LombokPost - Suara lembut Ebiet G. Ade kembali menggema di tepi Pantai Kerandangan, Senggigi, Minggu (2/11) sore.
Dalam gelaran Senggigi Sunset Jazz 2025, sang legenda tampil sederhana namun memikat, menyihir penonton lintas generasi, termasuk para Gen Z yang ternyata hafal setiap bait lagunya.
Momen itu menjadi bukti bahwa Ebiet G. Ade bukan sekadar musisi lawas, melainkan ikon abadi yang mampu menembus batas waktu.
Dengan gitar akustik di tangan, ia membuka penampilan sang legenda, disambut tepuk tangan penonton muda yang larut dalam suasana sore.
“Lagu-lagu Ebiet itu seperti doa,” kata seorang penonton muda. “Meski diciptakan puluhan tahun lalu, liriknya masih relevan dengan hidup kita sekarang,” tambahnya.
Di tengah deru ombak dan sinar jingga yang perlahan meredup, Ebiet G. Ade menampilkan “Untuk Kita Renungkan” dan “Titip Rindu Buat Ayah”.
Tak ada tata cahaya berlebihan, tak ada koreografi megah hanya kejujuran seorang legenda yang berbicara lewat nada dan kata. Kebersahajaan itulah yang justru membuat penampilannya begitu kuat dan menyentuh.
Festival Senggigi Sunset Jazz 2025 memang sengaja menghadirkan musisi lintas generasi. Dari nama-nama besar hingga talenta muda, semua tampil dalam satu panggung yang menggabungkan harmoni alam dan musik.
Namun sore itu, Ebiet G. Ade menjadi poros emosi, membangun jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Kehadiran Ebiet G. Ade di Senggigi Sunset Jazz 2025 juga menjadi pengingat bahwa karya sejati tak pernah lekang dimakan waktu.
Lagu-lagu yang dulu dinyanyikan dengan kaset dan radio kini bergema lagi lewat ponsel dan media sosial, tapi maknanya tetap sama: tentang manusia, cinta, dan kehidupan.
Bagi banyak orang tua, malam itu adalah nostalgia. Bagi Gen Z, itu adalah pertemuan pertama dengan sosok yang selama ini hanya mereka dengar lewat playlist Spotify dan TikTok. Dan di antara dua dunia itu, Ebiet G. Ade berdiri, sederhana, hangat, dan tetap relevan.
Saat lagu penutup “Berita Kepada Kawan” berkumandang, ribuan penonton berdiri, melambaikan tangan sambil bernyanyi.
Senja di Senggigi pun seolah ikut menunduk, memberi hormat pada seorang legenda yang tak pernah kehilangan makna. (***)
Editor : Alfian Yusni