Ini dikarenakan perwakilan negara anggota dan undangan akan melihat berbagai keunggulan Indonesia. Di antaranya lokasi penyelenggaraan yang diatur dengan ornamen kearifan lokal Indonesia.
Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo, setiap tempat penyelenggaraan pertemuan G20 harus memberikan kesan kuat bagi delegasi maupun pimpinan yang hadir. Sehingga berbeda dengan penyelenggaraan rangkaian kegiatan G20 di negara-negara lain sebelumnya.
”Suasana persidangan yang di Bali misalnya. Aksesorisnya ciri kearifan lokal Bali sangat bagus. Sehingga persidangan akan lebih hidup dan peserta bergairah dalam mengikuti pertemuan," kata Wayan Koster diskusi media di Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) secara virtual Senin (13/12).
Gubernur Koster menambahkan jika di setiap pertemuan yang digelar di Bali akan menampilkan banyak kearifan lokal yang menjadi ciri khas dari Pulau Dewata. Dari mulai ornamen hingga tarian khas Bali yang terkenal, menjadi bagian yang akan ditampilkan oleh penyelenggara pertemuan
Pemerintah Bali juga sedang menata hutan mangrove seluas 1.200 hektare. Lokasi ini mejadi salah satu titik yang diyakininya mampu memikat para delegasi maupun pimpinan G20 yang datang. Di sana nantinya, juga memiliki fasilitas persemaian yang mampu menghasilkan 10 juta bibit.
Salah satu gelaran acara G20, akan bertempat di sekitar hutan mangrove sebagai simbol dukungan Indonesia dalam komitmennya mengantisipasi perubahan iklim di masa mendatang. Sehingga hutan mangrove itu sekaligus menunjukkan langkah konkret dalam menindak lanjuti perubahan iklim.
Setiap bangunan yang dilintasi para delegasi ke tempat perhelatan G20 tersebut diusulkan mempergunakan panel surya. Saat ini ide tersebut tengah di kaji secara matang. Langkah ini juga menujukkan komitmen Indonesia yang tengah menyuarakan penggunaan energi bersih bebas karbon.
Dalam rangka pencegahan penyebaran wabah global covid, Koster menjelaskan, dalam beberapa bulan terakhir, kasus positif di wilayahnya telah melandai secara signifikan. Melandainya kasus positif di Bali dipicu faktor terbentuknya kekebalan komunal atau herd immunity, hasil dari vaksinasi yang gencar dilakukan pemerintah.
Hingga saat ini pencapaian vaksinasi dosis pertama sudah mencapai 101,6 persen dan dosis kedua mencapai 90 persen dari jumlah populasi penduduk yang tinggal di Bali. "Ini semua hasil dari cakupan vaksinasi yang siginfikan," katanya.
Koster optimis, penyelenggaraan G20 di wilayahnya akan memberikan nuansa yang baru. Sehingga, G20 diselenggarakan di Indonesia akan jauh berbeda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya di negara lain di berbagai benua.
Adanya pengaruh ini, tentunya akan membawa dampak positif terhadap eksistensi tanah air di mata dunia. Dengan begitu, Indonesia mendapatkan kepercayaan dan kehormatan sebagai tuan rumah G20 akan dapat tercapai. "Kami akan bikin lebih bagus lagi dalam pertemuan-pertemuan G20," pungkasnya. Presidensi Indonesia dalam Group of Twenty (G20) dimulai sejak hari ini Rabu, 1 Desember 2021 lalu dan dibuka langsung Presiden Joko Widodo. Menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk berkontribusi lebih besar bagi pemulihan ekonomi global
Dengan partisipasi aktif membangun tata kelola dunia yang lebih sehat, lebih adil, dan berlanjutan berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Oleh karena itu, Presidensi G20 Indonesia mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger”.
Dengan tema tersebut, Presidensi G20 Indonesia diharapkan dapat memberikan semangat baru untuk mewujudkan tatanan dunia yang bukan hanya memberikan kesejahteraan dan kemakmuran, namun juga menjamin keberlanjutan kehidupan di masa depan.
Indonesia akan menggunakan Presidensi G20 untuk memperjuangkan aspirasi dan kepentingan negara-negara berkembang, sehingga dapat tercipta tata kelola dunia yang lebih adil. Utamanya untuk memperkuat solidaritas dunia dalam mengatasi ancaman perubahan iklim dan mendorong pembangunan berkelanjutan. (jlo) Editor : Administrator