“Harga gabah bulan April 2021 lalu mencapai titik terendah dalam lima tahun terakhir,” kata Johan Selasa (13/7/2021).
Intervensi kebijakan pemerintah untuk kembali membuat harga gabah pada posisi seharusnya kini menjadi keniscayaan di tengah pandemi. Hal itu kata Johan sangat penting untuk membangun semangat para petani.
“Stabilitas harga gabah harus diberi jaminan oleh pemerintah,” tandasnya.
Saat ini, kata dia, memang sedang terjadi surplus besar karena sejumlah sentra produksi telah memasuki masa panen. Namun pada saat yang sama, harga gabah kering panen (GKP) masih tertahan di bawah harga pembelian pemerintah.
Johan pun mengungkapkan perbandingan rata-rata harga gabah pada Juni 2021 dengan tahun Juni 2020. Terlihat adanya kurva penurunan. Di tingkat petani untuk GKP turun sebesar 3,7% dan untuk gabah kering giling (GKG) turun drastis sebesar 15,08%. Demikian juga dengan gabah luar kualitas mengalami penurunan sebesar 5,3%.
Dia pun mendorong pemerintah memperbaiki paket kebijakan harga dasar gabah dan beras pembelian pemerintah sebagai suatu kebijakan strategis pada masa pandemi untuk menstabilkan harga gabah di setiap wilayah. Ditegaskannya, insiden anjloknya harga gabah selalu terjadi pada saat musim panen.
“Hal ini berakibat pada kerugian petani pada masa musim pandemi ini,” tegas Johan.
Karena itu, pemerintah diingatkan agar segera melakukan intervensi kebijakan melalui kajian yang mendalam untuk membela kepentingan petani agar tidak dirugikan. Apalagi, pada umumnya petani menjual gabah dalam bentuk gabah kering panen dan jarang dalam bentuk GKG maupun beras. Sehingga, seharusnya konstruksi kebijakan pembelian pemerintah, mesti diprioritaskan untuk pembelian GKP sebagai instrumen penyangga harga gabah petani agar harganya selalu stabil.
Politisi asal Pulau Sumbawa ini juga meminta pemerintah agar konsisten melarang impor beras tatkala produksi domestik meningkat tajam. Sikap tegas pelarangan impor beras dapat bermanfaat untuk meningkatkan harga gabah petani agar tidak terjadi disparitas harga yang tajam.
“Saya melihat akar penyebab dari anjloknya harga gabah petani adalah karena tarif impor beras yang terlalu rendah, sehingga ketika ada rencana impor dari pemerintah maka akan langsung mempengaruhi anjloknya harga gabah petani,” papar Johan.
Itu sebabnya, saat ini diperlukan kebijakan pemerintah untuk membuka pasar beras domestik sehingga harga beras yang saat ini cukup tinggi di pasar dunia, dapat ditransmisikan. Dengan begitu, harga gabah petani dapat mengalami peningkatan.
Selain itu, Pemerintah juga diminta mewajibkan Bulog agar beras yang disalurkan dalam program Bansos pada masa pandemi haruslah beras dari pengadaan dalam negeri yang berasal dari hasil operasi pembelian gabah petani secara signifikan. (kus/r8) Editor : Kusmayadi,