Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Skrining Kesehatan Gratis Akan Jadi Kado Ultah,  IDI Siap Dukung Program-program Pemerintah

nur cahaya • Jumat, 8 November 2024 | 18:56 WIB

 

Budi Gunadi Sadikin   
Budi Gunadi Sadikin  

LombokPost-Pemerintah akan meluncurkan program skrining kesehatan gratis pada 2025. Layanan ini mirip kado karena diberikan pada warga yang berulang tahun. Tujuan akhirnya adalah deteksi dini dan mencegah penyakit.

“Skrining ini memang hadiah ulang tahun dari negara kepada masyarakat. Dilakukan setiap hari ulang tahun untuk memastikan kesehatan terpantau secara dini,” ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Rencananya, deteksi dini dilakukan sesuai dengan usia warga. Dengan cara itu, diharapkan bisa meningkatkan efektivitas deteksi dini dan meminimalkan risiko kematian serta kecacatan.

Skrining dikelompokan berdasar usia. Untuk balita, fokusnya pada deteksi penyakit bawaan lahir. Lalu, untuk remaja ada pemeriksaan obesitas, diabetes, dan kesehatan gigi. Sedangkan pada orang dewasa dilakukan deteksi dini penyakit kanker. Lalu, pemeriksaan alzheimer, osteoporosis, serta kesehatan umum akan menjangkau warga lansia.

“Skrining akan dilakukan di puskesmas dan sekolah-sekolah sesuai dengan kategori usia yang relevan,” katanya.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr Adib Khumaidi SpOT menyebut program tersebut sebagai hal yang maju. Menurut dia, layanan kesehatan tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

“Program ini dapat berkontribusi pada pencapaian target pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya terkait kesehatan dan kesejahteraan,” terangnya Kamis (7/11).

Untuk mendukung program itu, dia merekomendasikan beberapa hal yang perlu diperhatikan. Antara lain, ketersediaan tenaga medis yang kompeten dan peralatan yang memadai di fasilitas kesehatan. Tenaga medis perlu dilatih untuk meningkatkan keahlian deteksi dini. “Yang perlu diingat juga adalah koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam pelaksanaan program,” ucapnya.

Selanjutnya, Adib menyarankan adanya sosialisasi yang masif. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Dia mencontohkan Jepang yang sudah menerapkan pemeriksaan kesehatan bagi penduduknya. Di Jepang, hasil pemeriksaan tidak terstandar sehingga menghasilkan output pemeriksaan beragam. Selain itu,  kurangnya platform untuk menyimpan informasi riwayat kesehatan.

’IDI sebagai organisasi profesi dokter senantiasa siap menjadi mitra strategis  pemerintah dan berkolaborasi memastikan keberhasilan program ini untuk mewujudkan Indonesia yang sehat,” katanya.

Pada kesempatan berbeda, Founder Alzheimer’s Indonesia (ALZI) DY Suharya kemarin menyatakan bahwa langkah skrining untuk lansia ini patut diapreasi. Sebab, lansia merupakan bagian dari siklus kehidupan yang masih memiliki peran dan  “wisdom” di masyarakat. “Karena menjadi tua, bukan berarti tertinggal, atau ditinggalkan,” katanya.

Khusus demensia alzheimer, dia menyarankan skrining dimulai pada usia 50 tahun (pra-lansia). Meski belum memasuki usia lansia, tapi ada perubahan hormon menjelang lansia. “Kalau perempuan akan menopause, hormonnya tidak seimbang dan rawan depresi,” ucapnya.

Suharya menyarankan agar pemerintah memikirkan langkah setelah skrining. Dia meminta disiapkan ekosistem yang baik pascaskrining agar masyarakat tidak bingung apa yang harus dilakukan jika ketahuan ada penyakit. Penguatan kemitraan dengan komunitas, menurut dia, harus diperkuat dan dilibatkan sejak awal. Sebab,  komunitas ini bisa menjadi wadah bagi masyarakat yang terdiagnosa untuk bersosialisasi sekaligus menuntun dalam proses pengobatan. “Jangan sampai inisiatif yang luar biasa ini tidak dibarengi dengan persiapan yang solid,” ucapnya. (lyn/oni/JPG/r5)

Editor : Rury Anjas Andita
#penyakit #deteksi dini #Kesehatan #skrining