LombokPost-Gala Dinner Konfrensi Pemuda Hakka Indonesia ke 7 yang dilaksanakan di Mataram, NTB, Jumat (1/9/2023) menghadirkan sosok menarik.
Dia adalah Novi Basuki. Tokoh muda yang mendedikasikan dirinya sebagai sinolog, peneliti, penulis dan pengamat politik sejarah Islam di China.
Dihadirkan sebagai pembicara dalam acara itu Novi menerangkan banyak kesamaan antara filsafat kuno China dengan Islam.
‘’Ulama-ulama pada saat itu untuk mendakwahkan Islam tidak tidaklah bersebrangan dengan ajaran konfusianisme. Yang juga mengajarkan pentingnya hidup yang baik, berbakti dan menghormati leluhur,’’ jelas Novi.
Baca Juga: Gamelan Srikandi NTB Pukau Malaysia Membawakan Lagu Daerah NTB
Dijelaskan, Konfusianisme diambil dari nama seorang filusuf terkenal Tiongkok pada abad ke 6 SM, Konfusius.
Di dalam Islam, kata Novi, ada ajaran Wasathiyah, yang dinilai persis dengan yang diajarkan oleh ajaran Konfusius. ‘’Bahwa orang memeluk kepercayaan dengan tidak ekstrim kanan dan kiri. Ini mirip dengan yang disabdakan Nabi Muhammad,’’ kata penulis buku “Ada Apa Dengan China?” ini.
Ulama pada waktu itu, lanjut Novi, mempunyai pemikiran yang moderat. ‘’Mereka selalu mencari titik temu antara ajaran lokal dengan ajaran yang hendak mereka sebarkan,’’ ujar santri Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo Jawa Timur ini.
“Dalam Al-Quran disebutkan, orang tua kalau memanggil dan memerintah, kita tidak boleh menolak dan harus menaati. Pun demikian dengan ajaran Tionghoa, bahwa kalau orang tua panggil, harus cepat menyahut, menaati, persis sekali ternyata,” kata dia.
Sehingga, tambah Novi, pada akhirnya Agama Islam dapat diterima dan berkembang hingga saat ini.
Dikutip dari wikipedia, pandangan-pandangan Novi tentang Cina mendapat beragam respons dari pelbagai kalangan. Leo Suryadinata, sinolog ternama dunia, menyebut pandangan Novi kontras sekali dengan generasi tua akademisi Indonesia didikan Barat.
Menurut Novi, tidak sedikit masyarakat Indonesia yang masih terbiasa menggunakan kacamata buatan Perang Dingin untuk melihat Tiongkok. ‘’Akibatnya apapun yang berbau Tiongkok atau Cina, selalu dipandang dengan tatapan mata curiga dan waspada,’’ ujar pria murah senyum ini.
Sebaliknya Novi berpendapat, jika hal itu terus-menerus melihat Tiongkok sebagai ancaman. Malah akan membuat Indonesia ketinggalan peluang yang dihamparka Tiongkok yang sedang maju pesat.
‘’Untuk itu sebagai generasi muda kita harus lebih terbuka wawasannya,’’ ujar pria dengan nama mandarin Wang Xiaoming ini.
Ke depan, menurut Novi, kita lebih baik mencari persamaan, bukan selalu mencari dan menuntut soal kontribusi. ‘’Kontribusi itu penting, tetapi lebih penting mencari persamaan daripada mencari perbedaan yang mungkin sedikit atau kecil lalu dibenturkan,’’ tukasnya.
Editor : Alfian Yusni