Kabagpenum Divhumas Polri Kombespol Ahmad Ramadhan menuturkan, dari deteksi yang dilakukan satgas diketahui tujuh provinsi defisit atau kekurangan beras. Yakni, Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. "Padahal di Bulog stok beras nasional cukup," jelasnya.
Jumlah stok beras itu mencapai 1,4 juta ton di Bulog. Jumlah itu diprediksi cukup hingga lebaran. Karena itu defisit beras di tujuh provinsi ini kemungkinan karena distribusinya. "Satgas mendorong distribusi lebih cepat," paparnya.
Lalu, saat ini stok gula mencapai 700 ribu ton. Jumlah itu diprediksi kurang hingga lebaran. Kekurangannya mencapai 8.400 ton. "Kemungkinan akan dipenuhi dengan impor," jelasnya.
Satgas Pangan Polri akan mengawasi proses impor tersebut. Sekaligus distribusi gula ke daerah-daerah."walau sempat naik harga gulanya tapi sudah mulai turun," urainya.
Dari harga Rp 17.500 per kg, harga gula turun menjadi Rp 16. 300 per kg. Dia mengatakan bahwa inspeksi mendadak akan dilakukan untuk mencegah terjadinya penimbunan. "Kami tindak kalau ada penimbun," urainya.
Sementara Kadivhumas Polri Brigjen Argo Yuwono menegaskan, Polda jajaran telah dikerahkan untuk turun ke pasar dan setiap pusat bahan pangan. Hal itu sesuai interuksi presiden agar bisa menstabilkan harga. "Distribusi hingga pasar dicek semua," jelasnya.
Penyebab kenaikan harga ini akan diketahui, apakah ada yang mencoba memainkannya. Tindakan tegas akan diambil bila ditemukan adanya pidana. "Tidak ada ruang untuk orang yang mencoba ambil keuntungan dengan cara tidak benar," tegasnya.
Sebelumnya, Presiden Jokowi menginstruksikan Satgas Pangan mendeteksi penyebab kenaikan harga sejumlah pangan. Seperti gula, beras dan bawang merah. Presiden mencurigai ada pihak yang memainkan harga tersebut.
Bagimana Dengan NTB?
Sebelumnya April lalu Pemprov NTB mengklaim stok pangan NTB masih cukup. Bahkan cukup hingga setahun ke depan. ”Setelah kami turun mengecek gudang-gudang sembako, alhamdulillah seperti beras masih bisa sampai 12 bulan ke depan,” kata Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) NTB H Fathurrahman (16/4) lalu.
Terlebih saat ini, para petani sedang panen raya di seluruh kabupaten/kota. Hasil panennya cukup bagus. Faktor cuaca sangat mendukung sehingga panen tidak tergganggu. ”Dalam waktu dekat akan ada penyerapan hasil panen petani,” katanya.
Demikian juga dengan gula, NTB menurutnya tidak memiliki persoalan, sebab pabrik gula di Dompu sudah beroperasi. ”Kami tetap komunikasi dengan PT SMS untuk mengantisipasi kekurangan gula,” jelasnya.
Sebagai daerah agraris, NTB diuntungkan dengan situasi itu. Produksi pertanian lancar sehingga kebutuhan pokok di daerah bisa tercukupi selama pandemi Covid-19. ”Petani terus berproduksi agar stabilitas pangan tetap terjaga,” katanya.
Karena itu, warga diminta tidak panik dan memborong dalam jumlah banyak (panic buying). Jika itu terjadi, para spekulan akan menaikkan harga. ”Ini yang perlu kita hindari,” katanya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB H Aminurrahmah juga memastikan, dari data produksi pangan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. ”Pangan pokok strategis aman,” sebutnya.
Ketersediaan pangan menurutnya cukup dinamis karena sangat tergantung pada produksi. Tidak hanya produksi pertanian, tapi juga peternakan. Tahun ini tidak gangguan panen dan penyakit hewan menular hewan. ”Produksi jalan terus,” jelasnya.
Dia berharap pandemi Covid-19 segera berakhir dan kondisi kembali pulih, sehingga warga tidak merasa resah lagi. ”Intinya jangan terlalu panik,” imbuhnya.(ili/idr/JPG/r6) Editor : Administrator