jauh dari kata adil dan transparan.
Kritik Ari Lasso makin ramai setelah sebelumnya ia juga menyinggung jumlah royalti yang diterima dari Lembaga Manajemen Kolektif.
Wahana Musik Indonesia (WAMI) kemudian buka suara. Mereka mengklaim angka royalti yang viral di media sosial hanyalah laporan yang salah kirim, bukan total yang sebenarnya diterima Ari.
WAMI menegaskan, dalam satu periode distribusi, royalti yang diterima musisi bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Mereka pun meminta maaf atas miskomunikasi tersebut dan menyatakan siap diaudit demi membuktikan transparansi.
Polemik ini memicu reaksi publik luas. Banyak musisi dan pengamat musik menilai apa yang dialami keluarga Chrisye adalah simbol kegagalan sistem royalti musisi Indonesia.
Dorongan audit independen terhadap LMK semakin kencang, bahkan sejumlah anggota DPR menyatakan siap memfasilitasi agar sistem royalti bisa lebih transparan dan menyejahterakan pencipta musik.
Ari Lasso: Vinyl Chrisye Jadi Tamparan
Bagi Ari Lasso, pengalaman membeli vinyl Chrisye dari tangan Damayanti Noor adalah peristiwa yang tak terlupakan.
Baginya, ini bukan sekadar urusan koleksi musik, melainkan bukti nyata bahwa sistem royalti musisi Indonesia harus diperbaiki segera.
“Kalau seorang Chrisye saja keluarganya bisa kesulitan, bagaimana nasib musisi lain?” ujar Ari.
Pernyataan ini menjadi sorotan publik sekaligus mempertegas bahwa reformasi sistem royalti musisi Indonesia adalah keharusan, bukan lagi pilihan. (***)
Editor : Alfian Yusni