Dari 12.500 hektare lahan yang masuk wilayah operasi kami, terdapat 3.364,76 hektare lahan telah dimanfaatkan untuk operasional tambang. Secara bertahap kami melakukan reklamasi dan telah selesai seluas 768 hektare dari total 2.800 hektare yang akan direklamasi,” kata Kartika Octaviana, Vice President of Corporate Communications & Investor Relations untuk AMMAN, Jumat (7/7/2023).
Dia menegaskan, pihaknya berkomitmen untuk terus melakukan kegiatan reklamasi berkelanjutan yang telah kami laksanakan sejak pertama kali beroperasi. Kegiatan reklamasi pun telah memulihkan dan memperbaiki kualitas lingkungan serta ekosistem di wilayah lingkar tambang dan dapat berfungsi kembali dengan optimal.
Secara teknis kata Kartika, jenis vegetasi yang ditanam di lahan reklamasi adalah spesies site specific, sesuai dengan tipe hutan di Batu Hijau. Tujuannya adalah untuk mengembalikan keadaan ekosistem hutan kembali sesuai dengan rona awal melalui kegiatan reklamasi.
Dijelaskan, program penghijauan yang dijalankan AMMAN tidak hanya fokus dalam memulihkan bekas area operasional tambang saja, namun yang juga menghasilkan nilai ekonomis bagi masyarakat.
Selain itu, melalui pendekatan Etnobotani, AMMAN turut menanam sekitar 1.000 pohon nira, sehingga dapat menghasilkan aren di kawasan hutan. Tanaman yang merupakan sumber Hasil Hutan Bukan Kayu ini, merupakan salah satu sumber penghasilan bagi masyarakat Sumbawa Barat, khususnya di wilayah Tongo.
Tidak hanya itu, AMMAN juga turut berfokus pada produk hilir dari aren. Antara lain dengan mendirikan Rumah Produksi Aren yang diharapkan mampu meningkatkan keterampilan para petani dalam mengolah produk turunan dari tanaman ini.
“Seluruh program reklamasi dapat berjalan dengan baik dan lancar atas dukungan dari sejumlah pihak antara lain KPH Sejorong Mataiyang, Nusa Tenggara Barat dan Pusat Reklamasi Tambang Institut Pertanian Bogor,” kata Kartika.
Demi menjaga keberhasilan proses reklamasi dan menjaga kelestarian lingkungan, Kartika melanjutkan, AMMAN menggandeng Pusat Reklamasi Tambang IPB sebagai pihak ketiga yang independen dalam melakukan pengawasan.
Sementara itu, Kepala Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan Sejorong Mataiyang, NTB, Syahril mengatakan, selaku pengelola hutan pihaknya berharap agar apa yang telah dilakukan bersama AMMAN ini dapat turut dipelihara oleh semua pihak.
“Semoga tanaman-tanaman ini dapat dijaga bersama, sehingga mampu memberikan manfaat kepada generasi kita selanjutnya,” jelas Syahril.
Bibit aren tersebut telah mulai ditanam AMMAN semenjak tahun 2020. Penanaman diawali dengan 1.000 bibit di sepanjang Sungai Sejorong di Sumbawa Barat. Setelahnya dilanjutkan dengan penanaman 3.000 bibit lagi tahun 2021 dan 2022 di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Sumbawa. Secara keseluruhan AMMAN telah melakukan penanaman 1,5 juta pohon di area reklamasi, 1,1 juta pohon di Area Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai dan 7.150 pohon untuk program etnobotani, mangrove dan hutan pantai. (kus/r6) Editor : Kusmayadi,