Handoko mengatakan yang mengerjakan vaksin Merah Putih ada tujuh tim. Diantaranya adalah LIPI, Lembaga Eijkman dan lainnya. ’’Tim yang (lebih, Red) maju dari Unair,’’ katanya dalam temu pemimpin redaksi di Jakarta Selasa malam (4/1/2022).
Mantan kepala LIPI itu mengatakan penelitian vaksin Merah Putih di Unair sudah selesai menjalani uji praklinis. Saat ini sudah masuk ke uji klinis. Sementara itu di Lembaga Eijkman belum masuk tahap uji praklinis.
Dia lantas menyatakan kegiatan atau fase uji klinis vaksin Merah Putih Unair diharapkan selesai semester pertama 2022 ini. ’’Kalau tidak ada hambatan, dan lolos (uji) terus, bayangan saya sebelum akhir 2022 sudah ada izin edarnya,’’ kata Handoko. Tetapi dia mengingatkan dalam setiap tahapan penelitian, selalu ada potensi atau resiko gagal. Termasuk dalam pelaksanaan uji klinis.
Dia mengatakan kalau pun Indonesia gagal memiliki vaksin Merah Putih, bukan sesuatu yang memalukan. Dia mengatakan banyak negara besar dan dengan budaya penelitian kuat, tidak memiliki vaksin Covid-19 sampai saat ini. Dia mencontohkan Jepang dan Jerman tidak punya vaksin Covid-19. Kemudian riset vaksin di Perancis juga tidak berhasil.
Handoko menuturkan dengan integrasi atau penggabungan sejumlah lembaga riset ke BRIN, memiliki dampak terhadap riset-riset. Termasuk dalam riset vaksin Merah Putih tersebut. Dia mencontohkan masuknya Lembaga Eijkman ke BRIN, bisa membuat riset vaksin yang dilakukan lembaga itu semakin kuat. Sebab bisa menggunakan fasilitas penelitian yang ada di BRIN.
Riset vaksin oleh Lembaga Eijkman bisa diperkuat dengan riset vaksin yang dilakukan LIPI. Sebab kedua lembaga penelitian ini sama-sama bergabung ke dalam BRIN. Apalagi dalam waktu dekat Balitbangkes di bawah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga bergabung ke BRIN. ’’Maka ini akan semakin memperkuat pengembangan vaksin Covid-19,’’ tuturnya. (lyn/syn/wan/lum/JPG/r6) Editor : Baiq Farida