Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan vaksin akan melindungi masyarakat dari gejala berat bahkan risiko kematian hingga 95 persen. Penularan virus, apa pun variannya, tidak melihat populasi tertentu sehingga setiap orang bisa tertular. Di dalamnya, termasuk kelompok rentan seperti lansia, anak, dan orang dengan komorbid yang harus diperhatikan.
Dia mengungkapkan bahwa varian virus di Indonesia saat ini, 98 persen adalah virus Delta. Namun begitu tidak tertutup kemungkinan masuknya varian virus baru dari negara lain seperti Mu atau Lambda. “Masyarakat jangan euforia. Cakupan vaksinasi kita belum cukup, jadi kita harus tetap saling mengingatkan dan disiplin protokol kesehatan,” kata Nadia, Selasa (14/9).
Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid dr Alexander Ginting mengatakan, virus covid sebagaimana virus pada umumnya. Memiliki sifat alamiah untuk bermutasi, berevolusi, dan bereplikasi. Sepanjang terjadi penularan, maka virus akan menemukan inang baru untuk berkembang dan bermutasi, sehingga kemungkinan lahirnya varian baru akan tetap ada.
Karena itu, upaya pengendalian pandemi seperti disiplin protokol kesehatan, penguatan testing, tracing, treatment (3T) serta vaksinasi, harus tetap dilaksanakan. “Intinya tidak boleh lengah. Apapun varian virusnya, kita harus tetap vaksin, sebab vaksin memberikan proteksi dari gejala berat maupun kematian. Kemudian, meskipun sudah divaksin, kita masih bisa terinfeksi virus,” kata Alexander.
Upaya pengendalian covid, menurut Alexander, bukan hanya menjadi tugas pemerintah saja, tapi juga tanggung jawab setiap pihak. Ia menyebutkan, sebagai upaya perluasan cakupan vaksinasi, Posko Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di desa dan kelurahan diharapkan dapat melakukan sistem jemput bola. Mendatangi dan memberikan kemudahan akses bagi kelompok khusus.
”Vaksinasi bukan hanya hak mereka yang sehat sensorik dan motorik. Justru harus menjangkau kelompok rentan, misalnya para lansia yang memiliki angka mortalitas tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, setiap daerah sebaiknya memiliki strategi, mekanisme dan pendekatan berbeda dalam rangka akselerasi vaksin. Tentu disesuaikan dengan kondisi alam, juga karakteristik dan pola hidup warga. Karena itu, pelaksanaan vaksinasi di daerah sangat membutuhkan kerja sama dari pemimpin daerah juga keterlibatan operasional dari Dinas Kesehatan setempat.
Terkait manfaat vaksinasi, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Vaksinolog dr Dirga Sakti Rambe menambahkan, vaksin juga memiliki andil dalam menekan angka penularan. “Orang yang sudah divaksin, replikasi virus di dalam tubuhnya lebih sedikit. Karena itu, kemampuannya dalam menularkan virus akan lebih rendah,” jelas Dirga.
Masyarakat tidak perlu tergesa-gesa mengejar vaksin booster, karena memperluas dan memperbanyak cakupan vaksin lebih penting daripada kekebalan yang terpusat pada satu orang. “Yang mengendalikan pandemi adalah kekebalan komunitas, bukan individu,” tegasnya. (jlo) Editor : Administrator