Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dampak El Nino, Anomali Cuaca Masih Berlanjut Hingga Maret

Redaksi Lombok Post • Rabu, 27 Desember 2023 | 22:21 WIB

TAK JAYA LAGI: DPRD mendorong pemerintah daerah dan para stakeholder untuk melakukan langkah kreatif dan inovatif dalam pembenahan wisata Senggigi. (HABIBUL ADNAN/LOMBOK POST)
TAK JAYA LAGI: DPRD mendorong pemerintah daerah dan para stakeholder untuk melakukan langkah kreatif dan inovatif dalam pembenahan wisata Senggigi. (HABIBUL ADNAN/LOMBOK POST)
LombokPost--Fenomena cuaca El Nino diperkirakan berakhir pada akhir Desember ini. Namun pakar meteorologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Edvin Aldrian menuturkan, anomali cuaca akibat El Nino bakal dirasakan lebih lama. Bahkan bisa sampai Maret tahun depan. 

Edvin mengatakan sampai saat ini fenomena cuaca El Nino masih terjadi. Fenomena cuaca ini muncul karena peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat dari biasanya. Dampaknya bagi Indonesia, munculnya kemarau panjang yang sangat kering. 

"El Nino dan El Nina puncaknya itu Desember akhir," katanya kemarin (26/12). Jadi dia mengatakan meskipun di sejumlah daerah sempat diguyur hujan lebat, tetapi hari berikutnya cukup kering. Kemudian juga terjadi mendung, namun cuaca cukup gerah. Di bagian Indonesia lainnya bahkan sudah ada yang terjadi kebanjiran. 

Menurut Edvin kondisi anomali cuaca saat ini merupakan imbas dari adanya fenomena El Nino. Lazimnya Desember sudah masuk musim hujan. Apalagi ketika masuk pergantian hujan, sebagian besar wilayah Indonesia masuk musim penghujan. Tetapi kenyataannya hujan masih rendah. Bahkan beberapa waktu lalu, sempat viral langit Pulau Jawa bersih tanpa ada lapisan awan. 

Dia mengatakan, adanya fenomena cuaca El Nino membuat puncak musim hujan jadi lebih lambat atau bergeser mundur. Biasanya Januari juga merupakan puncak musim hujan untuk sebagian wilayah Jawa. Namun bisa jadi bulan depan intensitas hujan tidak seperti biasanya.

Edvin memperkirakan akhir Maret nanti efek dari fenomena El Nino diharapkan benar-benar berakhir. Sehingga sudah tidak ada lagi anomali cuaca. "Hawa panas masih sangat terasa. Saat ini belum musim hujan. Kita masih berada di tengah musim kemarau yang memanjang," katanya. 

Edvin menjelaskan mundurnya musim hujan, membuat musim hujan semakin pendek durasinya. Sebab akan segera bertemu dengan musim kemarau.

Dia khawatir dengan singkatnya durasi musim hujan, curah hujan yang turun jauh lebih besar dibandingkan dengan biasanya. Dengan mempertimbangkan efek El Nino, dia mengatakan hujan kemungkinan mulai merata pada Januari sampai Februari nanti. 

Dia menuturkan anomali cuaca imbas dari fenomena El Nino itu, membuat daerah yang basah menjadi sangat basah. Bahkan memicu adanya banjir bandang seperti di Sumatera Barat. Sebaliknya wilayah yang kering, menjadi jauh lebih kering sehingga memicu krisis air bersih. 

Sebelumnya Edvin menyampaikan fenomena El Nino sejatinya juga membawa dampak positif. Diantaranya di sektor perikanan akan menguat seiring dengan mendinginnya laut. Pada kondisi ini, ikan akan berenang mendekati permukaan. Kemudian, industri garam akan mendapat manfaat dari sinar matahari dalam jangka waktu lama. Selain itu dampak positif El Nino adalah industri rumput laut akan mendapatkan keuntungan dari kondisi air laut yang dingin. 

Sektor transportasi darat dan laut akan mendapatkan manfaat dari kondisi bebas badai. “Beberapa komoditas pertanian seperti palawija, bawang merah, tembakau, dan hutan jati akan merasakan manfaat dari kondisi ini," jelasnya.

Sektor jasa konstruksi akan diuntungkan dengan meningkatnya kapasitas produksi, khususnya konstruksi gedung dan akan meningkatkan industri semen. Juga pada sektor pariwisata yang akan mendapat manfaat dari sinar matahari yang panjang. 

Merujuk data prakiraan hujan dasarian (10 harian) BMKG menyebutkan, untuk dasarian III Desember 2023 sebagian besar pulau Jawa memiliki intensitas hujan rendah. Khususnya di hampir seluruh wilayah Jawa Timur dan sebagian wilayah Jawa Tengah bagian timur. 

Kemudian untuk dasarian I Januari 2024 menyebutkan hampir seluruh wilayah pulau Jawa memiliki intensitas hujan sedang. Bahkan untuk Jawa Tengah bagian tengah dan sebagian Jawa Barat bagian timur, intensitas hujannya tinggi. Intensitas hujan sedang itu juga berlanjut pada dasarian II Januari 2024. (wan/jpg/r5) 

Editor : Redaksi Lombok Post
#anomali cuaca #musim hujan #el nino