“Harapan kami pada pak direktur yang mengetuai pegawai, kalau bisa merekrut kebutuhan tenaga kerjanya dari Lombok (NTB) dan kami siap untuk menyuplai. Jangankan cuma 4 ribu, bahkan 10 ribu kami siap bagi (kirim),” katanya, di hadapan para petinggi Sime Darby Plantation, kemarin (14/7).
Sekadar diketahui Sime Darby Plantation merupakan perusahaan multinasional yang bergerak di bidang pertanian dan perkebunan. Menangani industri dari hulu ke hilir untuk kelapa sawit.
Sime Darby Plantation tidak hanya perusahaan sawit terbesar di Malaysia, tetapi juga nomor dua terbesar di dunia dalam rantai pemasok minyak sawit global.
Namun demikian, Muazzim Akbar menegaskan kesiapan itu harus diikuti dengan komitmen Sime Darby Plantation menyiapkan fasilitas yang memadai untuk PMI.
Terutama fasilitas standar seperti tempat tinggal, air, listrik, gaji, tunjangan kesehatan, pendidikan, hingga asuransi.
“Kami juga meminta kerja sama yang baik dari pihak Sime Darby, karena kontrak kerja yang kita siapkan itu selama 2 tahun (dari Indonesia) bila ada perpanjangan kontrak lagi, mohon dikoordinasikan dengan kedutaan besar kami,” imbuhnya.
Hal ini berkaitan dengan layanan asuransi yang disiapkan di Indonesia, perlu dikonfirmasi untuk diperpanjang. Memastikan, para PMI mendapat layanan terbaik dari pemerintah Indonesia.
“Jadi kami ingin keseluruhan hidup PMI itu terjamin, tidak hanya pekerja yang mendapat asuransi dari perusahaan, tapi juga di rumah (Indonesia) hidup keluarga PMI juga terjamin, sampai akhirnya nanti mereka kembali ke Indonesia,” ujarnya.
Selanjutnya, pria yang juga politisi PAN itu mengingat para PMI yang bekerja di Sime Darby untuk selalu menaati setiap ketentuan menjadi PMI legal.
“Kalau ada masalah atau apapun itu di tempat kerja, jangan kabur, tapi bicarakan baik-baik agar bisa dicarikan solusi. Sebab kalau kabur itu namanya PMI legal menjadi ilegal, dan dampaknya akan sangat fatal. Nama Anda (PMI, Red) bisa di blacklist oleh sistem yang baru, sehingga mau bagaimanapun cara Anda untuk kembali membuat paspor, sistem tetap menolak,” katanya di hadapan puluhan PMI Sime Darby Plantation.
Terkait kabar terbaru kembali dihentikannya pengiriman PMI ke Malaysia, Muazzim Akbar menegaskan sifatnya sementara.
“Kalau soal itu tidak usah risau, karena sifatnya temporary (sementara, Red),” katanya.
Ketua DPW PAN NTB itu yakin, dalam waktu dekat keran pengiriman akan kembali dibuka. Seiring dengan komitmen kedua negara yakni Indonesia dan Malaysia mematuhi ketentuan yang telah disepakati.
Seperti diketahui, penutupan pengiriman itu buntut dari pelanggaran kesepakatan perekrutan pekerja yang telah diteken kedua negara.
Bahkan kabar beredar bila buntut dari kebijakan penghentian oleh pihak Indonesia menjadi pukulan berat bagi Malaysia. Sebab dengan penghentian itu, Malaysia terancam kekurangan 1,2 juta pekerja yang dapat menggagalkan pemulihan ekonomi negeri Jiran itu.
Pelanggaran itu yakni langkah otoritas Imigrasi Malaysia yang terus menggunakan sistem rekrutmen online untuk pekerja Rumah Tangga. Padahal sistem itu diduga terkait dengan perdagangan manusia dan kerja paksa. Padahal telah ada komitmen meningkatkan perlindungan pekerja rumah tangga yang diperkerjakan di Malaysia, pada April lalu.
Sementara itu, pihak Sime Darby Plantation mengungkapkan bila pihaknya saat ini membutuhkan sekitar 4 ribu pekerja untuk menjaga produktivitas Sime Darby Plantation.
Roslin Azmy Hasan, CEO Upstream Sime Darby Malaysia, mengatakan jumlah itu diperlukan untuk segera mengisi kekosongan pekerja yang tidak bisa terisi selama masa Pandemi Covid-19.
“Kita ada tenaga kerja asing, sebanyak 15 ribu tenaga kerja, yang di mana sebagian besar merupakan Pekerja Migran Indonesia yang kita gunakan di kebun-kebun kita, pabrik-pabrik kita,” katanya.
Sime Darby ditegaskannya memiliki komitmen besar untuk memberikan layanan fasilitas memudahkan pekerja. Terutama layanan standar untuk sandang, pangan, dan papan. Begitu juga akses kesehatan, pendidikan, dan pengembangan minat dan bakat.
Sime Darby Plantation saat ini telah memiliki cabang di sejumlah negara. “Termasuk di Indonesia kita punya kebun dan pabrik kita di Sumatera, Kalimantan, dan juga Sulawesi, dan juga di Papua Nugini,” ulasnya.
Wakil Ketua DPRD NTB H Mori Hanafi yang juga ikut dalam kunjungan ke Sime Darby Plantation, menegaskan kesiapan mendorong pemerintah membangun komunikasi agar perekrutan dalam skala besar dapat berjalan sesuai harapan.
“Tentu ini menjadi harapan kita bersama, agar kedua negara bisa saling menguntungkan dan warga kita yang bekerja di Malaysia kesejahteraannya meningkat. Tentu dengan komitmen kerja sama yang jelas dan dipatuhi dengan baik,” katanya. (zad/r2)
Editor : Administrator