HAMDANI WATHONI, Mataram
Pria ini adalah sosok yang murah senyum. Warga Perumahan Graha Majapahit mengenalnya sebagai sosok yang ramah dan ringan tangan. Maklum ia menjabat sebagai ketua RT di perumahan tersebut. Bulan lalu di tanggal 26 Juni 2023, Haji Syukri, sapaannya berhasil mewujudkan mimpinya berkeliling seribu masjid di beberapa daerah yang ada di Pulau Lombok, Sumbawa hingga Arab Saudi untuk mengumandangkan azan.
Salah satu kisah yang menurutnya paling berkesan adalah ketika ia naik ke atas bukit di wilayah pedalaman Sekotong Lombok Barat hingga bertemu dengan jamaah masjid yang kakinya buntung atau mengalami kecacatan fisik.
“Sebenarnya kalau ditotalkan ada 1.004 masjid tempat saya azan. Ada pengalaman berbeda di setiap masjid ini yang tidak akan saya lupakan seumur hidup,” tuturnya.
Salah satunya adalah pengalamannya mengumandangkan azan di masjid yang berada di perbukitan Bangko-bangko wilayah Sekotong Lombok Barat. Mengumandangkan azan di masjid ini tidak mudah. Ia harus menempuh jarak tiga kilometer naik ke atas bukit Dusun Pemalikan Beleq untuk menuju Masjid Riyadussolihin Bangko-bangko. Medan yang sulit tak mematahkan niatnya. Ia rela menempuh jalan yang tidak mudah ini semata-mata mewujudkan niatnya untuk mengumandangkan azan di sana. Dengan harapan masjid tersebut kelak akan menjadi saksi di hari pembalasan jika ia telah menginjakkan kakinya di sana.
“Itu saya pikir butuh perjuangan yang tidak mudah. Tapi Alhamdulillah bisa saya lakukan,” syukur pria yang tanggal 31 Juli mendatang genap berusia 49 tahun.
Ia juga kadang harus siap menghadapi kondisi di luar prediksi. Misalnya hujan angin hingga ban kendaraan yang bocor. Namun hal itu semua tidak pernah menyurutkan niatnya untuk mengumandangkan azan di masjid.
Ada satu pengalaman yang menurutnya patut menjadi pelajaran tidak hanya bagi dirinya tetapi semua orang. Itu ketika ia mengumandangkan azan di masjid ke-963. Tepatnya di Masjid Darul Faizin Paok Motong Lombok Timur.
“Di sana saya bertemu dengan salah satu warga yang buntung tidak ada kakinya. Namanya Pak Awan. Dia menggunakan kursi roda lalu ditaruh di depan masjid, kemudian ia naik tangga masjid merangkak ke saf paling depan,” terangnya.
Di sini ia merasa begitu malu melihat semangat mereka yang memiliki keterbatasan fisik namun sangat bersemangat menjawab panggilan azan. Ironisnya, banyak orang yang memiliki tubuh yang sempurna, sehat tanpa cacat justru seringkali mengabaikan azan hingga melalaikannya. Sehingga dari warga tersebut ia merasa mendapat tamparan keras agar terus meningkatkan semangat beribada tepat waktu dan tidak mengabaikan azan.
“Saya pikir ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Jika mereka yang fisiknya tidak lengkap dan tidak seberuntung kita bisa menunaikan kewajiban tepat waktu menjawab panggilan azan, lalu kenapa kita tidak bisa?” ucapnya.
Berharap bisa Azan di Masjid Baiturrahman Aceh
Memulai perjalanannya melaksanakan azan di seribu masjid sejak 7 Februari tahun 2021 dan menuntaskannya di 26 Juni 2023, berbagai pengalaman yang tak terlupakan dialami H Ahmad Syukri. Bertemu dengan takmir masjid hingga jamaah yang bermukim di sekitar masjid yang didatanginya memberinya pelajaran tersendiri untuk diambil hikmahnya.
Ia menceritakan pernah bertemu salah satu jamaah tunanetra di salah satu masjid yang didatanginya. Setelah berdialog dengan jamaah tersebut, konon warga yang tunanetra tersebut sebelumnya mengaku tidak buta. Namun karena aktivitasnya yang hampir tiap hari menenggak minuman keras, tiba-tiba ia mengalami sakit yang membuat penglihatannya menghilang.
"Sejak saat itu ia kemudian bertaubat dan menjadi ahli masjid," tutur suami dari Hj Irma Hairani tersebut.
Pengalaman lainnya, Haji Syukri, sapaannya juga pernah dikira warga sebagai seorang penculik anak. Itu terjadi ketika isu penculikan anak sedang ramai. Beruntung ia tidak sampai dihakimi massa karena buru-buru menjelaskan jika dirinya merupakan seorang muazin yang sedang melakukan perjalanan untuk azan di seribu masjid.
"Itu kejadiannya di wilayah Sesaot Lombok Barat. Saya dikiranya penculik anak," kenangnya sembari tertawa.
Meski demikian, ia mensyukuri penerimaan masyarakat atas niatnya untuk bisa azan di masjid yang ia datangi cukup bagus. Mereka dengan senang hati memberinya kesempatan mengumandangkan azan di masjid pemukiman warga. "Cuma satu yang pernah saya ditolak nggak boleh azan di sana. Itu di Masjid Kebon Roek. Karena di sana ada seorang mualaf yang setiap hari azan di masjid tersebut (karena semangatnya azan)," ungkapnya.
Namun itu menurutnya tak menjadi masalah. Karena ia tetap bisa Azan di masjid lain untuk menggenapkan misinya azan di seribu masjid. Pria yang rambutnya sudah memutih ini menjelaskan untuk bisa menuntaskan impiannya azan di seribu masjid butuh modal dan tekad yang kuat. Setidaknya ia memaparkan ada empat hal yang dibutuhkan. "Pertama, suara harus bagus. Kemudian harus sehat fisik atau jasmani, butuh dana, dan Istiqomah. Istiqomah ini yang berat," paparnya.
Dengan perjuangan panjang sekitar dua tahun lima bulan, ia bersyukur bisa mewujudkan keinginannya azan di seribu masjid. Haji Syukri kini masih punya satu harapan lagi sesuai pesan gurunya TGH Ahmad Muchlis. Ia ingin azan di Masjid Baiturrahman Aceh yang diketahui berdiri kokoh ketika tsunami melanda wilayah tersebut.
Masjid ini menjadi sorotan media internasional karena menjadi satu-satunya bangunan yang bertahan ketika bangunan lainnya roboh dan hancur diterjang gempa dan gelombang tsunami. "Saya berharap suatu saat bisa azan di sana," tandasnya. (*/r3)
Editor : Administrator